
...58...
Raehan mengusap wajah nya kasar, sesekali menggigiti ujung- ujung kuku nya karna cemas.
Diri nya masih berpikir dengan begitu keras, bagaimana cara atau apa solusi masalah yang sedang di hadapi nya.
Solusi tengah apa yang bisa menghilangkan kekhawatiran orang tua nya tanpa harus membongkar kebohongan nya yang sudah terlanjur sampai ke tahap ini.
Di satu sisi, diri nya ingin keluar dan membuka mulut nya lebar - lebar memberitahukan kebohongan nya dan membiar kan orang tua nya kembali ke desa tanpa kendala.
Tapi, apa yang harus ia kata kan jika orang tua nya menanyakan alasan apa yang membuat diri nya sampai berbohong.
"Aaarrrghhhh...." Geram Raehan, menjatuhkan keras kepala nya di atas kasur.
Semakin lama ia memikir kan hal ini, semakin terasa jenuh kepala kecil nya dan terasa segera ingin meledak.
Klek...
Suara knok pintu kamar terdengar di putar.
Raehan seketika gelapan dan panik, saat melihat daun pintu kamar nya yang siap di dorong.
Ia segera kembali ke posisi nya. Membaluti tubuh nya dengan selimut tebal yang di dekap nya erat- erat.
Mengatur sebisa mungkin ekspresi wajah nya, agar tidak terlihat cemas atau pun khawatir.
Dari balik pintu, muncul sosok yang begitu berbeda dari sosok sang Momsy, yang langsung berhasil membuat detak jantung Raehan berhenti seketika.
Mata nya membola dengan sempurna, di tambah dengan mulut yang mengangga hampir terlepas dari engsel nya.
Sekujur tubuh Raehan menjadi kaku, seperti baru mendapat kutukan menjadi patung batu.
Bahkan saat ini diri nya tidak bisa bernafas, seakan tercekat oleh sesuatu.
Tap...
Tap...
Tap...
Suara langkah kaki mendekat ke arah Raehan.
"Kenapa ekspresi mu seperti itu,? seperti melihat hantu di siang bolong..." Terka nya sambil menoleh kan kepala nya ke belakang.
"Kak Aga...!!" Teriak Raehan langsung histeris, bahkan kini melompat hingga berdiri.
"Ohhhh tidak... Seperti nya aku sudah gila. Bagaimana mungkin aku berhalusinasi ketika memikir kan masalah yang begitu rumit..." Batin Raehan menatap Agara masih dengan tidak percaya.
Bagaimana bisa Agara ada di rumah nya, bukan kah ini mustahil.
Agara mengerjit kan dahi nya, melihat respon Raehan saat melihat diri nya.
Apa ini tidak terlalu lebay ? Pikir Agara.
Raehan menyentuh bahu Agara dengan jari telunjuk nya menekan perlahan.
__ADS_1
Sedetik kemudian Raehan langsung membungkam mulut nya.
Jika tadi jantung nya berhenti berdetak, tapi kini jantung nya berdetak dua kali lebih cepat.
"Aduh.. Kok aku bisa menyentuh nya, Fiks aku mimpi ini... Peluk dia Rae, hanya dalam mimpi kau bisa memeluk pria idaman mu..." Pekik Raehan membatin dengan perasaan berbunga- bunga.
Raehan langsung menghambur memeluk tubuh Agar. Menikmati sensasi hangat, dengan jutaan kerinduan yang membuncah.
Tubuh Agara sedikit terjengkang ke belakang, saat tubuh Raehan membentur tubuh nya tiba- tiba.
Diri nya sangat terkejut dengan pelukan gadis sial yang tengah memeluk tubuh nya erat, ke dua mata merah nya membola dengan sempurna.
Tubuh nya seperti di paku di tempat.
"Tuhan begitu baik pada ku.. Dengan menghadir kan mu dalam mimpi ku, yang terasa begitu nyata.. Memeluk mu merasakan dekapan hangat mu.. Rasa nya aku memilih untuk tidak terbangun lagi dari mimpi ini..." Lirih Raehan hampir berbisik, mengira diri nya saat ini bermimpi karna keras nya ia berpikir .
Tapi, meski hanya sebuah mimpi. Ia begitu bahagia dan sangat senang.
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung Agara berpacu tiga kali jauh lebih cepat, seperti sebuah genderang yang di tabuh keras.
Hati nya menghangat dengan ucapan Raehan, yang berhasil merobohkan tembok yang selalu ia bangun dengan kokoh.
Ada rasa aneh yang menyeruak di setiap sudut hati nya, menggelitik perasaan nya yang selama ini hanya tahu apa arti kesepian.
Yang membuat diri nya membenci akan rasa sebuah cinta atau kasih sayang.
Agara mendorong tubuh mungil Raehan, hingga terhempas di atas kasur.
Sementara Raehan hanya terkejut dengan sifat kasar Agara.
"Apa dalam mimpi juga dia bersikap kasar pada ku.. Tidak bisakah tuhan menghilang kan sifat dingin nya.. Bukan kah ini mimpi, di mana keinginan mu bisa terwujud dengan mudah..." Umpat Raehan, kini memejam kan mata nya rapat. Meminta permohonan pada tuhan untuk mengabulkan keinginan nya.
Belum sempat usai diri nya meminta permohonan, ke dua pipi nya terasa di tarik kencang.
"Auuuu sakit....!!!" Teriak Raehan spontan membuka mata nya lebar , dengan ke dua tangan menangkup pipi nya.
"Bangun.. jangan mimpi terus ini bukan mimpi..!" Ketus Agara menatap Raehan tajam.
"Apa...!!!" Wajah Raehan langsung merah padam, lebih merah dari kepiting rebus.
Malu...
Diri nya sangat malu, di mana harga diri nya saat memeluk pria di depan nya. Yang di kira nya hanya mimpi ternyata bukan sama sekali.
Ingin rasa nya saat ini Raehan melipat wajah nya dan membuang nya jauh- jauh.
Raehan mengedar kan pandangan nya cepat, lalu meraih selimut yang tadi ia hempas kan. Menutupi seluruh tubuh nya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Bagaimana mungkin kak Aga bisa di sini... Momsy dan Popsy kemana. Dia selalu melarang teman pria ku masuk ke dalam kamar. Tapi kenapa sekarang dia mengizin kan kak Aga masuk.. Lalu untuk apa juga pria tampan ini datang kemari?. " Rutuk Raehan sembari memukul kecil kening nya.
__ADS_1
Agara tersenyum dengan smirk khas nya. Menampak kan katampanan yang semakin berlipat ganda dengan smirk yang ia tunjuk kan.
Entah mengapa sikap Raehan yang begitu alami tanpa di buat - buat berhasil mencetak nilai lucu di mata nya.
Tatapan Agara beralih pada makanan di atas meja nakas, yang langsung mengingat kan diri nya dengan apa tujuan nya datang kemari.
Agara meletak kan ransel nya di ujung ranjang. Kini ia duduk dengan tangan terulur menarik selimut yang menutupi tubuh Raehan.
Dengan kuat, Raehan menahan tarikan Agara.
"Sekarang apa lagi yang ingin dia lakukan... Ingin membuat ku semakin malu dengan kebodohan ku..." Batin Raehan membual kesal.
Agara kembali menarik selimut Raehan, kini dengan tenaga yang jauh lebih besar. Membuat tubuh Raehan terlihat jelas.
"Apa kau akan terus bersikap seperti anak kecil..." Jutek Agara yang langsung membuat Raehan mengurung kan niat nya untuk menarik kembali selimut nya.
Ucapan Agara terdengar tidak terbantahkan. Bahkan lebih menjenggel kan lagi, tubuh nya mematuhi setiap perintah Agara. Sementara otak nya ingin melakukan hal yang berlawanan.
"Duduk lah.. kau belum menyelesaikan sarapan mu.." Ujar Agara lagi dengan nada datar.
Ia mendekat ke arah Raehan, yang langsung membuat jantung Raehan kembali bekerja dua kali lipat lebih keras. Saat jarak diri nya dan Agara hanya beberapa sentimeter saja.
Deg...
Deg..
Deg...
...----------------...
...****************...
Hello semua maaaf ya baru hadir lagi๐
maklum ya lagi liburan lebaran...
satu eps dulu ya besok doble up untu penggemar Raehan dan Agara.
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
__ADS_1
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???