Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Salon.


__ADS_3

...83...


Mobil mewah Dion berhenti di sebuah salon di tengah kota. Sejak mereka pergi dari sekolah, gadis di samping nya hanya diam tanpa suara.


Seakan Dion merasa jika Raehan yang di samping nya bukan lah Raehan.


Biasa nya gadis kecil ini, selalu berbicara tanpa henti dengan mode cerewet nya.


Tapi sejak tadi Raehan hanya diam. Dion sudah melayang kan beberapa pertanyaan tapi gadis di samping nya hanya menjawab seada nya.


"Kita sudah sampai..." Celetuk Dion, sembari memandang Raehan.


Tapi tidak ada respon dari gadis di samping nya. Dion membuka selftbeet lalu mendekat kan diri nya ke arah Raehan.


Tatapan Dion menjadi lembut, saat melihat mata indah Raehan sedang tertutup rapat.


"Dia tidur... Wajah nya benar- benar tenang.. Hmmm apa aku harus benar- benar menyerah untuk mengejar mu? Tapi bahkan aku belum memulai hal itu. Apa aku tidak semenarik manusia es itu.. Aku juga bisa membuat mu bahagia bahkan lebih dari Agara. Tapi kau malah memilih nya... Hmmmm..." Lirih Dion sembari memainkan rambut Raehan.


Dion membuka kan selftbeet Raehan, lalu mengambil kotak p3k di dalam dashboard mobil.


Dengan perlahan dan lembut, Dion mengoles kan obat pada luka di pelipis Raehan.


Gerakan Dion begitu lembut, seakan dia tidak ingin melakukan nya dengan tenaga dan menghancur kan manusia rapuh di hadapan nya.


"Ssshhhhhh......" Tiba- Tiba Raehan meringgis kesakitan, saat merasakan pelipis nya perih.


Blushh...


Wajah Raehan seketika memerah, persis seperti kepiting rebus.


Bagaimana tidak, saat membuka mata di hadapan nya wajah Dion begitu dekat dengan wajah nya.


Hanya beberapa centimeter dari wajah nya.


"Kamu sudah bangun?"


Raehan langsung memejam kan mata nya kembali, saat hembusan nafas Dion menyapu wajah nya.


Ia benar- benar merinding kali ini.


Dion segera menjauh kan wajah nya , saat menyadari ekspresi Raehan.


Terlihat diri nya sedikit gugup dengan detakan jantung yang bertalu cepat.


"Hmmm... Aku hanya ingin mengobati luka mu..." Cicit Dion melempar sisa kapas asal.

__ADS_1


"Aku sedikit bingung , dan juga tidak mengerti.. Kenapa harus kak Dion yang selalu ada di saat aku terluka atau mendapat masalah... Yah,, Meski dia juga sumber nya..." Batin Raehan dengan menatap Dion lekat.


Dion semakin salah tingkah saat menyadari Raehan memandang nya.


"Ayo turun kita sudah sampai..." Dion langsung melesat keluar dari mobil dan mendekat ke arah pintu mobil lain nya.


Dion membukakan pintu untuk Raehan. Raehan langsung turun dengan kening mengerjit saat melihat sekarang mereka ada di depan sebuah salon.


"Salon??" Gumam Raehan mengedar kan pandangan nya.


"Tentu saja, kita harus memperbaiki rambut mu yang rusak ini... Tidak mungkin kan membiar kan nya seperti ini..."


"Apa rambut ku akan di potong?? Lebih baik kak Dion mengantar ku pulang saja.. Aku bisa mengurus nya di rumah.. Aku tidak ingin rambut ku di potong jika tidak Popsy akan marah pada ku..." Ucap Raehan sambil menarik lengan Dion untuk masuk ke mobil.


"Jangan membantah...!! Jika kau tidak ingin rambut mu tambah rusak. Lebih baik kau turuti perkataan ku.. Untuk masalah Popsy mu jangan khawatir, ketika dia datang mengunjungi mu pasti rambut mu sudah tumbuh kembali..." Bujuk Dion.


Raehan berpikir sejenak sebelum menyetujui perkataan Dion.


Mengingat rambut nya yang rusak tentu apa yang di katakan Dion memang benar. Jika di biar kan seperti ini terus, rambut nya pasti gimbal dan berantakan.


Raehan dan Dion berjalan masuk ke dalam salon, yang langsung di sambut oleh dua orang pekerja laki- laki tapi bertingkah lemah gemulai.


"Selamat datang tuan muda... Astaga kali ini diri mu tidak datang sendiri ya... Tapi membawa gadis kecil..." Ujar salah satu dari pria pekerja tersebut yang terlihat jika dialah manager di salon ini.


Sedang kan Dion hanya memasang wajah datar seperti biasa yang membuat sang pekerja mencebik kan bibir nya.


"Apa kali ini tuan muda ingin melakukan perawatan ?" Tanya nya lagi dengan tingkah genit yang sama.


"Tidak... Tapi perbaiki rambut gadis ku... Buat dia tampil cantik..." Titah Dion mutlak.


Raehan langsung melebar kan mata nya tidak percaya dengan kalimat yang di katakan Dion.


Bukan pada kalimat cantik. Tapi pada kata gadis ku. Ia tidak salah dengar kan atau telinga nya juga ikut bermasalah karna rambut nya yang rusak.?


"Hmmm... Rambut nya benar- benar jelek.. Hei gadis kecil apa kau tidak pernah merawat rambut mu...??" Ucap sang pekerja dengan sinis.


Hei ayolah , bahkan ia merawat rambut nya seperti emas. Tapi entah kenapa barang terkutuk itu menempel di rambut nya. Dan Raehan yakin ini bukan ketidaksengajaan tapi ini adalah sebuah rencana licik yang di tujukan kepada nya.


"Jangan banyak bicara... !! Cepat lakukan tugas mu jika kamu tidak ingin tubuh buntal mu itu aku jadikan bola pingpong..." Sarkas Dion cepat dengan wajah mengancam.


Sang pekerja langsung menggigil ketakutan mendengar ancaman Dion.


Ia langsung menarik tangan Raehan masuk ke dalam sebuah ruangan yang penuh dengan perabotan kecantikan.


Tubuh Raehan langsung di tekan untuk duduk di kursi depan cermin.

__ADS_1


"Bisa kah rambut ku tidak di potong?" Tanya Raehan ragu- ragu.


"Aduuhhh deh gadis kecil... Rambut jelek mu ini sangat jelek.. Jika tidak di potong mau di apakan lagi.. Serah kan semua nya pada ku. Aku akan membuat mu tidak mengenali diri mu sendiri."


"Hah maksud mu apa dengan itu? kamu jangan macam- macam..." Ujar Raehan panik sambil mendongak ke arah pekerja tersebut yang sudah memegang gunting di tangan nya.


"Hhhhh... Jangan meremehkan aku.. Aku ini pekerja profesional jangan menatap ku dengan wajah hantu mu itu... Diam dan nikmati saja..." Balas sang pekerja dengan sinis.


Raehan mendengus kesal , saat wajah nya di katai hantu. Padahal nyata nya wajah nya lebih cantik dari wajah om banci di belakang nya.


"Oh.. Iya mantra apa yang kamu gunakan untuk memikat tuan muda. ?" Tanya sang pekerja lagi dengan nada mengejek.


"Maksud mu apa? mantra apa? aku tidak menggunakan hal- hal seperti itu.."


"Benar kah? aku masih tidak percaya jika pemilik salon menyukai gadis kecil dengan tubuh datar seperti papan cucian."


"Hah..??" Raehan melebar kan mulut nya, mendengar ucapan dari pekerja ini.


Harga diri nya tentu saja terluka, apa perlu pria ini mengatakan kekurangan nya dengan nada menggebu- gebu seperti itu.


Diri nya tahu jika tubuh nya tidak memiliki tonjolan besar untuk menarik para pria.


Tapi bukan nya semua pria tidak selalu sama. Ada juga yang menerima mu apa ada nya meski tubuh mu seperti lidi kering.


"Hhhh.. Aku tahu itu.. tapi setidak nya aku lebih baik dari mu om banci karna tonjolan ku asli semua meski ya kecil.. Tapi kau ? apa itu asli atau balon udara yang sengaja kamu letak kan di dada dan bagian bokong..." Rutuk Raehan memasang wajah jelek.


...----------------...


...****************...


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙

__ADS_1


__ADS_2