
...347...
Raehan menatap lurus pada punggung Dion yang tengah berdiri membelakangi dirinya di balkon. Hembusan angin yang begitu menyejukkan menerpa wajah Raehan. Bisa Raehan lihat, kedua tangan Dion yang mencengkram pembatas balkon dengan erat. Seperti sedang menyalurkan emosi yang sedang terpendam.
Ia berjalan semakin dekat, tanpa kedua kakinya mengeluarkan suara ketukan di lantai. Semakin dekat dengan Dion. Raehan dapat mendengar suara nafas yang dihembuskan dengan kasar.
Perlahan tapi pasti, tangan Raehan terangkat menyentuh bahu Dion sehingga ia bisa merasakan tubuh Dion yang terkejut karena sentuhan darinya. Dion segera berbalik dan mendapati gadis yang sudah membuat hidupnya berubah jungkir balik tengah berdiri dengan wajah polos di depannya.
Raehan mengembangkan senyum di bibirnya. Namun, dengan cepat Dion memalingkan wajah. Dion hanya tidak ingin tenggelam dalam senyum manis Raehan. Kali ini, ia memutuskan untuk membangun benteng besar dalam hatinya dan menekan perasaannya pada gadis itu. Mungkin akan sulit, tetapi sampai kapan ia harus menjadi pihak ketiga yang tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan.
Kata-kata Kazuya memang sangat ampuh untuk membuka pikiran dan matanya terbuka. Jika Raehan, hanya mencintai Agara dan ia bukanlah apa-apa selain hanya sebatas teman. Tidak akan pernah lebih atau pun kurang.
Sementara bibir Raehan yang tersenyum tiba-tiba tertarik sehingga senyum manis di bibirnya luntur seketika karena sikap Dion yang tidak seperti biasanya. Biasanya Dion akan menatap dirinya tapi kali ini pria itu malah memilih membuang wajah. Raehan menyentuh wajahnya sendiri, memeriksa jika ada sesuatu yang salah atau ada kotoran yang menempel di wajahnya.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Raehan polos.
"Tidak ada," jawab Dion singkat. Lalu, menyenderkan tubuhnya pada pembatas balkon dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
"Lalu, kenapa Kak Dion membuang wajah? Apa kali ini aku tampil jelek?" cecar Raehan lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting.
Tidak, jangan sampai aku lemah. Aku harus bisa menahan diri. Batin Dion mensugesti dirinya agar tidak terbawa suasana yang di ciptakan oleh Raehan.
"Kamu kan memang selalu tampil jelek," balas Dion tanpa dosa, yang membuat Raehan mengembungkan pipinya dengan bibir yang mengerucut ke depan.
"Kak Dion, kau sangat menyebalkan," sebal Raehan dengan memukul keras dada Dion.
"Dengar, Rae. Kamu ke sini untuk menjadi tutor Kazuya bukan? Maka lakukan tugasmu. Jangan menggangguku karena aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu." Dion tersenyum ramah pada Raehan. Berusaha bersikap normal persis seperti seorang teman bagi Raehan. Mengntrol perasaan yang sedang membuncah dan menekan perasaan itu dengan membayangkan realita yang sebenarnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi tapi aku akan membutuhkan bantuanmu untuk mengajari Kazuya. Oh ya, aku tahu kamu sedang berusaha. Aku berharap rasa itu segera pergi. Maaf jika aku tidak bisa memberikan posisi yang kamu inginkan. Akan tetapi, bagiku kamu adalah orang yang istimewa. Kamu mempunyai tempat tersendiri di sini." Raehan menunjuk dada kirinya dengan tatapan sendu.
"Aku yakin, Kak Dion pasti bisa menghapus perasaan itu, dan aku juga yakin jika akan ada seseorang yang memang pantas untukmu. Tapi, berjanjilah padaku kamu tidak akan menjauh atau membenciku. Kamu sudah seperti Kakak dalam hidupku." Raehan mengangkat jari kelingkingnya di depan Dion.
Dion memaksakan senyumnya. Lalu, menyambut kelingking mungil Raehan. Lihatlah, lagi-lagi Raehan. mengatakan sebuah fakta. Jika ia hanya di anggap sebagai seorang Kakak. Tapi itu tidak masalah, ia sudah biasa akan hal itu. Jadi, perasaannya tidak terlalu terluka.
"Aku janji, dan tetaplah menjadi adikku yang lucu." Dion mengacak rambut Raehan dengan gemas, membuat gadis mungil di depannya terkekeh lucu. Begitu pula dengan Dion yang tertawa meskipun hatinya sedang tercubit sakit.
"Pergilah!" imbuh Dion dengan nada memerintah.
Raehan berlalu pergi meninggalkan Dion. Akhirnya Dion mengambil keputusan dengan menghapus rasa di hatinya. Pasti semuanya akan lebih mudah setelah ini. Tidak akan ada lagi pertengkaran antara Agara dan Dion yang memperebutkan dirinya.
Setelah kepergian Raehan, dari balik meja yang berada di samping pintu balkon. Agara keluar dan menghampiri Dion. Yah, ia mendengar semua pembicaraan Raehan dan Dion. Ia sudah tiba di rumah Dion sekitar 20 menit yang lalu dan lansung mencari kekasih pujaannya meskipun harus terlibat cekcok mulut dengan Fir di ruang tamu.
Namun, dengan kehadiran Kazuya sebagai penengah membuat perdebatannya dengan Fir tidak berlangsung lama. Pria berwajah Jepang itu menyuruh ia naik ke balkon untuk mencari Raehan.
"Apa menguping adalah kebiasaanmu?" sindir Dion yang memang sudah tahu jika Agara bersembunyi di bawah meja. Saat berbicara dengan Raehan tanpa sengaja ia melihat pantulan Agara dari pintu balkon yang terbuat dari kaca transparan.
"Apa yang barusan aku dengar memang benar?" balas Agara dengan sebuah pertanyaan. Ia berdiri sejajar di samping Dion yang sedang menatap lurus ke depan pada pemandangan kota yang terlihat begitu sesak.
"Aku tidak pernah berbohong, Aga. Aku berharap, setelah kamu mendengar semuanya kamu bisa menyadari betapa berharganya Raehan. Aku sadar, aku tidak akan bisa memiliki Raehan, dan itu artinya kamu harus bisa menjaga Raehan. Jadilah kuat Aga, jangan hanya dengan di ancam kau membuat hidup Raehan dalam bahaya. Aku memaafkan semua kesalahan yang sudah kamu lakukan pada Raehan karena bagiku kebahagiaan Raehan jauh lebih penting dari perasaanku."
"Apa hakmu mengatakan hal itu?"
"Apa kamu tidak mendengar semua pembicaraan kami? Aku yakin kamu hanya berpura-pura, Aga. Posisiku memang tidak seistimewa dirimu tapi Raehan sudah memberikan posisi yang membuatku berhak untuk mengatakan hal itu sebagai seorang Kakak."
"Hmmm, aku tidak pernah percaya seorang Dion Pratama bisa mengalah." Agara menoleh ke arah Dion dengan senyum tulus di bibirnya. Ia benar-benar tidak pernah menduga jika Dion memilih untuk menghapus perasaanya dan membiarkan Raehan bersama dirinya. Ini adalah sebuah hal yang sangat langka. Namun, memang benar-benar terjadi.
__ADS_1
Dion menoleh dengan wajah tanpa ekspresi. Sejenak ia terpukau dengan senyum tulus Agara. Pria yang di kenal sangat dingin dan tidak tersentuh oleh wanita serta tidak pernah tersenyum sedikit pun, ternyata juga bisa tersenyum tulus. Pantas, Raehan begitu terpikat dengan sosok Agara karena memang pria itu sangat tampan.
"Kenapa? Aku memang tahu aku sangat baik," ucap Dion dengan percaya diri, yang lansung disambung oleh tawa renyah ke duanya.
Agara merentangkan tangannya dan memeluk Dion. Ternyata Dion tidak seburuk yang ia pikirkan. Dengan senang hati Dion membalas pelukan Agara. Mungkin, memang lebih baik permusuhan di antara mereka berakhir. Agara mengurai pelukannya dan mengulurkan jabatan tangan pada Dion.
"Mau berteman?" tawar Agara dengan begitu tulus dan berharap.
"Okeh." Dion membalas jabatan tangan Agara dengan begitu antusias.
Keduanya menghela nafas lega. Agara benar-benar senang karena ia kini memiliki seorang teman pria. Sedangkan Dion, merasa hatinya terasa ringan. Ternyata benar, mengihklaskan dan merelakan akan membuat semuanya menjadi mudah.
"Ayo, Bro. Kita bergabung bersama yang lain." Ajak Dion dengan merangkul bahu Agara.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
__ADS_1
tips