
...15...
"A... Aku... A... Aku minta maaf Kak... Aaa... Aku tidak sengaja..." Timpal Raehan terbata- bata. Menatap manik penuh kemarahan Agara dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Brak...
Tangan kekar Agara, menggebrak tembok di belakang tubuh Raehan.
Raehan mundur beberapa langkah, hingga punggung nya membentur tembok.
Mata nya terus menatap kagum pada pria tampan di depan nya. Meski mendapat perlakuan kasar dari Agara, tapi rasa suka nya tidak berkurang sedikit pun.
Jika di kata kan, ia gadis gila. Memang benar ia sudah gila karna pria yang bernama Agara.
Tangan Agara mengungkung Raehan. Dari sisi kanan maupun sisi kiri.
Tatapan nya begitu nyalang, dengan segurat kebencian dan kemarahan pada gadis di depan nya.
"Menjijik kan..." Batin Agara, melihat tatapan Raehan pada nya.
"Jangan mencari masalah dengan ku... Entah siapa pun nama mu.. Akan lebih baik jika kamu tidak menganggu ku...!!" Tekan Agara dengan gemelatuk gigi nya yang terdengar jelas oleh Raehan.
"Ohh... Nama ku... Nama ku Raehan Angelina kak.. Kak Aga bisa pangil Rae..." Balas Raehan dengan senyum sumringah.
Hati nya sangat senang, pria idaman nya menanyakan nama nya. Bukan kah ini sesuatu yang luar biasa, pikir nya.
"Dasar gadis sial, Dia ini bodoh atau apa?... Aku mengancam nya tapi dia malah memberi tahu ku nama nya, dengan senyum cengiran kuda lagi... Hhhh.." Batin Agara dengan kening berkerut.
Ia tidak menepis rasa heran nya pada gadis di depan nya ini, siapapun yang mendapat perlakuan kasar dari nya pasti akan takut, tapi gadis ini malah senang dan bahagia, seolah sangat terbekati dengan sikap kasar nya.
Sofia saja yang selalu membuntuti nya bisa takut, saat ia marah. Tapi tidak dengan gadis berkaki pendek ini.
"Aku tidak peduli dengan nama mu... Apa kamu tidak tahu ini toilet pria.. Dengan seenak jidat mu, kamu masuk ke sini...!!!" Ketus Agara, tidak mengurangi tatapan seram nya pada Raehan.
Cletak...
Satu jentikan jari besar Agara, mendarat di dahi putih Raehan.
"Auuuu... Sakit...." Ringgis Raehan, mengusap kening nya yang terasa sakit karna jentikan Agara.
Agara menyeringgai puas, melihat gadis di depan nya mengerang kesakitan.
Raehan mendongak, menatap wajah yang sangat dekat dengan nya.
Wajah dengan rahang yang kuat, serta setiap inci yang sempurna.
"Aku tidak peduli, jika harus masuk ke dalam toilet pria sekali pun... Bahkan aku bisa masuk ke sarang harimau, jika kak Aga ada di sana...
__ADS_1
Aku sedang menebus kesalahan ku, tapi kamu malah menjentik jidat ku.. Tapi tidak apa- apa, aku tahu aku adalah gadis pertama yang mendapatkan nya. Hehe..." Kekeh Raehan dengan gamblang.
Agara memutar bola mata nya malas. Mahluk apa yang sedang dia hadapi sekarang.
Sudah di bentak, di cerca, bahkan di jentik kening nya hingga merah.
Bukan nya marah atau kesal, tapi malah merasa senang.
"Terserah... Aku tidak peduli..." Ujar Agara, lalu melangkah kan kaki nya keluar dari toilet.
Namun baru saja kaki nya keluar dari ambang pintu. Tangan nya di tarik dengan keras, membuat langkah nya harus terhenti.
"Aku tidak bisa meninggalkan mu dalam kondisi terluka seperti ini Kak..."
Deg...
Aku tidak bisa meninggalkan mu dalam kondisi terluka seperti ini Kak..
Aku tidak bisa meninggalkan mu dalam kondisi terluka seperti ini Kak..
Jantung Agara berdetak dengan kencang, saat kata sederhana dari Raehan menyapu gendang telinga nya.
Kata- kata itu terasa begitu hangat, hati nya bahkan berdesir hebat.
"Kak Aga, juga selalu tampil rapi, tapi karna ku... seragam kakak jadi kotor.. Jadi biarkan aku menebus kesalahan ku... Ayo...!!!" Raehan menarik tangan Agara yang masih diam membisu.
Satu pertanyaan yang terpikir oleh nya. Ada apa dengan ku??.
Raehan terus menarik pergelangan tangan Agara, menuntun nya menaiki tangga, dan sampai di atap sekolah.
Sinar matahari begitu menyilaukan di atas sekolah, menampilakan langit yang biru menjadi atap di atas kepala.
Agara menyipitkan mata nya, saat kemilau mentari menusuk mata nya.
Di area sudut, ada sebuah bangku dan meja, yang terpajang. Di sambut dengan keteduhan tembok yang menjulang tinggi.
Angin berhembus dengan kencang, menerbangkan helaian rambut Raehan. Yang membuat kecantikan nya terpancar dengan jelas.
Raehan menarik Agara menuju tempat teduh yang berada di sudut atap.
Entah kenapa , cuaca begitu panas, tapi udara di sini begitu sejuk.
"Duduk lah....!" Tunjuk Raehan pada kursi panjang di depan nya.
"Untuk apa kamu mengajak ku ke sini??.. Lepaskan tangan ku... Aku mau pergi...!!" Jawab Agara dengan ketus.
"Kak Aga duduk aja... Duduk...!!" Raehan mendorong tubuh Agara yang menjulang tinggi, untuk duduk di kursi.
__ADS_1
Jemari mungil Raehan terulur, menyentuh kancing baju Agara.
Agara langsung menepis tangan Raehan.
"Apa yang sedang kamu lakukan???.. Jangan macam- macam kamu..." Ancam Agara.
"Aku akan memperkosa mu di sini... " Sosor Raehan dengan tatapan serius, membuat wajah Agara semakin di buat terkejut.
"Ha.. Ha.... Ha... Aku becanda kok... Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu... Buka seragam Kak Aga, biar aku jemur di sana. Biar cepet kering... " Jelas Raehan dengan tawa nya yang nyaring.
"Astaga apa yang sudah ku pikirkan tadi... Memalukan..." Rutuk Agara pada diri nya , saat pikiran nya berkelana memikirkan sesuatu yang tidak- tidak.
Dengan cepat, Agara membuka seragam nya, menuruti perintah Raehan.
Ia tidak ingin berurusan lebih jauh dengan gadis pendek di depan nya. Lebih baik menurut, pikir Agara.
Agara menyerahkan seragam nya pada Raehan. Dengan senyum yang terus mengembang, Raehan menjemur seragam pria idaman nya.
Melepas bandana tali yang ia pakai, untuk mengikat seragam Agara agar tidak di terbangkan angin.
Angin bertiup dengan sepoi- sepoi, membuat anak rambut Raehan jatuh ke wajah nya.
Raehan menatap Agara dengan tubuh bagian atas tanpa sehelai benang. Pipi nya yang putih merona dengan indah, melihat betapa atletis dan indah nya tubuh Agara.
"Jangan menatap ku seperti itu.. Air liur mu mau jatuh melihat tubuh ku yang indah ini..." Pekik Agara, yang merasa canggung dengan tatapan Raehan. Tatapan yang seolah- olah ingin melahap nya habis.
"Ternyata dia narsis juga..." Batin Raehan, dengan senyum mengembang. Sebuah hal yang luar biasa mengetahui di balik sikap introvert nya Agara, ternyata dia adalah pria yang narsis tingkat langit.
Netra Raehan berhenti pada perut sispack Agara, yang memerah. Pasti karna terbakar kuah bakso meledak pikir Raehan.
"Astaga, perut kak Aga merah... Pasti sakit banget..." Ujar Raehan kini dengan nada panik. Ia langsung menghempaskan diri di samping Agara.
...----------------...
...****************...
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
__ADS_1
Yuk dukung terus karya ini....!!!