
...324...
Acara makan-makan akhirnya selesai. Seluruh peserta mulai merapikan karpet dan memunguti sampah-sampah yang berserakan. Semuanya saling bantu-membantu dan saling bahu-membahu satu sama lainnya sehingga semua pekerjaan selesai dengan cepat.
Kali ini Dewan Guru mengizinkan kepada para peserta untuk menikmati waktu mereka berada di puncak karena tinggal satu hari lagi, mereka akan segera kembali ke kota.
Tentu saja hal itu di sambut antusias oleh seluruh peserta. Dengan semangat mereka mulai menjelajahi kebun teh yang terlihat sangat indah. Di antara mereka ada yang memilih untuk berjalan-jalan bersama pasangan mereka, untuk melihat pemandangan puncak yang terkesan sangat indah. Ada pula yang memilih untuk bersua foto mengabadikan moment apa pun hal yang seru yang mereka lakukan. Bahkan, ada yang memilih untuk tidur karena mengantuk.
Sedangkan Raehan, memilih untuk mengerjai Kiara yang sedang asik berjalan-jalan dan berfoto dengan temannya. Kali ini, kedua antek-antek setia Kiara tidak ikut sehingga gadis itu memilih jalan aman untuk tidak mengganggu Raehan. Namun sayang, di sini Raehan yang akan mengganggu ketenangan Kiara. Bukannya ia tidak berani membalas Kiara saat dia bersama dengan antek-anteknya, tetapi perang membutuhkan strategi bukan? Jadi itulah yang sedang ia lakukan.
Raehan tersenyum menyeringgai ke arah Kiara yang begitu gembira. Terlihat jika gadis itu terus saja menyuruh temannya memfoto dirinya. Sungguh tipe gadis yang suka memerintah.
Agara yang tidak jauh dari belakang Raehan, segera berlari mendekat ke arah gadis itu. Namun, ketika ia mendekat Raehan malah berlari menuju ke arah Kiara. Sontak saja, hal itu membuat Agara cemas. Bagaimana jika Kiara menyakiti Raehan?
"Ekkhhmm ...," dehem Raehan, yang langsung membuat Kiara dan satu temannya kaget. Kiara memasang wajah sinis dan jutek. Ia masih ingat bagaimana Raehan menakut-nakuti dirinya di dalam tenda sehingga ia harus mengungsi ke tenda lainnya, dan tidur berhimpit-himpitan.
"Lagi seru foto-foto ya, boleh gabung ngak?" tanya Raehan dengan menyengir, memperlihatkan seluruh gigi-giginya.
"Cih, ngak sudi kita gabung sama lo. Baru tahu rasa sekarang karena dua kacungnya kagak ikut," decih Kiara dengan meludah di depan Raehan.
"Ya kan kita temen juga, Kiara. Kita satu kelas kan."
"Tapi sorry aku ngak sudi punya temen kayak kamu. Kamu itu wanita genit yang selalu mencari perhatian Kak Dion. Oh ya, aku ingetin sama kamu, jangan deketin Kak Dion karena dia itu gebetanku. Calon pacar masa depan aku ngerti!" Kiara mendorong bahu Raehan, hal itu membuat tubuh Raehan terjengkang ke belakang. Kiara tersenyum puas karena berhasil mendorong Raehan.
"Oh, ya." Raehan berjalan mendekat ke arah Kiara dengan ekspresi horornya. Ia mengikis jarak antara dirinya dan Kiara.
__ADS_1
Kiara yang tidak ingin kalah dengan Raehan juga memasang wajah bermusuhan. Apa pun yang terjadi ia tidak akan segan untuk membalas perbuatan Raehan.
Raehan merogoh kantong celana jins yang ia pakai, mengeluarkan sesuatu dari sana dan langsung melemparkannya ke bahu Kiara.
"Aaaaa!" teriak Kiara spontan saat melihat seekor ular mendarat di bahunya. Kiara melompat-lompat meliukkan seluruh tubunya untuk menyingkirkan ular tersebut. Ia benar-benar sangat takut, bahkan wajahnya terlihat memucat.
Raehan langsung tertawa senang melihat Kiara yang ketakutan dan berjingkrak-jingkrak seperti badut yang sedang atraksi. Ia sangat puas melihat gadis yang selalu mengganggunya kini berteriak ketakutan. Padahal, yang ia lempar hanyalah ular karet palsu bukan sungguhan. Akan tetapi, lihatlah reaksi Kiara yang sudah mirip kera kerasukan.
"Singkirkan ular ini, aku bisa di gigit. Aaaa!" teriak Kiara dengan mata yang sudah bersimbah air mata. Kiara menarik baju temannya yang juga ketakutan da berteriak sama seperti dirinya. Sementara Raehan terus tertawa sambil memegangi perutnya.
"Ha ... Ha ..., lucu banget," lirih Raehan di sela-sela tawanya. Sungguh, perutnya sampai kram karena terus tertawa.
Ular palsu tersebut berhasil jatuh ke tanah. Kiara masih menangis tersedu-sedu karena ketakutan. Ia benar-benar sangat takut dan geli dengan hewan melata seperti itu.
"Ha ... Ha ..., yah, dia benar itu ular karet bukan ular asli. Kalian sudah seperti kera yang kerasukan. Ha ..., sungguh sangat lucu," ucap Raehan dengan tawanya yang terkesan meledek.
Kiara mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Bahkan, buku-buku tangannya memutih dengan sempurna. Rahangnya terlihat mengetat dengan tatapan marah yang menghunus pada Raehan yang masih asik tertawa.
Berani sekali dia mengerjaiku. Aku hampir mengompol di celana karena ketakutan tapi ternyata itu adalah ular karet. Gadis pendek ini benar-benar mencari masalah denganku. Batin Kiara dengan kemarahan yang besar.
Kiara menatap ke arah temannya yang berdiri di sampingnya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga temannya dan membisikkan sesuatu. Wajah teman Kiara terlihat sedikit takut dan ragu. Namun, Kiara kembali menyakinkan temannya itu.
"Sudah, kamu jangan takut. Semua orang tidak akan menyadari hal ini. Dia sudah membuat kita ketakutan setengah mati, sedangkan dia malah menertawakan kita. Dia harus di beri pelajaran, apa kamu mengerti?" bujuk Kiara memgompori temannya agar ikut marah dan kesal pada Raehan.
"Kamu benar, gadis pendek ini benar-benar harus di beri pelajaran," ucap teman Kiara setuju dan berhasil dipengaruhi oleh Kiara.
__ADS_1
Kiara dan temannya saling menggangukkan kepala satu sama lain. Lalu segera berlari mendekat ke arah Raehan yang masih belum bisa meredakan tawanya. Kiara dan temannya langsung memegang kedua tangan Raehan dengan erat.
Raehan yang dipegangi melawan dan memberontak. Ia menatap Kiara dan kedua temannya dengan tajam. Teman Kiara yang mendapat tatapan tajam mematikan dari Raehan sedikit ciut. Namun, Kiara berhasil memengaruhi temannya agar tidak melepaskan Raehan.
"Jangan takut, dia tidak akan bisa melawan kita. Dia hanya sendiri dan kita berdua. Ayo seret dia ke dalam hutan!" titah Kiara.
"Aku peringatkan pada kalian, lepaskan aku! Aku tidak akan mengampuni kalian jika kalian berani berbuat macam-macam denganku," pekik Raehan mencoba menarik tangannya. Namun, cengkraman kedua gadis ini cukup kuat. Kiara dan temannya menyeret Raehan masuk ke dalam hutan yang ada di samping tempat camping mereka. Hutan itu memang tidak berbahaya tapi cukup lebat dan gelap.
"Kali ini, kamu akan rasakan pembalasanku gadis pendek. Tidak akan ada yang menemukanmu," ucap Kiara dengan tersenyum senang.
Agara sampai di tempat Kiara dan juga Raehan. Namun, ia sama sekali tidak melihat kehadiran dua gadis itu. Padahal, tadi ia melihat Raehan berlari ke arah sini. Rasa khawatir dan cemas seketika menyeruak ke dalam dada Agara. Ia yakin, pasti sedang terjadi sesuatu pada gadis mungilnya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa like
koment
gift
vote
tips
__ADS_1