
...61...
Prang....
Dengan sekali sapuan dari tangan Agara, piring yang sempat ia cuci kini mendarat di lantai dengan bentuk yang sudah berubah menjadi kepingan- kepingan.
Lagi- lagi Raehan terbelalak dengan sikap dingin dan menyeram kan Agara.
Diri nya tidak tahu, mengapa emosi Agara begitu rapuh. Hingga bisa berubah- ubah tanpa di duga.
Nafas Agara memburu berat, terlihat jelas dari dada nya yang turun naik tidak beraturan.
Wajah nya semakin memerah padam, dengan tonjolan- tonjolan urat- urat yang mengeras .
Ia mengepal tangan nya dengan erat, hingga buku- buku tangan nya memutih dengan sempurna.
Emosi memuncak dengan kebencian yang ingin meledak.
"Apa aku salah bicara lagi? . Kenapa kak Aga menjadi marah?" Batin Raehan menelan saliva nya kasar.
"Kak Aga..." Raehan mengulur kan tangan nya menyentuh lengan Agara.
Seketika tangan nya melayang tertepis tenaga Agara.
Raehan terbelalak dengan ke dua mata yang membola lebar.
Agara memejam kan mata nya, hati nya sakit dada nya sesak.
Kala memori nya berpaut dengan masa lalu. Kata kunci orang tua yang di ucap kan Raehan. Kembali membuka ingatan nya.
Ingatan masa kecil tepat saat ke dua jemari kecil nya di hempas paksa, hingga tubuh nya terjatuh oleh sang ibu.
Ibu yang di cintai nya, tapi tak pernah mengingin kan kehadiran nya.
Sementara ayah nya, meninggalkan diri nya demi pekerjaan nya meski ia menangis meraung- raung.
Semua kenangan itu begitu membekas dan terasa menguliti hati nya.
"Ahhhrrrggggggghhhhh..."
Prang...
Prak...
"Auuuu....."
Pekik Raehan kala tubuh nya terhempas ke lantai karna terdorong Agara.
__ADS_1
Sementara perabotan rumah Raehan, sudah tak lagi ada di posisi nya.
Beberapa benda yang semula tertata rapi, kini tinggal serpihan tak berbentuk lagi.
"Mereka tak pernah menganggap ku ada.. Aku hanya anak yang di buang dari garis keturunan mereka... Diri ku hanya barang yang bisa mereka tukar dengan uang... Hiks... Hiks... Hiks..." Isak tangis pilu Agara, yang meringkuk di pojok ruangan, dengan tubuh bergetar hebat.
Posisi dengan kepala di tenggelam kan pada ke dua lutut nya yang di tekuk.
Tangis dan rintihan pilu Agara, menyayat setiap inci hati Raehan.
Selama mengenal dan berada di dekat pria itu, Raehan hanya tahu ada sisi hangat yang di miliki pria dingin seperti Agara.
Tapi kini, pria yang di puja- puja dan selalu mentahtai hati nya kini begitu rapuh di hadapan nya.
"Aku anak yang tak di ingin kan...." Hanya kalimat itu yang berulang kali terucap dari bibir Agara yang bergetar.
Buliran air mata, terus menderai dari ke dua bola mata merah nya. Dengan segudang kebencian dan kekecewaan bersarang di sana.
Hati Raehan kembali terenyuh, setiap kalimat yang di ucap Agara begitu melukai hati nya.
Raehan menyeret tubuh nya yang sempat terhempas karna terdorong oleh Agara.
Memegangi siku nya yang mengeluar kan darah segar.
Namun, luka yang di terima nya. Tidak lebih sakit melihat kondisi pria yang begitu ia cintai.
Kini Raehan mengerti, mengapa Agara begitu dingin dan introvert. Ada luka masa lalu yang membuat mental nya tak tumbuh dengan sehat.
Tangan putih mungil Raehan terulur menyentuh puncak kepala Agara dan mengusap nya lembut.
"Kak Aga...!!" Panggil Raehan dengan memaksakan senyum nya. Meski kini ke dua mata nya rasa nya tak bisa membendung air mata yang siap jatuh.
Usapan lembut Raehan, seakan seperti aliran listrik yang menyetrum tubuh Agara.
Agara mengangkat wajah nya, di hadapan nya tengah tersenyum lembut seorang gadis yang menatap nya dengan penuh cinta.
Agara dapat merasakan jika ia masuk ke dalam bola mata bulat itu, ia yakin akan mendapat kan kasih sayang dan cinta yang besar. Yang selalu tak pernah ada dalam hidup nya.
Hati Agara berdesir hangat, kala ke dua tangan mungil Raehan menangkup wajah nya.
Menghapus air mata yang mengucur deras. Terasa persis seperti sapuan hangat seorang ibu.
"Jangan menangis lagi, rembulan tidak akan senang jika melihat mu menangis...." Ujar Raehan dengan suara parau.
"Kenapa kau begitu baik gadis sial... Di mata mu selalu ada cinta yang besar untuk orang lain.. Mata yang tak pernah tersentuh oleh derita dan kesedihan... Di dekat mu aku merasa tak membutuh kan siapa pun lagi... Setiap perhatian dan kepedulian mu selalu membuat ku takut akan arti sebuah kehilangan. Aku tak ingin memulai karna aku tak ingin di tinggal kan lagi..." Batin Agara menatap sendu Raehan yang langsung menarik tubuh nya ke dalam pelukan nya.
"Hiks... Hiks... Kehadiran ku tak di ingin kan...Hiks..." Tangis Agara semakin keras, saat dalam pelukan hangat Raehan.
__ADS_1
Raehan terus memeluk erat tubuh Agara yang bergetar, menepuk- nepuk punggung Agara. Menyalurkan kan semangat dan kasih sayang yang ia punya.
"Entah apa yang kak Aga lewati, aku berjanji akan selalu di samping mu.. Sampai kau sendiri yang menyuruh ku pergi..." Gumam Raehan membuat janji pada diri nya sendiri tanpa bisa di dengar oleh Agara.
Raehan menegak kan tubuh Agara, mengangkat wajah Agara yang sembab karna menangis.
Raehan mengusap lembut air mata yang masih mengalir dengan bebas.
Menatap Agara dengan penuh keyakinan, seolah mengatakan jika semua nya tidak seperti apa yang pria ini pikir kan.
"Berhenti lah menangis Kak.. Air mata mu ini sangat berharga untuk di buang... Jangan pernah menyesali kehadiran mu... Karna kehadiran mu adalah takdir dari sang kuasa. Jangan pernah menganggap diri mu tidak di anggap karna kau salah... " Ujar Raehan menyakin kan Agara.
"Apa yang bisa ku harap kan dari diri ku sendiri, jika ke dua orang tua ku yang membawa ku hadir di dunia ini tidak menginginkan diri ku.."
"Jangan kata kan itu, masih banyak orang yang mengingin kan mu... Berhenti lah membuang air mata berharga ini... Masih ada aku yang menganggap kehadiran mu sebagai sebuah berkat dari tuhan..."
Senyum tulus Raehan seolah menjadi sihir bagi Agara. Entah mengapa hati nya menjadi tenang.
Seakan kesepian yang sekian lama ia rasa kan kini menyingkir dari hidup nya.
Kata- kata menyakin kan Raehan, seperti sebuah sugesti yang menarik diri nya untuk keluar dari zona yang selama ini diri nya ciptakan.
Membuka diri untuk menerima kasih sayang, cinta dan perhatian dari orang lain.
"Aku tahu kak Aga tidak menyukai ku.. Aku tidak akan memaksa mu membalas perasaan ku.. Tapi izin kan aku menggenggam tangan mu, dan menjadi bagian dari hidup mu.. Jangan tempat kan ?ku menjadi sosok yang penting, cukup berikan aku posisi sebagai teman mu... Mau berteman..??"
Raehan mengulur kan tangan nya. Berharap Agara mau menyambut tangan nya dan menerima tawaran pertemanan nya.
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
__ADS_1
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???