Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Bagi tips donk!


__ADS_3

...344...


Drrt!


Drrrt!


Drrt!


Suara getaran ponsel membuat Raehan yang baru saja keluar dari kamar mandi, segera meraih benda pipih tersebut. Bibir Raehan mengulum senyum saat melihat nama kontak yang sedang menelponnya.


Sementara Miya yang sedang berguling di atas kasur hanya memperhatikan ekspresi wajah Raehan yang tersenyum senang. Bisa ia tebak jika panggilan telpon itu pasti dari Agara, sang pujaan hati sahabatnya.


Raehan melempar asal, handuk yang ia kenakan untuk melilit rambutnya yang basah karena ia baru saja selesai mandi. Lalu, mengangkat panggilan tersebut dengan hati berbunga-bunga.


"Selamat pagi!" seru Raehan duduk di depan meja rias.


"Selamat pagi, Sayang!" balas Agara dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kamu belum bangun?"


"Aku tidak bisa tidur sejak semalam karena dirimu tidak mau mengangkat telpon. Kamu sangat senang menyiksaku, Rae," oceh Agara dari seberang telpon, yang membuat Raehan tertawa ringan mendengar dumelan sang kekasih.


"Maaf, aku benar-benar sangat lelah dan mengantuk jadi aku tidak sempat memainkan ponsel."


"Hari ini aku akan ke rumahmu. Kita harus jalan-jalan hari ini. Aku ingin hanya ada kamu dan aku."


"Hmm, maaf aku tidak bisa."


"Apa? Tidak bisa?" Nada suara Agara terdengar terkejut.


"Iya, aku, Miya, dan juga Fir ingin ke rumah Dion."

__ADS_1


"Apa? Kamu tidak sedang bercanda, kan?" Nada suara Agara semakin meninggi.


"Tidak, aku ke sana karena harus menemui Kazuya. Aku suda berjanji untuk menjadi mentornya agar dia bisa lulus ujian beasiswa di sekolah kita."


"Dion kan bisa mengajarinya." Kini suara Agara terdengar kesal. Hal itu membuat Raehan merasa sedikit merasa bersalah. Akan tetapi, ia sudah berjanji pada Kazuya.


"Tapi aku yang suda berjanji."


"Aku tidak akan mengizinkan," putus Agara mutlak.


"Sayang, please jangan seperti ini. Aku tidak bisa mengingkari janjiku pasa Kazuya."


"Tapi aku tetap tidak suka, Rae. Aku mohon mengertilah perasaanku. Kamu selalu mementingkan perasaan orang lain. Sementara diriku? Hhh, sudahlah." Agara menutup panggilan dengan sepihak tanpa mendengar apa yang akan dikatakan oleh Raehan.


"Huhhhhhh." Raehan menghembuskan nafas panjang. Agara benar-benar sangat posesif padanya. Lihat, ia belum selesai bicara tapi pria itu sudah lansung memutuskan panggilan.


Ada rasa senang jika Agara begitu cemburu padanya. Namun, ada juga rasa kesal karena Agara tidak percaya jika ia hanya mencintai dirinya. Miya yang melihat wajah Raehan sedikit tertekuk, bangkit dan duduk di tepi ranjang.


"Kenapa wajahmu berubah? Tadi terlihat sangat senang saat di telpon sama ayang," ledek Miya dengan senyum miring.


"Kamu tidak boleh ingkar janji, Rae. Kamu akan membantu Kazuya lulus pada ujiannya," tekan Miya sedikit merasa kesal dengan Agara yang melarang Raehan pergi. Padahal, ia ingin memanfaatkan moment ini untuk mendekati Kazuya. Jika Raehan pergi ke rumah Dion, otomatis ia juga akan ikut dan melihat wajah blasteran Jepang Kazuya yang sangat memikat.


"Iya, kamu tenang saja. Aku tidak akan ingkar janji. Dari yang aku lihat-lihat, kamu selalu tersenyum saat kita membahas Kazuya. Apa kamu menyukai pria itu?" goda Raehan berbalik ke arah Miya. Di mana sahabatnya itu lansung menundukkan kepalanya terlihat salah tingkah.


"Apa terlihat sangat jelas?" pekik Miya dengan wajah bersemu merah. Raehan yang mendengar jawaban Miya melongo tidak percaya. Ia pikir Miya akan menyanggah perasaanya pada Kazuya. Akan tetapi, dugaaanya ternyata salah.


"Dia sangat tampan di mataku, Rae. Pokoknya, kamu harus bantu aku buat dapetin dia. Kasi tips donk gimana cara kamu buat Agara klepek-klepek sama kamu!" pinta Miya dengan wajah semringah. Gadis itu bahkan menghambur menggenggam tangan Raehan dengan erat.


Raehan merasa lucu melihat sahabatnya yang sedang jatuh cinta. Wajah Miya terlihat seperti ikan yang sedang sekarat di daratan. Sangat menggemaskan dan lucu.


"Tipsnya gampang, kamu tinggal pepetin terus aja si Kazuya, pasti dia demen tuh di tempelin terus," sela Fir dari ambang pintu kamar.

__ADS_1


"Hmm, ide yang bagus. Ah, tapi aku ngak mau tips dari kamu. Maaf ya, aku ngak mau nasibku sama kayak kamu. Lansung di semprot habis-habisan sama Jesi," cela Miya dengan memasang tampang jelek.


"Ihhh, itu mah bukan salah aku. Kamu tahu aja, judesnya si Jessi minta ampun. Kalah pedesnya cabe rawit sama dia," ujar Fir membela diri. Tentu saja, ia tidak mau harga dirinya di koyak habis oleh Miya tentang masalah perempuan.


"Udah, kalian udah pada siapkan? Ya udah kita jalan sekarang aja. Setelah ngajarin Kazuya aku mau cepet pulang ke rumah," ucap Raehan menyela perdebatan antara Miya dan Fir.


"Yes, aku bakal buat Kazuya jatuh hati sama aku. Fir, mending kamu cepetan cari gebetan. Soalnya aku udah mau ngelepas masa jomblo aku nih," ledek Miya dengan wajah menyebalkan, yang hanya ditanggapi dengan wajah cemberut dari Fir.


...----------------...


Di lain sisi, Agara tengah merasa kesal dengan tangan yang meremas ponsel. Ia menyalakan benda pipih tersebut tapi Raehan sama sekali tidak menelpon balik dirinya.


"Apa gadis itu tidak tahu jika aku sedang merasa kesal? Seharusnya dia membujukku tapi dia malah bersikap acuh," oceh Agara dengan meremas rambutnya sendiri.


Ia sengaja marah pada Raehan agar gadis itu membujuk dirinya, dan membatalkan niatnya untuk pergi ke rumah Dion. Namun, sepertinya ia salah. Raehan tidak membujuk dirinya. Hal itu sontak membuat Agara merasa cemas sendiri, membayangkan Raehan yang pergi ke rumah Dion. Pasti Dion akan memanfaatkan kondisi dan mendekati Raehan.


Agara segera menggelengkan kepalanya cepat. Rasanya, darah dalam dirinya lansung mendidih hanya dengan membayangkan hal itu. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia tidak akan memberikan kesempatan pada Dion untuk mendekati Raehan.


"Tidak, tidak. Aku tidak bisa diam di sini dan membiarkan Raehan berada di rumah Dion. Aku tidak akan membiarkan Dion memanfaatkan hal ini," gumam Agara dengan meraih baju asal dan memakainya. Ia mengambil kunci motor dengan cepat. Lalu, segera berlari keluar dari apartemen.


Ia akan menyusul Raehan menuju rumah Dion. Meskipun tidak di undang atau kehadirannya tidak diharapkan. Ia tidak mau kecolongan lagi, ia tidak ingin Raehan jatuh dalam pesona Dion karena jika hal itu sampai terjadi dunianya pasti akan hancur. Kebahagian dirinya adalah Raehan, gadis itu sudah seperti nafas sejuk yang membuat ia bertahan hidup dan memiliki sebuah alasan untuk menjalani takdir. Ia tidak akan pernah bisa kehilangan Raehan.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa like


koment


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2