
...303...
"Kamu pernah mengatakan jika kamu putus sekolah bukan. Jadi aku dan Kak Dion meminta formulir beasiswa ini untukmu Kazuya. Sangat di sayangkan jika kamu tidak mendapat pendidikan yang seharusnya kamu dapatkan. Jadi ini peluangmu untuk bisa mengecam pendidikan lagi," jelas Raehan dengan menyakinkan.
Namun, sepertinya prediksi Raehan salah. Bukannya Kazuya bersorak bahagia tapi wajah pemuda itu terlihat sedih. Melihat wajah Raehan yang kecewa, Dion segera angkat bicara.
"Eh Kazuya, kamu ini gimana sih. Kamu seharusnya melompat-lompat karna senang!" sentak Dion sambil mendorong bahu Kazuya.
Namun, Kazuya malah menyodorkan kembali formulir tersebut pada Raehan. Bukan ia tidak senang, tapi rasanya in terlalu berlebihan. Ia sekolah di sekolah favorit di seluruh kota?
Tidak, itu sesuatu yang terlalu jauh untuk dia jangkau. Apalagi beasiswa yang ditawarkan Raehan adalah beasiswa prestasi.
"Kok di balikin?" tanya Raehan dengan nada kecewa.
"Ini terlalu berlebihan buat aku Rae. Melanjutkan pendidikan setelah putus itu terasa sangat berat untukku. Aku tidak pantas untuk mendapatkan ini. Terimakasih sudah banyak membantuku, tapi aku tidak bisa menerima hal ini," ujar Kazuya berharap Raehan bisa mengerti perasaannya.
"Kazuya kamu ini sama sekali tidak menghargai usahaku dan Raehan. Kami tahu kamu putus sekolah, tapi kamu berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Usiamu masih sangat muda Kazuya, kehidupanmu masih sangat panjang dan kamu membutuhkan pendidikan untuk hidup dengan terhormat," ujar Dion dengan nada suara tinggi. Ia sangat kesal dengan penolakan Kazuya.
Padahal Raehan sudah sangat bersemangat untuk membagi kabar ini dengan pria berwajah Jepang itu, tapi bukannya menerima. Kazuya malah menolak dan membuat Raehan sedih. Dirinya sama sekali tidak suka melihat wajah kecewa dan sedih di wajah gadis di sampingnya.
Raehan menganggukkan kepalanya dengan cepat, menyetujui perkataan Dion. Untuk kali ini ia satu pendapat dengan Dion. Raehan juga merasa kagum, ternyata Dion bisa bersikap sebijak itu.
"Kazuya ini adalah kesempatan emas untukmu. Jadi aku mohon jangan ditolak. Kamu jangan khawatir, aku akan mengajari dan membimbingmu. Aku yakin kamu bisa lolos tes ini. Jika kamu tidak percaya pada dirimu, setidaknya percayalah padaku Kazuya. Jika nanti kamu gagal, aku janji tidak akan memintamu untuk melanjutkan pendidikanmu," pinta Raehan dengan wajah memelas, berharap Kazuya merubah keputusannya.
Kazuya menghela nafas panjang, berpikir sejenak dan memilih keputusan apa yang akan ia ambil. Melihat wajah Raehan yang memohon dengan memelas sungguh membuat ia tidak tega.
"Baiklah aku akan mencobanya," ucap Kazuya menyetujui permintaan Raehan.
Raehan langsung berteriak histeris karna kesenangan mendengar keputusan Kazuya yang mau ikut tes beasiswa. Refleks Raehan segera menghambur hendak memeluk Kazuya karna saking senangnya. Namun, dengan cepat Dion langsung menyerobot ke depan Kazuya sehingga Raehan memeluk tubuhnya. Sementara Kazuya tejengkang ke belalang karna terhempas oleh tubuh Dion.
__ADS_1
Dion langsung memeluk tubuh Raehan, mengambil kesempatan yang hampir di dapatkan oleh pria lain. Ia mengelus puncak kepala Raehan.
Raehan yang menyadari jika ia salah memeluk orang, langsung mendorong tubuh Dion dan melepaskan diri. Namun sayang, Dion mempererat pelukannya pada tubuh Raehan sehingga pemberontakan Raehan tidak berguna sama sekali.
"Kak Dion apa-apaan sih asal nyosor!!!" teriak Raehan dengan suara melenggking memecahkan gendang telinga. Kazuya langsung menutup telinganya, takut jika indra pendengar miliknya menjadi tuli.
"Kamu tidak boleh memeluk pria lain," ucap Dion mutlak tak terbantahkan. Lebih baik ia menyerobot tempat Kazuya dari pada ia melihat Raehan memeluk pria lain dan membuat hatinya membara karna cemburu. Sementara Raehan hanya bisa memutar ke dua bola matanya kesal.
...----------------...
Tuan Levi membuka tiga kancing teratas kemejanya. Terlihat kerutan di dahinya semakin banyak, sedangkan wajahnya terlihat berpikir dengan keras.
Nyonya Marissa masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan dengan secangkir teh jahe. Ia sengaja membuatkan minuman ini untuk suaminya.
"Popsy, minum dulu teh jahenya biar pikirannya ngak kusut kek benang." Nyonya Marissa menghampiri Tuan Levi yang memilih duduk di pinggir ranjang.
"Popsy sekarang cerita sama Mom, ada apa?" tanya Nyonya Marissa dengan lembut, sembari tangannya menggengam tangan sang suami.
"Aku rasa kerja sama yang ku lakukan dengan Tuan Vinsion sama sekali tidak adil. Bagaimana bisa Tuan Vinsion meletakkan satu poin yang sangat memberatkan pihakku. Jika aku melakukan melanggar satu perjanjian, maka bisnisku harus ku serahkan padanya. Poin kesepakatan macam apa itu? Jika hanya membayar finalti aku tidak akan masalah tapi ini ... ck" Tuan Levi tidak bisa berkata-mata. Rasanya kepalanya ingin pecah sekarang.
Nyonya Marissa menepuk pelan bahu suaminya, menyalurkan kehangatan dan juga kekuatan. Nyonya Marisaa meraih berkas kesepakatan kerja sama yang ada di samping Tuan Levi. Ia mulai membuka dan membaca isi kesepakatan itu.
"Jika pihakku tidak setuju, Tuan Vinsion akan menarik investasi yang dia berikan. Aku tidak akan bisa mengembalikan modal yang dia investasi dalam waktu dekat. Karna, pabrik membutuhkan dana yang lebih banyak untuk memproduksi makanan yang telah di pesan." Lanjut Tuan Levi dengan nada frustasi.
"Jangan terlalu terbebani. Kamu bisa merundingkan hal ini dengan Kepala Desa serta Bendahara untuk mendapatkan keputusan yang tepat," ujar Nyonya Marissa memberi solusi yang saat ini terlintas di kepalanya. Bisnis suaminya bukanlah bisnis yang di bangun sendiri, tapi melibatkan seluruh penduduk desa.
Tuan Levi memandang wajah cantik istrinya. Beban pikiran yang saat ini menggunung terasa sedikit ringan ketika melihat wajah teduh sang istri.
"Aku akan merundingkannya. Namun, jika boleh jujur aku merasa kita tidak aman di kota ini." Wajah Tuan Levi terlihat sedikit takut. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan tiga langkah sehingga membelakangi Nyonya Marissa.
__ADS_1
"Maksudmu apa?" tanya Nyonya Marissa dengan wajah cemas.
"Aku merasa setiap gerak-gerik kita sedang di awasi olehnya. Aku merasa dia mengubah tujuannya pada Raehan. Aku tidak ingin putriku masuk dalam dunia kekerasan."
Wajah Nyonya Marissa semakin pias dan tanganya terlihat bergetar.
"Aku juga tidak mau itu terjadi. Akan tetapi, mereka hanya menginginkan anak laki-laki dan kita sudah mengantisipasi hal itu dengan mengirim Lion ke asrama yang sangat jauh. Tenanglah, aku yakin mereka tidak akan datang."
Tuan Levi menatap Nyonya Marissa dalam. Lalu memeluk tubuh wanita yang selalu menemaninya hingga detik ini.
"Andai saja, aku tidak terlahir dari keluarga itu, pasti kita tidak akan hidup dalam ketakutan. Ini semua karna masa laluku. Aku berharap masa laluku tidak menyeret buah cinta kita," ucap Tuan Levi dengan perasaan gelisah.
Tanpa ke duanya duga, jika pintu kamar mereka tidak tertutup dengan sempurna, menyisakan celah di mana terlihat dua buah mata coklat yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka.
...----------------...
...****************...
Haduh Jangan kerja sama si Vinsion pak Levi. Dia licik orangnya.
Jangan lupa
Like
Koment
gift
Vote
__ADS_1