
...285💛...
Nyonya Marissa merasa sedikit sebal dengan tingkah suaminya. Ia memilih menggiring Tuan Levi untuk segera masuk ke dalam rumah, sebelum suaminya itu berubah menjadi singa.
Tidak ingin ketinggalan, Raehan juga melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah, tapi sayang tangannya langsung di tarik oleh Agara. Sehingga membuat langkahnya terhenti dan mundur ke belakang.
"Kita belum selesai bicara Rae!" ujar Agara mensejajarkan dirinya dengan Raehan, sehingga kini mereka saling berhadapan.
Raehan menatap kesal pada Agara. Karna ia harus selalu menahan hatinya agar tidak luluh saat berhadapan dengan Agara. Berhadapan dengan Agara seperti mendapat godaan yang sangat besar. Setiap melihat wajah tampan Agara yang menatapnya penuh cinta, rasanya ia ingin sekali memeluk pria itu dengan erat. Namun, luka hatinya masih belum kering. Bersamaan dengan cinta, lukanya juga terbuka dengan lebar.
"Apa lagi yang harus kita bicarakan? Semuanya sudah jelas dan tidak ada yang membingungkan. Sebaiknya kak Aga segera pulang. Karna aku sangat muak melihat wajah kak Aga. Wajahmu selalu menyakiti hatiku, jika ada sedikit rasa cinta di hatimu, maka pergilah dari sini!" sungut Raehan dengan sinis.
Agara terdiam sejenak, perkataan Raehan benar-benar menghujam ke dasar hatinya. Rasanya benar-benar sakit, tapi ia harus bertahan. Mungkin ini adalah karma karna dirinya sudah menyakiti Raehan. Bahkan di saat gadisnya dalam titik terlemah, bukannya menolong dirinya malah melakukan pertunangan itu tepat di depan mata Raehan.
"Rasa cintaku padamu, tidak hanya cuma sedikit. Tapi lebih besar dari rasa cintamu padaku. Aku berani bertaruh, jika cintaku padamu bahkan lebih dalam dari samudra. Hanya kamu gadis pertama yang berhasil mencuri seluruh hatiku, dan kamu juga akan menjadi gadis terakhir dalam hidupku," timpal Agara dengan bersungguh-sungguh. Menatap gadis di depannya begitu intens, tanpa di sadari tangannya tertarik untuk menyentuh pipi chuby Raehan.
"Jika begitu buktikan, tapi bagiku semuanya sudah terlambat." Raehan menghentakkan tangan Agara dengan keras, hingga cekalan di tangannya terlepas. Lalu segera berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Agara yang memandangi punggung Raehan dengan tatapan nanar penuh kesedihan.
"Bagimu, mungkin ini sudah terlambat. Tapi bagiku tidak Rae," gumam Agara menyugar rambutnya dengan kasar.
Ia memang harus melebarkan danau kesabaran di dalam dirinya. Sekarang ia merasakan, apa yang dulu dirasakan Raehan saat mengejarnya. Meski ia menghancurkan hati gadis itu berulang kali, Raehan masih tetap mengejarnya. Dan hal itu pula yang akan ia lakukan. Sampai kapanpun, ia tidak akan melepaskan Raehan. Janji Agara pada dirinya sendiri.
"Kakakku memang sangat keras kepala, saranku lebih baik kamu menyerah!" seru Lion yang ternyata masih berdiri di belakang mobil Agara, dan tentu saja ia mendengar semua obrolan ke dua sejoli yang tengah dilanda badai cinta itu.
Agara menoleh ke belakang, mendapati Lion yang menatapnya sinis. Anak laki-laki kecil itu benar-benar sangat membencinya. Karna bagi Lion, Agara adalah pria yang sudah mematahkan hati kakaknya yang menyebalkan. Yah, meskipun menyebalkan tapi tetap saja ia menyayangi Raehan.
"Lion, kamu tidak mengerti apa-apa. Dan kamu pun tidak akan bisa membuatku mundur dari tekadku."
__ADS_1
Lion menyeringgai penuh ejekan, mendengar tekad Agara yang sangat besar. Ia kagum dan merasa tertarik, mungkin dirinya hanya anak kecil di mata Agara. Tapi jangan kira, ia ini adalah anak dari Tuan Levi dan Marissa jadi tentu otaknya cerdas. Sebelas dua belaslah dengan Raehan.
"Tekadmu bagus, maka cobalah semampumu. Tapi yang bisa ku pastikan, menaklukkan seorang Raehan Angelina sangatlah tidak mudah. Aku ini adiknya, tentu aku tahu sifat kakakku. Sekali dia terluka maka butuh waktu yang sangat panjang untuk dia melupakannya. Mungkin kamu harus sedikit membahayakan nyawamu, agar kakakku itu sedikit simpati padamu," tukas Lion lalu berjalan melewati Agara begitu saja, masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Agara segera masuk ke dalam mobilnya, apa yang di katakan Lion, sama sekali tidak ia pedulikan. Baginya itu adalah kata-kata anak kecil yang tidak penting.
Mobil Agara melaju meninggalkan pekarangan rumah Raehan. Sedangkan di balik jendela, Raehan menutup tirai setelah melihat mobil Agara pergi.
"Apa yang kamu katakan pada Agara?" tanya Raehan saat mendengar langkah kaki yang hendak melewati dirinya.
Lion menghentikan langkahnya, lalu menatap ke arah Raehan yang ternyata sedang mengintip dari balik tirai.
"Tidak ada, aku hanya mengatakan. Untuk apa memperjuangkan gadis jelek sepertimu. Di luar sana banyak yang lebih cantik dan manis. Ha.. Ha..," ejek Lion tanpa dosa bahkan sambil tertawa.
"Ck, kau ini ...," decak Raehan yang sebal dengan adiknya yang sangat kurang ajar. Dari pada meladeni Lion, Raehan memilih langsung pergi. Karna ia merasa otak dan hatinya sedikit lelah. Lelah karna menerima kenyataan yang menyakitkan.
Brakk!
Raehan membanting pintu dengan keras. Telinganya terasa kebas karna mendengar cicitan adiknya. Jika saja Lion bukan adiknya, sudah ia pastikan anak itu akan lari terkencing-kencing karna mendapat cubitan dari tangannya.
Raehan langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Kamar barunya lumayan bagus, meski boneka-boneka kesayangannya belum di pindahkan dari kontrakan lamanya. Kamarnya yang sekarang jauh lebih luas, dengan jendela besar yang ada di samping tempat tidurnya.
Raehan menelentangkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar. Air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Rasanya melihat tatapan pedih Agara, membuat hati Raehan terguncang hebat.
Apa ia terlalu keras dengan Agara? Tidak, Agara sudah mengkhianati cintanya. Luka hatinya pun masih belum kering.
"Tidak, tidak. Aku tidak boleh lemah. Lebih baik sekarang aku fokus dengan pendidikanku. Tidak ada lagi cinta atau semacamnya. Kak Aga akan pergi ke Inggris bukan, itu adalah hal yang bagus. Aku akan terlepas darinya," gumam Raehan dengan menghapus sisa-sisa air matanya. Meski jauh di lubuk hatinya ia juga terluka dengan apa yang terjadi antara dirinya dengan Agara. Bermimpi menjalin hubungan asmara yang indah, malah berakhir dengan sangat buruk.
__ADS_1
Kring!
Kring!
Raehan meraih ponselnya yang berdering, lalu segera menekan tombol hijau, dan mendekatkan benda persegi itu di telinganya.
"Kamu sudah sampai rumah?" tanya Dion dari ujung telpon.
"Iya aku sudah sampai," jawab Raehan tak bersemangat.
"Agara tidak berbuat macam-macam padamu kan?"
"Hmm."
"Kamu tidak lupa dengan permintaanku sebelum kita pulang dari rumah sakit kan?"
"Iya aku masih ingat dengan jelas. Aku akan bersiap malam ini, kak Dion bisa menjemputku."
"Bagus, istirahatlah kamu pasti membutuhkannya."
Sambungan telpon terputus, Raehan meletakkan kembali ponselnya. Malam ini ia akan makan malam bersama dengan Dion. Dion memberikan syarat itu sebagai penerima maafnya. Raehan lagi-lagi harus menuruti dan menyanggupi keinginan Dion, meski hal itu bertentangan dengan keinginannya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa like koment gift dan vote ya.❤️
__ADS_1