Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Sangkallah semampumu.


__ADS_3

...296...


"Ha.. Ha.. terasa lucu bukan? Kamu ingin melindungiku dari orang lain yang ingin menyakitiku. Tapi kamu sendiri yang sudah menyakitiku, bahkan lebih menyakitkan dari apa yang dilakukan oleh Kiara. Aku masih bisa menahan perundungan ini. Tapi aku tidak bisa menerima pengkhianatan," sarkas Raehan yang langsung melenggang melewati Agara.


Hap!


Agara langsung mencegal pergelangan tangan Raehan. Sehingga membuat langkah Raehan terhenti seketika. Dengan sekali gerakan, Agara membalikkan tubuh Raehan hingga kini berhadapan kembali dengannya.


Raehan menatap kesal pada Agara, ke dua tatapannya menusuk tepat pada tatapan dingin dan datar Agara.


"Lepaskan, aku tidak butuh rasa iba dari orang sepertimu," sentak Raehan berusaha melepaskan cekalan tangan Agara pada pergelangan tangannya.


Perlahan tapi pasti, Agara semakin mendekatkan tubuhnya pada Raehan. Sehingga Raehan reflek memundurkan tubuhnya ke belakang.


"Sebesar inikah kebencian yang kudapatkan, dari rasa cintaku," ucap Agara menekan perkataannya, sembari tubuhnya terus mendekat. Sedangkan Raehan terus berjalan mundur hingga punggungnya membentur dinding. Pertanda jika kini ia tersudut.


Agara mengangkat tangannya, meletakkan ke dua tangannya pada masing-masing sisi Raehan. Mengungkung tubuh Raehan.


"Kamu bisa mengatakan apapun, tapi kamu tidak akan pernah bisa menolak kata hatimu. Dan hatimu menginginkan aku. Kamu bisa berkata pada seluruh dunia, jika cintamu telah mati untukku. Tapi aku Agara Vanderzee tidak akan melepaskanmu." ungkap Agara dengan tatapan mendominasi.


Akan tetapi bukan Raehan namanya, jika ia gentar dengan tatapan mendominasi Agara. Tatapan yang tak terbantahkan pemilik dua bola mata merah semerah darah.


Raehan tersenyum getir, sebelum tawa sumbang keluar dari mulutnya.


"Apa sekarang kamu baru menyadari jika seorang Raehan Angelina sangat istimewa? Tapi cinta tidak pernah bisa dipaksakan. Ketika hati sudah tersakiti, apalagi yang bisa diharapkan dari luka karna cinta yang terasa sangat menyakitkan. Kak Aga boleh berusaha, tapi aku tidak akan membiarkan hatiku jatuh lagi---"


"Sssstttt!" Agara meletakkan satu jarinya tepat di bibir Raehan. Membuat perkataan Raehan terpotong.


Agara menatap Raehan intens dan begitu dalam, perlahan Agara mengikis jarak antara wajahnya dengan Raehan. Bahkan kini keduanya bisa merasakan hembusan nafas satu sama lainnya.


Glek!


Raehan menelan salivanya paksa, kini wajah tampan Agara tepat berada di depan wajahnya.


"Oh tuhan, kamu menciptakan wajah yang begitu menggoda. Tapi kamu juga menciptakan hatiku, jadi aku mohon jangan membuat hatiku luluh lagi." batin Raehan meremas jahitan roknya dengan keras.

__ADS_1


Detak jantungnya berubah menjadi cepat, hal yang selalu terjadi saat ia berada terlalu dekat dengan Agara. Raehan mencoba menstabilkan perasaannya, mendorong dirinya untuk keluar dari kunkungan Agara. Tapi sialnya, tubuhnya tidak melakukan apapun. Tubuhnya malah melakukan hal yang sebaliknya dari apa yang diperintahkan oleh otak kecilnya.


Agara menempelkan dahinya dengan Raehan, membuat keduanya terpejam menikmati sensasi yang berbeda. Raehan bisa menghirup nafas mint Agara yang begitu menggetarkan jiwa.


"Hatimu adalah milikku, meski bibirmu mengatakan tidak lagi mencintaiku. Tapi, hatimu masih mencintaiku. Sangkallah semampumu, tapi aku yakin jika suatu hari kamu akan datang dan memelukku," lirih Agara menjauhkan wajahnya dari wajahnya Raehan.


Senyum tipis terukir di bibir Agara melihat Raehan yang masih terpejam, dengan wajah merona dan nafas berat.


Perlahan tapi pasti, Agara menurunkan tubuhnya kebawah dan dengan sekali gerakan ia mengangkat tubuh mungil Raehan, dan menyampirkannya di bahunya.


Sontak saja Raehan kaget bukan kepalang, dengan kelakuan Agara yang kini megggendongnya seperti memikul karung beras.


"Kak Aga apa yang kamu lakukan?" tanya Raehan yang tidak terima.


"Diamlah, kita harus mandi. Tubuhmu sangat bau," sahut Agara yang langsung membawa Raehan menuju ruang pribadinya. Tidak terlihat ekspresi keberatan di wajah Agara, karna baginya berat tubuh Raehan tidak terlalu berat.


"Turunkan aku!!" teriak Raehan sembari memukul punggung Agara, agar pria pemaksa ini mau menurunkan dirinya. Ia tidak mau semua murid melihat hal ini. Bisa-bisa ia di cap sebagai pelakor.


"Percuma kamu berteriak, aku tidak akan pernah menurunkanmu. Sebelum kamu kembali bersih aku tidak akan melepaskanmu."


"Jika aku tidak mau?"


"Aku akan terus memukulmu." Raehan melayangkan tinjuan-tinjuan ke punggung Agara, supaya Agara menurunkan dirinya. Tapi sepertinya usahanya sia-sia, Agara seperti tuli dan tidak mendengarkan perkataannya, sangat menyebalkan.


Tidak ingin menyerah begitu saja. Raehan memukul Agara dengan tenaga yang cukup keras.


"Auuuu," ringgis Agara kesakitan yang langsung membuat Raehan sedikit panik. Apa dirinya memukul terlalu keras? pikir Raehan merasa bersalah.


Agara tersenyum penuh kemenangan, saat punggungnya tidak merasakan lagi pukulan atau tinjauan dari Raehan. Sepertinya ringgisan kesakitannya tadi membuat Raehan menyerah dan tidak tega untuk memukulnya. Punggungnya sedikit memar, karna terkena lemparan batu saat melindungi Raehan.


Sementara Raehan memilih untuk pasrah dengan perbuatan Agara. Ia menundukkan kepalanya dalam saat melewati koridor sekolah yang cukup ramai.


Bisa ia rasakan jika kini semua mata tengah menatap ke arahnya. Bahkan Raehan bisa mendengar sayup-sayup suara bisikan dari pada murid.


"Lihat Agara mengendong Raehan!"

__ADS_1


"Ini bukan hanya sekedar sensasi bukan? Jadi mana yang benar? Agara adalah kekasih Raehan atau tunangan Lessia?"


"Aku rasa Raehan dan Agara memang sudah pacaran. Lihat bahkan Agara mengendong Raehan sambil tersenyum. Agara tidak pernah memperlakukan Lessia seperti itu. Sepertinya di sini yang menjadi pelakor bukan Raehan tapi Lessia."


Raehan memutar kedua bola matanya malas, mendengar opini-opini para murid yang baginya terlalu ikut campur dalam urusan orang lain.


Tapi setidaknya sekarang ada yang sadar, jika dirinya bukan perebut tunangan gadis lain.


Klek!


Agara membuka pintu ruangan pribadinya, membawa tubuh Raehan masuk begitu saja dan menutup pintu dengan kakinya.


"Turunkan aku!" bentak Raehan dengan wajah masam.


Agara menuruti perkataan Raehan, menurunkan tubuh Raehan dengan perlahan. Agara terkekeh geli, melihat wajah gadisnya yang terlihat masam mengalahkan asamnya buah asam.


"Sekarang mandilah!" titah Agara dengan menyabet handuk dan melemparkannya pada Raehan.


"Aku tidak mau!" tolak Raehan menatap Agara dengan kesal.


"Terserah padamu Rae, jika kamu tidak mau ya sudah. Maka nikmatlah bau busuk dari tubuhmu. Lagi pula jangan khawatir aku sudah menyiapkan seragam baru untukmu." Agara menunjuk ke arah ranjang King size, dimana terlihat dua seragam dengan model yang berbeda tergeletak dengan begitu rapi.


Raehan tidak menduga, jika ternyata Agara sudah menyiapkan seragam ganti untuknya. Bagaimana hatinya bisa bertahan dan tidak luluh, jika terus diperlakukan dengan seistimewa ini. Rasanya ia sangat senang, tapi juga hatinya masih terluka dengan pengkhianatan Agara.


Klep!


Agara menjetikkan jarinya di depan wajah Raehan, yang berhasil membuyarkan lamuan Raehan.


"Kenapa malah diam? Apa itu artinya kamu mau mandi bersama?" goda Agara, yang berhasil membuat wajah Raehan memerah malu.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa like koment gifr and vote ya❤️

__ADS_1


__ADS_2