
...361...
Treng!
Treng!
Treng!
Bunyi bel masuk akhirnya berbunyi dengan sangat nyaring. Membuat lelucon dan candaan yang terjadi antara keenam remaja yang tengah asik bercengkrama di kantin tersebut terhenti. Mereka semua bubar dan kembali ke kelas masing-masing. Untuk Kazuya, Dion meminta pria itu untuk menunggu di mobil hingga ia pulang.
Sementara Agara mengantarkan Raehan terlebih dahulu ke kelas gadis itu, sebelum menuju ke kelasnya. Padahal, Raehan sudah menolak hal itu karena dia bisa pergi bersama dengan Fir. Namun, Agara menolak dengan tegas dan tetap ingin mengantarkan Raehan.
Kini, kedua pasangan itu sedang berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertaut. Sedangkan di belakang mereka ada Fir yang berjalan dengan jarak dua meter. Fir tidak ingin mengganggu dua pasang kekasih itu. Yah, walaupun ia merasa miris karena harus menjadi obat nyamuk.
Agara mengangkat tangan Raehan dan mengecup punggung putih tangan Raehan dengan mesra sehingga membuat para murid yang melihatnya iri berjamaah. Raehan hanya merespon hal itu dengan senyuman. Ia tidak merasa canggung atau pun malu karena Agara memang sering melakukan hal itu di depan umum.
"Apa ada masalah?" tanya Agara dengan menoleh ke arah Raehan yang hanya setinggi bahunya. Di mana, Raehan mendongak ke arah Agara. Ternyata walaupun ia menyembunyikan kegelisahannya. Agara tetap tahu jika ia menyembunyikan sesuatu. Tatapan Raehan semakin serius dan sendu. Ia merogoh saku seragamnya dan memberikan selembar kertas pada Agara.
"Surat panggilan dari kantor polisi?" ucap Agara sedikit merasa bingung, yang diangguki oleh Raehan.
"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Ntar Fir denger," tegur Raehan sambil melirik sekilas ke arah Fir yang berada di belakang mereka.
Agara membuka surat tersebut dengan cepat dan membaca baik-baik tulisan tinta hitam yang tercantum. Ternyata, surat ini berisi panggilan untuk kasus Kiara. Ia sangat senang karena pihak sekolah tidak menghentikan kasus ini. Kiara memang pantas untuk mendapatkan balasan karena gadis itu sudah melakukan tindakan kejahatan yang hampir menghilangkan nyawa seseorang.
"Bagus donk, kalau kasus ini dibawa ke jalur hukum," ucap Agara dengan antusias.
"Iya, bagus tapi aku ngak mau sampai Popsy dan Momsy tahu. Mereka pasti akan marah," hembus Raehan frustasi.
"Terus kamu bakal tarik kasus ini?"
"Ya enggak, tapi aku ngak tahu harus gimana. Ngak mungkin aku pergi ke sana sendiri, kan."
__ADS_1
"Udah, masalah itu jangan kamu pikirin. Kamu kan punya aku. Aku akan menyelesaikan masalah yang sudah membuat kepala cantik kekasihku pusing," goda Agara saat Raehan merasa gelisah.
"Ihhh, aku lagi dilema malah digombalin," sungut Raehan dengan mencubit ringan pinggang Agara.
"Aku serius, Sayang." Agara mencubit pipi Raehan gemas.
"Tapi bagaimana caranya? Jangan bilang Kak Aga bakal kasi tahu Momsy sama Popsy."
"Ngak kok, kamu terima beres aja. Ngak usah di pikirin. Besok kita pergi sama-sama. Semua masalah kamu akan beres."
"Ya udah, oke aku lihat apa yang bakal Kak Aga lakuin."
"Yang penting sekarang kamu fokus belajar." Agara melepas genggaman tangannya dan mengacak rambut Raehan gemas. Tanpa disadari ternyata mereka sudah sampai di depan kelas Raehan. Mungkin, akibat mengobrol sambil berjalan membuat Raehan tidak menyadari jika ia sudah sampai. Fir masuk lebih dulu, meninggalkan Raehan dan Agara yang masih melakukan drama perpisahan.
"Iya, ya udah aku masuk dulu. Kak Aga pergi ke kelas gih," ucap Raehan dengan senyum yang mengembang. Setelah berbicara dengan Agara, hatinya merasa sedikit tenang. Meskipun, ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan Agara besok untuk menyelesaikan masalahnya.
"Kamu ngusir nih?" Agara memasang wajah cemberut.
"Tidak, tapi aku sudah sampai. Nanti pulang sekolah pake motor aku aja ya ke Mall."
"Ohh, Kak Aga tidak mau pakai di vespa? Oke, kalau gitu aku sendiri saja." Raehan memutar tubuhnya dan hendak masuk ke dalam kelas. Namun, Agara segera mencekal pergelangan tangan Raehan sehingga tubuh gadis itu kembali berbalik ke arahnya.
"Jangan cepet ngambek gitu donk. Kamu tambah manis tahu. Ya udah kita pakai si vespa," putus Agara dengan tertawa ringan. Raehan mengangkat jari jempolnya pada Agara. Lalu, masuk ke dalam kelas. Sedangkan, Agara segera berlalu menuju kelasnya.
"Udah selesai salam perpisahannya yang penuh dengan drama?" tanya Fir dengan tatapan genit saat Raehan duduk di samping Miya.
"Bilang aja iri," sungut Raehan dengan mencebikkan bibirnya. Raehan menatap Miya yang hanya diam dan acuh. Padahal biasanya, Miya akan sangat senang meledek dirinya bersama dengan Fir. Akan tetapi, Miya malah diam.
"Mi, kamu kemana tadi?" tanya Raehan dengan menyentuh tangan Miya.
"Aku di kelas kok," jawab Miya dingin. Raehan mengerutkan dahinya bingung dengan sikap Miya yang tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Mi, kamu tahu, ternyata Kazuya lulus loh." Raehan mencoba membuat mood Miya naik dengan membahas soal Kazuya. Biasanya, Miya akan lansung antusias dan bersemangat.
"Itu bagus," timpal Miya dengan datar, membuat Raehan semakin bingung dengan Miya. Ternyata senjatanya tidak berhasil untuk membuat Miya tersenyum. Sebenarnya ada apa dengan sahabatnya itu.
"Mi, nanti pulang sekolah kita akan pergi ke Mall untuk berbelanja kebutuhan sekolah Kazuya. Kamu harus ikut." Raehan masih berusaha. Namun, Miya menatapnya dengan tatapan kosong.
"Aku ngak bisa, aku ada acara keluarga." Lagi-lagi Miya menolak dengan dingin.
"Yakin, kamu ngak mau ikut? Ntar kamu menyesal loh, Mi," sosor Fir mengompori Miya.
"Aku bilang kan tidak mau ikut. Itu artinya aku tidak mau," tegas Miya dengan bangkit dari duduknya. Lalu, pergi dan duduk bersama murid lain.
Raehan dan Fir saling melempar pandangan. Seolah saling memberikan telepati pertanyaan ada apa dengan sikap Miya. Fir hanya mengendikkan bahunya tidak tahu.
"Mungkin, dia lagi datang bulan. Sudah nanti juga bakal balik konyol lagi dia," hibur Fir agar Raehan tidak kepikiran.
"Aku harap juga gitu. Darah Miya lagi turun kali ya makanya lemes,lunglai kayak nenek-nenek," balas Raehan yang lansung menimbulkan tawa keduanya.
Miya menatap Raehan dengan tajam. Raehan masih bisa tertawa di saat ia sedih seperti ini. Kata-kata Anet kembali terngiang dikepalanya. Di mana hatinya semakin memanas. Ia meremas rok seragamnya dengan erat. Bayangan saat Kazuya memeluk Raehan terus berputar dikepalanya seperti sebuah kaset yang tak bisa dihentikan. Semakin ia melihat wajah Raehan, semakin tumbuh rasa tidak suka dan kecewa di hati Miya untuk sahabatnya itu. Kata-kata Anet terus meresap ke hati serta pikirannya. Membuat ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Selain, Raehan memang ingin merebut Kazuya dari dirinya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
__ADS_1
vote
tips