Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Kecemburuan Miya


__ADS_3

...358...


Setelah menunggu sekian lama, seperti putri kastil yang menunggu pangeran berkuda datang. Akhirnya Kazuya keluar dengan wajah lega tapi datar. Terlihat di pelipis pemuda yang berwajah Jepang itu buliran keringat. Miya yang melihat sang pujaan hati keluar, segera bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Kazuya.


"Kazuya, kamu baik-baik saja?" cecar Miya dengan cemas sembari tangannya menyeka keringat Kazuya. Namun, pria itu segera menepis lembut tangan Miya. Ia tidak suka jika wajahnya di sentuh.


"Iya, aku baik-baik saja," jawab Kazuya singkat. Ia mengedarkan pandanganya mencari seseorang. Akan tetapi, sosok yang dicari tidak ada di tempat. Ada rasa kecewa yang menyeruak begitu di hatinya. Berniat hati ingin mengatakan hasil ujiannya pada sosok tersebut harus tertunda untuk sementara.


"Bagaimana hasil ujianmu, Kazuya?" tanya Fir.


"Aku tidak bisa memberi tahu kalian sekarang."


"Kenapa?" tanya Miya dengan ekspresi sedikit tidak suka. Ia ada di sini bukan. Ia yang menunggu Kazuya dari mulai pria itu masuk hingga keluar dari ruangan tes. Lalu, kenapa Kazuya tidak ingin mengatakan hasil ujiannya?


"Apa kamu tidak lulus?" tebak Miya lagi semakin cemas. Jika hal itu sampai terjadi, maka harapan untuk selalu berasama Kazuya hilang begitu saja.


"Di mana Raehan, Fir?" tanya Kazuya, mengacuhkan pertanyaan dari Miya. Yah, sejak tadi ia mencari sosok Raehan. Sosok gadis yang sudah membuat ia berada sampai di titik ini. Gadis yang mengulurkan tangannya dan memberikan ia bantuan serta tujuan hidup yang jelas. Sosok gadis yang seperti dewi kebaikan dalam hidup Kazuya. Jadi, ia berniat untuk memberitahu hal ini pertama kali pada Raehan. Ia ingin Raehan bangga dan tersenyum manis padanya. Ia yakin Raehan akan senang setelah ia memberikan kabar ini.


Wajah Miya menunduk sedih. Ia bertanya pada Kazuya. Namun, pria itu malah mengacuhkan dirinya begitu saja. Ia yang menunggu Kazuya di depan ruangan ini. Akan tetapi, orang lain yang di cari pria itu. Hati kecilnya terasa di cubit sakit.


"Raehan, dia di panggil ke ruang BK," jawab Fir dengan santai.


"Apa?" Kazuya sedikit terkejut.


"Iya, pasti karena kasus Kiara."


"Apa dia pergi sendiri? Dion atau Agara tidak menemani Raehan?" Wajah Kazuya terlihat khawatir.


"Tidak, Dion dan Agara sedang ada kelas. Raehan pergi sendiri."

__ADS_1


"Kenapa kamu membiarkannya pergi sendiri?" sentak Kazuya dengan nada tinggi. Ia khawatir jika Kiara akan mencelakai Raehan lagi.


"Woiii, tenang Bro. Raehan pasti akan aman di sana. Dia bersama Kepala Sekolah dan Dewan Guru." Fir menenangkan Kazuya yang mulai naik darah. Meskipun sebenarnya, ia juga khawatir tapi tidak mungkin terjadi apapun saat ada Kepala Sekolah dan Dewan guru lainnya bukan?


Kazuya menyugar rambutnya dengan kasar. Menghela nafasnya panjang. Ia berharap Raehan baik-baik saja. Ia tidak ingin Raehan mengalami kesulitan apapun.


"Ya sudah, antar aku ke ruang BK. Kita harus menyusul Raehan," putus Kazuya mutlak.


"Okeh, ayo," ucap Fir setuju.


Keduanya melangkah menuju Ruang BK. Namun, baru satu langkah mereka berjalan. Miya menghentikan langkah kaki mereka dengan mencekal pergelangan tangan Kazuya.


"Ada apa, Mi?" tanya Fir, ia menatap Miya dengan bingung. Wajah gadis itu terlihat sedih dan hampir menangis.


"Kenapa kamu terus mencari Raehan, padahal ada aku di sini?" tanya Miya pada Kazuya dan mengacuhkan pertanyaan Fir. Ia sudah tidak tahan lagi terus diacuhkan oleh Kazuya. Sejak keluar dari ruangan, pria yang ia sukai terus saja mencari Raehan. Ia juga melihat bagaimana khawatirnya Kazuya saat mendengar Raehan pergi sendiri ke Ruang BK. Sementara dirinya, pria itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Padahal sejak tadi, ia sangat khawatir dengan keadaan Kazuya.


"Fir, aku tidak sedang berbicara padamu. Aku sedang berbicara pada Kazuya. Kenapa kamu terus menjawab pertanyaanku. Aku sama sekali tidak membutuhkan jawabanmu. Jadi, jaga mulut lemesmu itu sebentar saja. Raehan, memang mentor Kazuya tapi aku juga ikut andil kan, aku juga membantunya belajar kemarin. Aku menunggunya di sini, aku mengkhawatirkannya. Seharusnya orang yang kamu cari itu aku, bukan Raehan!" teriak Miya marah dengan air mata yang telah luruh. Ia tidak bisa mengendalikan perasaan cemburu di dalam hatinya.


Fir menatap Miya dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak menduga jika Miya mengatakan hal itu. Mereka memang selalu bertengkar. Namun, Miya tidak pernah membentak ia dengan cara seperti ini. Belum lagi, gadis itu cemburu pada Raehan. Ayolah, mereka adalah sahabat. Cemburu pada sahabat sendiri bukanlah hal yang benar.


"Maafkan, aku Mi. Bukannya aku tidak menghargai bantuanmu. Saat ini, aku hanya ingin bertemu Raehan. Kita harus pastikan dia baik-baik saja," ucap Kazuya dengan lembut. Ia melepas cekalan tangan Miya pada tangannya.


"Fir, ayo!" ajak Kazuya lagi, di mana Fir segera berjalan mendahului Kazuya. Sebelumnya ia menatap sekilas pada Miya dengan tatapan tidak percaya.


Miya menghapus air matanya cepat. Mengontrol rasa sesak yang begitu menyakitkan di dada. Ia menatap lurus punggung Kazuya dan Fir yang berjalan menuju ruang BK. Tidak ingin menyerah begitu saja untuk mengejar Kazuya. Miya berjalan setengah berlari mengikuti kedua pria itu. Ia juga ingin tahu kondisi Raehan.


...----------------...


Raehan keluar dari Ruang BK dengan wajah datar. Di mana pipi kanan gadis itu memerah dengan cap lima jari yang tercetak jelas akibat tamparan super dari ibu Kiara. Jika ditanya sakit, tentu saja sakit.

__ADS_1


Raehan duduk di salah satu kursi panjang di depan kelas terdekat dari ruang BK. Ia menatap surat panggilan kepolisian yang ada di tangannya. Perlahan, Raehan membuka selembar kertas itu dan mulai membaca isi tulisan tinta hitam yang ada pada kertas tersebut.


"Astaga, aku harus pergi dengan orang tuaku. Itu sama saja, aku memberi tahu Popsy dan Momsy. Mereka pasti akan marah dan khawatir," lirih Raehan dengan mendengus frustasi.


Sekarang apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus memberitahu hal ini pada kedua orang tuanya? Ia benar-benar bingung harus apa. Tidak mungkin ia datang sendiri ke kantor polisi. Pasti ia akan ditanyai tentang orang tuanya. Ingin tidak hadir pun juga tidak bisa.


Dari kejauhan terlihat Kazuya, Fir, dan Miya berjalan ke arah Raehan yang masih menunduk dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Rae!" panggil Kazuya dengan senyum mengembang. Di mana Raehan lansung menoleh ke arah sumber suara dan bangkit dari duduknya.


Ia tersenyum melihat Kazuya yang sudah selesai dengan tesnya. Kazuya segera berlari ke arah Raehan dengan cepat dan tidak sabaran. Di mana Kazuya lansung memeluk Raehan saat ia sampai di depan gadis itu.


Hati Miya hancur dan terasa sangat sakit melihat Kazuya yang memeluk Raehan dengan wajah bahagia. Miya meremas jahitan rok seragamnya dengan erat. Meredam rasa cemburu yang bergejolak dan amarah yang ingin segera meledak.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2