Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Pakai otak mu


__ADS_3

...153 โฃ...


"Kak Dion tenang saja, aku akan mengikuti seleksi dengan benar dan serius... Aku bukan orang yang suka menghancur kan harapan orang lain... Meski kakak memaksa ku mengikuti seleksi ini, tanpa keinginan ku.. Aku akan tetap melakukan yang terbaik untuk tidak membuat kakak kecewa..." Ujar Raehan dengan sugesti menyakin kan di setiap kalimat nya.


Ini lah yang Dion ingin kan, ia tahu Raehan tidak seperti yang terlihat. Dia memiliki sejuta kejutan yang akan membuat semua penilain orang berubah.


"Apa perkataan mu bisa ku pegang...?" Ucap Dion serius, sembari manik mata nya menatap lekat pada ke dua mata coklat Raehan.


Mencari kebohongan pada ke dua mata Raehan, namun seperti nya yang ada hanyalah tekad yang kuat dan kejujuran.


Raehan beradu tatapan dengan Dion. Suasana di antara mereka terasa begitu serius.


Raehan juga tidak berbohong dengan apa yang ia kata kan. Ia akan melakukan apa yang di ingin kan Dion dengan bersungguh - sungguh meski sebagian dari hati nya tidak ingin melakukan hal tersebut.


Tapi diri nya sangat lembut, hingga ia juga tidak bisa membuat Dion yang sudah cukup banyak membantu nya merasa kecewa, meski pun terkadang pria tampan di hadapan nya sangat menyebal kan dan selalu mengganggu diri nya.


Dion sedikit salah tingkah dengan tatapan lekat Raehan yang menubruk mata nya.


Rasa nya saat ini jantung nya berdegup dengan sangat cepat, mengalah kan seorang atlet yang habis mengikuti lomba lari marathon.


Bahkan tanpa Dion sadari, wajah nya mulai memerah dengan oksigen yang semakin menipis di sekitar nya.


Dion segera membuang wajah nya ke sembarang arah, dada nya terlihat naik turun karna nafas yang tidak beraturan.


Hanya beberapa detik ia beradu tatap dengan Raehan, rasa nya seluruh tubuh nya meleleh menjadi jelly.


Dion berusaha mengontrol perasaan nya, jatuh cinta benar- benar membuat nya terlihat seperti pengecut.


Tapi, belum sempat Dion menetralisir perasaan yang sedang membuncah di dalam hati nya.


Wajah nya di tangkup oleh Raehan, bahkan Raehan menarik wajah Dion untuk memandang nya.


Blushhh...


Deg...


Deg...


Deg...


Jantung Dion semakin meronta berdetak dengan sangat keras, bahkan mengalah kan genderang perang yang di tabuh.


Tubuh nya membatu di tempat dengan nafas yang benar- benar berhenti.


"Kak Dion bisa pegang apa yang aku kata kan tadi... Aku akan berusaha melakukan yang terbaik..." Cicit Raehan menatap dalam wajah Dion yang memerah mengalah kan warna tomat matang.

__ADS_1


Ia sedikit bingung dengan perubahan kaku Dion, bahkan kini mulut pedas pria di hadapan nya benar- benar tidak bergerak.


Dion sudah seperti patung batu, bahkan berkedip pun tidak.


Raehan menarik ke dua tangan nya dari wajah Dion, mengulum senyum lalu beranjak pergi meninggal kan Dion yang masih diam membatu di tempat nya.


Seleksi tes tulis akan di mulai dalam dua menit lagi, jadi ia harus segera kembali dan masuk ke dalam ruang tes.


...----------------...


Ruangan yang di pakai kali ini adalah sebuah aula besar yang berada di lantai dasar.


Di mana deretan seratus kursi sudah berderet dengan rapi.


Ada dua puluh kursi pengawas yang di pasang di setiap sisi, untuk mengawasi keberlangsungan tes hari ini.


Raehan duduk di urutan ke sembilan puluh sembilan sesuai dengan urutan pendaftaran.


Meski ia tidak pernah mendaftar, tapi Dion dengan semau nya sudah memasuk kan nama nya pada nomer urutan tersebut.


Jadi tentu saja, kursi nya berada di barisan paling akhir.


Suasana ruangan ini sangat hening, bahkan langkah kaki peserta saja tidak boleh terdengar.


Beberapa kursi sudah mulai terisi dengan penuh, rasa gugup kembali menghantui Raehan.


Raehan mengedar kan pandangan nya, memperhatikan peserta yang masih membawa buku catatan mereka, bahkan masih sempat untuk mempelajari nya sebelun tes di mulai.


Sedang kan diri nya,? ia sama sekali tidak mempersiap kan apa pun. Belajar saja tidak apa lagi mempersiap kan buku catatan.


Apa tes ini begitu sulit, hingga semua peserta begitu sangat serius.?


Jika diri nya gagal melaju ke babak selanjut nya, maka ini bukan salah nya. Tapi kesalahan Dion yang tidak memberi tahu nya apa yang harus ia pelajari untuk menghadapi tes ini.


Raehan menghirup nafas nya dalam, lalu menghembus kan nya dengan perlahan. Hal itu ia lakukan untuk menghilang kan rasa gugup yang sedikit demi sedikit sedang menggerogoti diri nya.


Ia harus fokus.


Ia harus melakukan yang terbaik.


Harapan Dion bersama nya.


Apa pun hasil nya setidak nya ia sudah melakukan yang terbaik.


Batin Raehan, mensugesti diri nya untuk bisa menghadapi tes ini.

__ADS_1


"Ternyata kita bertemu lagi ya...!" Celetuk suara yang begitu familiar langsung mengaget kan Raehan.


Raehan menatap ke arah sumber suara, yang tak lain di depan kursi nya Kiara tengah tersenyum sambil mengedip kan mata nya pada Raehan.


"Hah... Kiara juga ikut... Astaga kenapa urutan kursi nya bisa persis berada di depan ku... hhhh..." Batin Raehan yang sedikit terganggu dengan kehadiran Kiara.


Karna pasal nya diri nya dan Kiara adalah musuh, garis bawahi kata musuh.


Meski ia dan Kiara teman satu kelas, tapi mereka tidak saling menyukai satu sama lain.


Bahkan Kiara juga bersekongkol dengan Lessia untuk mengerjai dan mencelakakan diri nya.


"Hmmm Raehan kita ini kan teman satu kelas, jadi bisa kan kita berbagi jawaban.. Kamu kan murid terpandai di kelas..." Cicit Kiara memasang wajah imut, yang rasa nya langsung membuat perut Raehan mual melihat nya.


Dasar tidak tahu malu, giliran sekarang saja sikapnya begitu manis, kemarin- kemarin bahkan dia juga ikut andil dalam mencelakakan diri nya.


Memang dasar gadis di hadapan nya adalah seorang penjilat.


"Kamu kan punya otak, bahkan kamu selalu mengatai ku bodoh dan semacam nya... Lalu mengapa sekarang kamu ingin berbagi jawaban dengan ku... ? Aku sangat bodoh Kiara jadi aku rasa kita tidak perlu berbagi jawaban apa pun.. Gunakan saja otak mu... Tuhan menciptakan nya untuk berpikir, bukan untuk menjilat orang lain..." Sinis Raehan menampil kan senyum ramah yang terkesan memusuhi.


Wajah imut Kiara yang dia pasang sebagai senjata untuk membuat Raehan luluh berubah menjadi pias.


Bahkan kata- kata Raehan langsung mencincang habis harga diri dan martabat nya.


Bahkan kini Raehan bisa melihat jelas, rahang Kiara yang mengeras, meski wajah nya ia buat sedatar mungkin.


...----------------...


...****************...


Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Terus pantangin cerita nya ya...


Like


koment.


Vote


gift.


Rak favorit.


Yuk dukung terus karya ini....!!!

__ADS_1


kalo ngak koment atau like atau kasi gift..


Kalian benar- benar kejam ama thor๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ???


__ADS_2