Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Kiara dikeluarkan


__ADS_3

...357...


Raehan melangkahkan kaki kanannya memasuki ruang BK. Ia mengedarkan pandanganya. Di mana di sofa terlihat Kepala sekolah, beberapa staff guru, kemudian Kiara, dan seorang wanita serta pria paruh baya yang ia yakini kalau mereka adalah orang tua Kiara.


Kiara menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya. Kiara sama sekali tidak mengangkat wajah sedikitpun saat ia memasuki ruangan BK. Raehan bisa merasakan atmosfer dalam ruangan ini terasa berat dan juga mencekam. Aura negatif menguar dari seluruh orang. Mulai dari aura marah, kecewa, takut, dan sedih. Semuanya menjadi satu hingga menimbulkan suasana yang pengap.


"Raehan, kemarilah!" seru Staf Guru yang menjadi Kepala Panitia pada acara pelantikan yang ada di puncak.


Dengan senyum kaku, Raehan berjalan denga perlahan mendekat ke arah Staf Guru tersebut. Ia menyunggingkan senyum ramah pada kedua orang tua Kiara, yang malah memasang wajah masam dan tak bersahabat.


"Duduklah!" titah Staf Guru itu lagi pada Raehan. Sesuai perintah Raehan duduk di samping Kepala Sekolah.


"Nyonya, dan Tuan Grazil. Ini adalah Raehan. Gadis yang sudah dicelakai oleh Kiara. Raehan hampir meregang nyawa karena ulah fatal putri kalian. Untung saja, ada salah satu murid kami yang berhasil menyelamatkan Raehan. Jika tidak, sekolah kami akan berduka karena kehilangan seorang murid. Kami tidak menuduh tanpa asal. Namun, ini benar-benar terjadi dan pihak sekolah sudah melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib," jelas Kepala Sekolah dengan suara tegas terkesan hormat.


"Putriku tidak salah, Itu semua akibat kelakukan gadis tidak bermoral itu. Bisa saja dia terpeleset dan jatuh dengan sendirinya," sanggah Tuan Grazil yang tidak terima dengan semua itu. Ia tidak terima jika putrinya harus masuk ke dalam penjara di usia yang sangat muda. Di mana hal itu juga berimbas pada nama baik keluarga mereka.


"Tapi ini sudah terbukti Tuan, Anda tidak bisa menyangkal ini semua."


"Hei, kamu gadis rendahan. Kamu mau uang berapa? Sebutkan, kami akan membayarnya. Akan tetapi, hentikan sandiwaramu ini. Berhenti menuduh Kiara!" hardik Nyonya Grazil berdiri dari duduknya. Ia melotot pada Raehan, seakan siap membunuh gadis mungil itu.


Raehan menarik nafasnya dalam. Sudah ia duga dari saat ia masuk ke dalam ruangan ini. Aura tidak enak yang ada di ruangan ini sepertinya berasal dari kedua orang tua Kiara. Yang tidak ia pahami dari semua hal ini. Kedua orang tua Kiara membela Kiara dengan membabi buta. Padahal, putri mereka yang bersalah di sini. Sungguh, pemikiran mereka sepertinya perlu dicairkan agar bisa menimbang mana yang benar dan yang salah.

__ADS_1


Raehan berdiri dengan menatap lembut pada Nyonya Grazil. Bukannya ia takut untuk melotot tapi ia hanya menghormati orang yang lebih tua darinya.


"Nyonya Grazil, jika kamu ingin aku menyebutkan nominal uang. Aku tidak akan bisa menyebutkannya karena nyawaku harganya tak ternilai dan tak terhitung dengan uang. Biarpun kamu membayar nyawaku dengan seluruh uang yang ada di bumi ini. Nyawaku masih jauh lebih berharga," balas Raehan tak gentar tapi dengan suara yang lemah lembut. Ia tidak pernah takut untuk melawan kesalahan. Sekalipun, itu dari orang penting atau lebih tua darinya.


Nyonya Grazil semakin tersulut emosi. Itu terlihat dari kepalan tangannya yang semakin mengepal sempurna. Gadis mungil di depannya berani mengatakan hal itu di depannya. Sungguh ia tidak menerima hal itu. Gadis yang tidak memiliki tata krama dan juga etika. Kemarahan yang memggebu-ngebu, membuat Nyonya Grazil melayangkan satu tamparan keras di pipi Raehan, hingga Kepala Raehan menoleh ke samping karena kerasnya pukulan itu.


Plak!


"Lihat, dia sama sekali tidak memiliki sopan santun. Dengan berani dia membalas ucapan orang yang lebih tua. Apa kedua orang tuamu tidak mengajari kepadamu untuk tidak membalas perkataan orang yang lebih tua? Oh, itu wajar karena kamu berasal dari kampung. Jadi, wajar jika orang kampung yang tidak berpendidikan memiliki perilaku seperti dirimu," hina Nyonya Grazil habis-habisan. Seolah di sini yang menjadi korban adalah putrinya.


"Nyonya Grazil tenanglah dulu," sela Kepala Sekolah mencoba menengahi. Di mana situasi semakin menjadi tidak terkontrol dengan sikap Nyonya Grazil yang asal memukul Raehan.


Raehan menatap Nyonya Grazil yang menatap dirinya penuh kebencian dan amarah. Seharusnya di sini ia yang menatap dengan cara seperti itu.


"Nyonya kau lebih tua dariku. Maka dari sebab itulah aku berbicara dengan nada rendah. Kau menyebutku tidak bertata krama? Coba lihat dirimu, apa kau sudah bertata krama dengan baik? Bahkan, kau membentak Kepala Sekolah. Apa itu adalah tata krama dan kesopanan yang kau sebutkan? Aku rasa tidak. Aku mengatakan apa yang memang harus aku katakan. Aku memang gadis yang berasal dari kampung. Tidak sepertimu yang sudah lahir di kota besar. Akan tetapi, sejak tadi siapa yang melewati batas?" Raehan menjeda kalimatnya, menatap wajah Nyonya Grazil yang berubah pias.


"Jika seandainya di sini yang dipertaruhkan bukan nyawaku. Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Coba saja, balik posisi Nyonya. Kau yang berada di posisiku. Apa kau hanya akan tetap diam? Aku rasa tidak. Dan untuk didikan orang tuaku, mereka tidak pernah membelaku di saat aku melakukan sebuah kesalahan. Tidak seperti Nyonya yang meskipun tahu putrimu bersalah, tetapi tetap melempar kesalahan itu pada orang lain. Aku berpikir, kenapa tidak ada orang kota yang pergi ke kampung untuk belajar tata krama? Padahal di desa mereka mengutamakan tentang budaya dan kesopanan. Seandainya Nyonya bersikap seperti ini di desa, maka Nyonya pasti sudah di usir dari kampung tersebut dengan cara yang tidak terhormat. Jika Nyonya ingin dihormati. Maka hormatilah orang lain. Entah, dia lebih muda atau pun lebih tua." Raehan menutup ucapannya yang super panjang mengalahkan rel kereta api tersebut.


Nyonya Grazil bungkam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Raehan agar gadis itu mengurungkan kasus putrinya yang berlanjut ke meja hijau. Namun, sepertinya ia sudah salah mengira jika Raehan akan takut dan tertekan dan akan melupakan kasus tersebut. Namun, gadis mungil itu berdiri dengan kokoh dan tidak goyah sedikitpun walaupun dihina habis-habisan seperti itu.


"Semuanya tenang, Raehan duduklah!" titah Kepala Sekolah menarik tangan gadis mungil itu untuk duduk. Begitu pula dengan Nyonya Grazil yang kembali duduk di tempatnya.

__ADS_1


"Bukannya saya mendukung atau pun membela Raehan, Nyonya dan Tuan Grazil. Akan tetapi, apa yang dikatakan Raehan memang benar. Masalah ini tidak bisa ditolerin lagi. Dengan berat hati, kami beserta dewan pendiri sekolah mengambil keputusan jika Kiara harus keluar dari sekolah ini. Kami tidak ingin dengan kasus ini nama baik sekolah menjadi hancur." Kepala Sekolah mengatakan keputusannya dengan mutlak. Tidak ada yang bisa membantah atau pun menolak.


"Untuk kasus ini, akan terus berjalan sesuai dengan prosedur yang sudah di tetapkan. Ini adalah surat panggilan dari kantor polisi," lanjut Kepala Sekolah dengan menyerahkan surat pada Kiara dan juga Raehan.


Kiara hanya diam dengan kebencian pada Raehan yang semakin membesar. Baginya, semua yang terjadi padanya, itu semua karena Raehan. Dan kini, ia harus menerima hukuman yang berat dengan mendekam di balik jeruji besi penjara. Masa depannya hancur dengan begitu mudah. Sampai kapan pun, ia tidak akan pernah melupakan hari ini.


Semuanya belum berakhir, Rae. Aku akan membalas semua ini. Kamu bisa merasa lega tapi dendamku harus terbalas. Batin Kiara dengan menatap Raehan horor.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2