
...117❣...
Bruk...
Punggung Lessia terasa sakit saat tulang punggung cantik nya membentur tembok dengan keras.
Namun kini yang lebih parah nya, ia tidak bisa bernafas karna cekikan dari tangan mungil Raehan yang menempel dengan kuat di leher jenjang dan putih Lessia.
"H. Hmmm huh... Hmmm..." Nafas Lessia semakin tak teratur, dengan pasokan oksigen yang terus menipis dalam paru- paru nya.
Sungguh diri nya tidak mengira, jika gadis kecil ini menyerang nya dengan sangat brutal bahkan kini ingin membunuh diri nya.
Wajah Lessia semakin memerah, rasanya tubuh nya terasa lemas karna pasokan oksigen yang tak kunjung diri nya hirup.
Tangan nya sejak tadi, memukul bahkan dengan susah payah berusaha menyingkir kan tangan Raehan dari leher nya
Namun entah terbuat dari apa tangan gadis boncel ini, bukan nya terlepas cekikan di leher nya semakin erat ketika Lessia mencoba mencubit mencakar tangan Raehan.
Sementara itu, Miya menganga menyaksi kan apa yang ia lihat kini.
Benar- benar di luar dugaan nya. Ia seperti melihat adegan pembunuhan yang sering terjadi dalam sebuah film, adegan sang pembunuh mencekik korban nya hingga mati.
Ia juga tidak mengira jika marah, Raehan begitu mengerikan, terlihat seperti iblis betina. Ralat bukan iblis betina tapi monster kecil yang tak kenal ampun.
"Aku masih bersabar dan tidak melawan karna kamu menyakiti ku.. Tapi aku tidak akan membiar kan mu berbuat semena- mena pada sahabat ku atau orang di sekitar ku. Kamu selalu meremeh kan ku kan?" Raehan menjeda kalimat nya.
"Selalu memanggil ku gadis boncel atau pendek... Sebenar nya apa urusan mu?. Tuhan saja tidak keberatan dengan ukuran tubuh ku. Lalu kamu? Cih gadis seperti mu memang harus di beri pelajaran. Ini adalah tentang kita jangan coba- coba menjadi pengecut dengan melukai atau menyakiti orang- orang di sekitar ku.. Atau aku tidak segan untuk membuat mu menghilang.. Bukan hanya dari sekolah ini bahkan aku bisa membuat mu menghilang dari dunia ini. Aku sama sekali tidak keberatan, harus di penjara karna kasus membunuh seorang model. Karna gadis sok berkuasa seperti memang pantas untuk di lenyap kan..."
Raehan melepas cekikan nya dari leher Lessia.
Tubuh Lessia langsung merosot jatuh ke lantai. Ke dua kaki nya terasa lemas dan gemetar, bahkan tak bisa menyangga bobot tubuh nya.
"Uhuk... Uhuk..." Tenggorokan nya benar- benar terasa panas.
Sementara hidung nya terus menghisap oksigen dengan rakus, untuk bisa memasok oksigen yang hampir habis di paru- paru nya.
"Sial... Gadis boncel ini ternyata sangat mengerikan.. Aku hampir menemui malakait maut karna diri nya..." Batin Lessia kini dengan ke dua mata berkaca- kaca.
Lessia mengangkat wajah nya menatap Raehan yang berdiri dengan mata menyalang, seakan siap untuk menuntas kan tugas nya merenggut jiwa Lessia.
Rasa takut tiba- tiba menjalar menghantui Lessia. Di hadapan nya kini bukan lah gadis kecil lemah yang selama ini ia pikir kan.
Namun di hadapan nya ternyata gadis kecil kejam tanpa hati. Bahkan tidak segan untuk membuat nyawa nya melayang.
Namun yang paling ia sesali kini, posisi nya yang seperti berlutut di hadapan Raehan.
__ADS_1
Harga diri nya terkoyak, dengan kesumat dendam yang kembali menumpuk dan membara, lebih besar dari rasa takut yang sudah Raehan berikan.
Suatu hari nanti, semua ini akan Lessia balas. Dan saat itu Raehan akan mencium kaki nya. Memohon dan memelas.
Raehan memejam kan mata nya, saat hembusan angin dingin menerpa kulit putih nya.
Ke dua mata nya terbuka, tidak ada sosok menakut kan yang baru saja nampak dari dalam dirinya.
Menyesal.
Itu lah satu kata saat ini yang ada dalam pikiran nya. Apa yang sudah ia perbuat hingga diri nya lepas kendali.
Tapi ia tidak bisa melihat Lessia menyakiti Miya dengan begitu ganas, hingga emosi nya meluap yang langsung meledak dengan kekalahan telak pada Lessia.
"Aku harap ini menjadi yang terakhir Lessia.. Aku tidak ingin menyakiti mu, tapi jika kamu menyakiti orang- orang di dekat ku aku tidak tahu apa yang akan menimpa mu... Jika akar semua nya adalah karna kak Aga. Mari bersaing secara sehat, jika kamu keluar menjadi pemenang nya. Maka aku akan pergi dan membiar kan kalian bersama. Begitu pula sebalik nya, jika aku keluar menjadi pemenang. Kamu harus pergi dan tidak menganggu kak Aga lagi..." Raehan berbalik meninggal kan Lessia yang menatap punggung nya dengan penuh benci.
Raehan mendekati Miya yang masih menjadi patung di tempat dengan bibir terbuka.
"Ayo pergi..." Lagi - lagi tubuh Miya tertarik begitu saja mengikuti kemana arah kaki Raehan melangkah.
Usai bayangan Raehan dan Miya tidak terlihat lagi oleh Lessia.
Ia mengumpulkan kekuatan nya yang tersisa, mengusap air mata yang sempat menetes di pipi nya. Mengusap leher nya yang masih tersambung dengan tubuh nya.
Lalu bangkit dengan perlahan, meski ke dua kaki nya masih terasa lemas.
...----------------...
Lapangan basket.
Fir terlihat menggigiti kuku - kuku jari nya, karna sudah bosan menunggu selama sepuluh menit.
Namun setelah waktu yang terasa berpuluh- puluh abada, dua gadis yang membuat nya menunggu di sini tidak kunjung datang.
Namun seketika pupil mata Fir membesar, saat melihat gadis yang ia tunggu akhir nya tiba.
Raehan dan Miya berhenti tepat di depan Fir. Sedang kan Miya masih melongo mencerna kejadian barusan yang baru saja terjadi.
"Kamu tidak apa- apa Mi?" Tanya Raehan yang sedikit khawatir melihat tampang bodoh Miya yang seperti nya sedikit syok.
"Maksud mu? apa ada sesuatu yang terjadi pada Miya?" Cecar Fir yang ikut- ikutan khawatir.
"Tidak.. Hanya saja tadi dia sempat di ganggu setan keparat itu..."
"Hah... " Fir menganga tidak mengerti dengan setan yang di maksud Raehan.
__ADS_1
Jaman sudah moderen, tapi apa ada setan yang berani menunjukkan diri di siang bolong seperti ini.
"Maksud ku Lessia..." Seru Raehan yang menjawab semua kebingungan Fir.
"Rae... Hiks... Hiks...." Miya langsung memeluk tubuh Raehan tanpa aba- aba bahkan sambil menangis cukup histeris.
"Sudah... tidak apa- apa aku sudah memberi nenek sihir itu pelajaran... Jangan menangis, jangan terlalu cengeng... " Ujar Raehan menenang kan.
"Kenapa kamu tidak menghajar nya, atau melawan... Aku sangat kecewa pada mu..." Tambah Raehan dengan sedikit melotot.
"Dia itu penakut Rae.. Ngak bisa ngapain- ngapain..." Tambah Fir dengan nada mengolok.
"Aku hanya gugup tadi.. Kepala ku hank aku ngak tahu harus apa..." Bela Miya mengusap air mata nya dengan bibir mengerucut.
"Besok- besok kamu harus lebih berani.. Dia bukan batu atau pohon atau bahkan makhluk halus yang perlu kamu takuti... Dia manusia sama seperti mu.. Seharus nya kamu patah kan kepala nya tadi..." Sebal Raehan yang masih sedikit kesal dengan sikap Miya yang tidak melawan.
Jika dia tidak cepat sampai di koridor belakang entah apa yang akan Lessia lakukan pada sahabat nya ini.
"Iya.. Iya.. aku tidak akan selemah itu nanti.. Aku akan menjadi kuat..." Miya membentuk huruf L dengan lengan nya sebagai tekad yang kuat.
"Ya sudah... Mari kita menonton pertunjukan selanjut nya..." Seru Raehan yang berjalan mendahului ke dua sahabat nya dan duduk di kursi barisan penonton yang sepi. Di ikuti oleh Fir dan Miya yang duduk di samping nya. Mengapit Raehan pada posisi tengah.
...----------------...
...****************...
Koment yuk... othor lagi butuh semangat😭
Jangan bosan terus ya dengan karya othor😍😍😍
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
__ADS_1
Kalian benar- benar kejam ama thor😭😭😭???