
...319...
Malam akhirnya tiba. Sang surya telah masuk kedalam persembunyiannya, menyembunyikan sinarnya yang menyinari seluruh bumi.
Hembusan angin malam yang menusuk kulit, serta suara serangga malam yang terdengar begitu nyaring. Tidak menghentikan aktifitas para peserta dari Milver High School.
Saat ini, mereka sedang bersama-sama saling bahu-membahu untuk membangun tenda yang akan menjadi tempat bermalam mereka.
Sekolah menyediakan 60 tenda untuk keseratus peserta, 20 tenda untuk Anggota Osis, dan 10 tenda untuk Dewan guru.
Masing-masing ke-60 tenda akan di isi oleh dua orang peserta. Anggota Osis akan membagi para peserta setelah semua tenda selesai di bangun.
Para penyelenggara acara memutuskan untuk membangun tenda di dekat ladang teh, di mana tanah yang mereka tempati sekarang lebih tinggi dari ladang teh yang berada di depan mereka. Sehingga esok ketika matahari terbit, mereka bisa melihat keindahan Sunrise yang ditawarkan. Tempat mereka sekarang adalah tempat yang paling strategis. Dari tempat ini, bahkan mereka juga bisa melihat pemandangan desa yang begitu indah, di mana lampu-lampu para penduduk desa terlihat seperti kunang-kunang.
Akan tetapi, di sebelah bagian kanan tempat ini ada hutan yang cukup lebat, tapi tidak berbahaya. Jaraknya hanya 10 meter dari tempat pembangunan tenda. Hutan tersebut memang tidak memiliki binatang buas. Akan tetapi sedikit lebat.
Raehan yang sedang membantu beberapa orang yang sedang mendirikan tenda seketika terdiam terpaku, saat melihat pemandangan desa yang membuat dirinya rindu akan tempat kelahiran dirinya, Desa Angsoyan. Desa yang menjadi saksi tumbuh kembangnya, serta kenakalan dirinya. Sehingga ia sering dimarahi oleh warga desa.
Tanpa sadar Raehan tersenyum dengan kedua mata berkaca-kaca. Dari belakang Agara menyampirkan jaketnya pada Raehan, yang langsung membuat lamunan Raehan buyar.
"Cie, yang di pasangin jaket,"
"Cuuiiiittt ... Cuiitt ...."
"Pengen jadi Raehan, biar bisa dijaketin sama Agara," goda beberapa murid yang melihat keromantisan Antara Raehan dan Agara.
Wajah Raehan seketika memerah menahan malu. Ulah Agara berhasil membuat dirinya salah tingkah dan menjadi kaku.
"Kamu pasti merindukan desamu?" tebak Agara dengan berdiri di samping Raehan. Di mana tatapannya kini memandang pemandangan yang menyejukkan mata.
"Apa kau seorang cenayang yang bisa membaca pikiran seseorang?" balas Raehan dengan sebuah pertanyaan absurd yang langsung membuat Agara tertawa ringan.
"Bukan, pikiranmu terlalu melantur. Bagaimana bisa ada cenayang setampan diriku. Cenayang itu adalah orang tua dengan kulit keriput."
__ADS_1
"Jika bukan cenayang, berarti kau memiliki indra keenam."
Tawa Agara semakin pecah mendengar ucapan Raehan.
"Tidak, aku juga tidak memiliki indra keenam dan semacamnya. Aku hanya memiliki hati yang bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Dengan kata lain hatiku terikat padamu."
"Hah, gombal. Sayangnya aku sama sekali tidak terpengaruh dengan perkataanmu itu," bohong Raehan. Sebenarnya saat ini, jantungnya sedang berdegup sangat kencang, seperti musik club yang tengah berdentum denga keras.
"Benarkah? Tapi aku bisa mendengar suara detakan jantungmu yang sedang berdetak dua kali lebih cepat."
Skakmat!
Mulut Raehan langsung bungkam, di mana kedua matanya melebar dengan sempurna bersamaan dengan wajahnya yang memerah karena malu.
Astaga, sepertinya Kak Aga memang cenayang. Bahkan dia bisa mendengar detak jantungku yang berdetak kecang. Dasar jantung sialan, bisakah kamu tidak terpengaruh dengan kehadiran pria tampan ini? Umpat Raehan dalam hati, merutuki jantungnya sendiri.
Agara menggigit bibir bawahnya, menahan tawanya yang hampir meledak karena melihat wajah Raehan yang berubah merah karena malu. Meski pencahayaan malam ini sangat minim. Namun, Agara masih bisa melihat wajah memerah Raehan dengan jelas.
"Tetap pakai jaketku, agar kamu tidak kedinginan," ucap Agara lagi dengan mengusap lembut puncak kepala Raehan. Lalu, melenggang pergi dengan senyum mengembang dengan sempurna.
Raehan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan saat Agara sudah benar-benar meninggalkan dirinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Menepis rasa malu yang membuat tubuhnya memanas.
Raehan melirik ke arah bahunya, di mana jaket Agara menyampir di pundaknya. Aroma dan bau parfum Agara di jaket tersebut membuat Raehan kegirangan bukan main.
Agara benar-benar sangat romantis dan manis, ingin sekali rasanya ia memeluk Agara dan menatap langit malam dengan pernyataan-pernyataan romantis yang menggetarkan jiwa.
"Rae!" teriak salah satu peserta yang langsung membuat khayalan indah Raehan langsung hancur dan kembali pada realita yang sesungguhnya.
"A--apa?" jawab Raehan dengan terbata-bata.
"Jangan berdiri mulu di sana. Kamu bisa jadi santapan nyamuk. Tuh, dari tadi kita dipanggil buat kumpul," jelas peserta tersebut lalu segera berjalan lebih dulu menuju tempat berkumpul.
"Dasar bodoh," rutuk Raehan sembari menepuk jidatnya. Ia segera berlari menuju tempat berkumpul. Panggilan dengan toa segitu besarnya sama sekali tidak ia dengar. Sungguh, telinganya tuli karena membayangkan moment romantis bersama Agara.
__ADS_1
Para Anggota Osis sibuk mengatur para peserta untuk duduk secara berbaris dengan rapi karena saat ini saatnya untuk makan malam. Setiap dua Anggota Osis mengatur dua puluh peserta.
Begitupula dengan Dion yang sejak tadi sibuk mengurus peserta bagiannya. Sehingga ia kehilangan banyak waktu untuk berdua dengan Raehan.
Raehan masuk pada kelompok peserta yang sedang di atur oleh Anet. Namun, Anet segera mengatakan pada Raehan jika peserta di bawah pengawasannya sudah penuh. Sehingga Anet meminta Raehan untuk bergabung dengan peserta di bawah pengawasan Dion.
Dion menghitung peserta yang ada di bawah pengawasannya. Akan tetapi, hitungannya berhenti pada angka sembilan belas.
"Di mana peserta yang satunya lagi!" teriak Dion dengan kesal karena para peserta bergerak dengan sangat lambat.
"Aku di sini," ucap Raehan dengan nafas terenggah-enggah.
"Kamu bergerak dengan sangat lamban!" hardik Dion, yang langsung membuat Raeha melotot.
"Hei, jangan asal menyalahkan. Aku sudah berkeliling untuk mencari kelompok yang belum cukup tapi sayangnya aku harus berakhir di kelompok yang diawasi singa kelaparan," balas Raehan dengan nada tinggi. Tentu saja, ia tidak terima dibentak dan disalahkan seperti itu. Dia saja sampai terenggah-enggah untuk mencari kelompok ini.
"Lain kali kalau mendengar panggilan untuk berkumpul langsung cepat. Jangan malah diam seperti patung," sindir Dion yang sebenarnya merasa kesal melihat jaket Agara yang menyampir di bahu Raehan.
Raehan memilih untuk segera duduk sesuai dengan barisan. Daripada meladeni Dion yang marah-marah tidak jelas padanya. Padahal ia hanya telat sedikit, malah menjadi bulan-bulanan pria menyebalkan itu.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
__ADS_1
tips