Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Dion vs Kiara


__ADS_3

...317...


Di sisi lain, tepatnya di dalam Bis dua. Terlihat suasana hening dan sepi. Para peserta juga sudah mulai letih dan mengantuk, sama seperti keadaan di Bis empat.


Akan tetapi, tidak dengan Dion yang terus menyingkirkan kepala Kiara yang jatuh ke bahunya. Wajahnya terlihat sangat masam, mengalahkan asamnya buah asam.


Ia sangat kesal karena sejak berangkat ia terus di cecar dengan suara gaduh Kiara yang membuat gendang telinganya terasa pecah.


Dan sekarang, lihatlah gadis itu semakin menyusahkan saat tidur. Kepalanya terus saja jatuh ke bahunya, jika saja itu kepala Raehan ia tidak akan menyingkirnya tapi akan mengelusnya dengan lembut.


Mengingat akan Raehan. Dion tidak bisa membayangkan bagaimana kedekatan Agara dan Raehan yang duduk satu kursi. Hanya dengan membayangkannya saja membuat hati Dion terbakar api cemburu.


Jika saja, ia mengecek kembali nama peserta sebelum acara diresmikan. Sudah pasti, yang saat ini berada di sampingnya sekarang adalah Raehan.


Kepala Kiara kembali jatuh di bahu Dion untuk kesekian kalinya. Hal itu membuat Dion benar-benar geram.


"Ck, gadis ulat ini benar-benar memanfaatkan kesempatan. Padahal, aku sudah mendorong kepalanya untuk tidak menyender di bahuku," gumam Dion sembari mendorong kepala Kiara sedikit lebih keras.


Namun, belum beberapa menit. Kepala Kiara kembali jatuh di bahunya, membuat kesabaran Dion habis tak tersisa.


Dion segera meraih sebotol minuman dari saku tasnya. Lalu membuka tutup segel air minum tersebut, dan tanpa dosa menumpahkannya tepat di atas kepala Kiara.


Byurrr!


"Aaaa, stunami!" jerit Kiara saat seluruh wajah hingga dadanya basah karena siraman Dion. Kedua matanya yang terpejam karena mengantuk langsung terbuka melotot dengan lebar. Dion tersenyum menyeringgai, ia merasa senang bisa memberi pelajaran pada gadis seperti Kiara.


"Kak Dion, apa-apaan ini?" pekik Kiara lagi saat mengetahui dalang semua ini adalah Dion. Ia bisa menebak hal itu karena di tangan pria tampan itu terlihat botol air minum.


"Sekarang kau sudah tidak mengantuk lagi bukan?" tanya Dion dengan wajah meledek. Ia sama sekali tidak merasa kasihan pada Kiara yang sudah basah kuyup karena ulahnya.


"Kak Dion, kau tega sekali menguyurku dengan air. Lihat, sekarang baju dan rambutku basah semua," renggek Kiara dengan wajah tertekuk.


"Siapa suruh kamu terus menjatuhkan kepalamu di bahuku."

__ADS_1


"Aku tidak tahu, jika kepalaku jatuh di bahumu. Kau sangat keterlaluan pada seorang gadis."


"Jangan salah, aku bisa lebih keterlaluan lagi, jika gadis itu adalah dirimu."


Kiara mendengus kesal, ia memalingkan tubuhnya. Mengibas-ngibas rambutnya yang basah. Sekarang ia benar-benar merasa kedinginan karena setengah bajunya basah.


Dasar cowok ngak punya hati. Untung ganteng, coba ngak ganteng udah ku pites-pites kagak kutu. Kenapa sih, Kak Dion bersikap jahat kayak gini ke aku? Giliran sama Raehan aja, dia manis banget. Padahal aku lebih cantik dan mempesona daripada Raehan. Lihat saja, meski kau memperlakukanku seperti ini. Aku tidak akan berhenti untuk mengejar dirimu. Batin Kiara dengan melirik Dion tajam dari sudut matanya.


Merasa di lirik, Dion menatap sinis ke arah Kiara yang masih memasang wajah kesal dan cemberut.


"Kenapa? Kenapa kau melirik ke arahku? Apa kau sadar jika kamu bukan gadis tipeku?" cibir Dion membuat Kiara semakin kesal dan panas.


"Hhhh, aku yakin sebentar lagi Kak Dion akan menyukaiku," balas Kiara dengan kepercayaan diri yang tinggi. Ia meredam amarah dan kekesalanya pada Dion karena bagaimanapun Dion adalah targetnya yang harus ia dapatkan.


"Cih, percaya diri sekali kamu," timpal Dion dengan nada berdecih.


"Tentu saja aku percaya diri karena aku cantik, seksi, dan menggairahkan."


"Hentikan! Kak Dion. Sepertinya kamu sudah buta," pekik Kiara menatap Dion dengan nyalang. Namun, Dion hanya merespon biasa-biasa saja.


"Buta?" Ulang Dion yang tidak mengerti maksud ucapan Kiara. Sepertinya gadis di sampingnya perlu diberikan luka pada ego gadis itu, agar dia sedikit tahu diri. Pikir Dion yang kini menatap tajam pada Kiara.


Glek!


Kiara menelan salivanya paksa, saat tatapan Dion menghunus tajam ke arahnya. Tatapan pria itu seperti membekukan seluruh sel tubuhnya. Bahkan, untuk sekedar bergerak Kiara merasa tidak bisa.


"Katakan? Apa maksudmu barusan?" tanya Dion menekan pertanyaannya.


"I-- iya, ka-- kau sudah buta. Bagaimana bisa kamu menyukai Raehan? Gadis yang lebih jelek dariku. Gadis yang sama sekali tidak memiliki kelebihan sedikitpun. Bahkan, aku lebih baik dari gadis pendek itu. Matamu buta karena kamu tidak bisa melihat mana gadis yang cantik dan seksi dan mana gadis jelek dan pendek. Ini seperti kau memilih itik buruk rupa dan melewatkan angsa putih yang cantik," jawab Kiara dengan suara terbata-bata dan tercekat.


"Ha ... Ha ...." Dion tertawa sumbang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar Kiara membandingkan dirinya dengan Raehan, bahkan gadis di depannya berani menjelek-jelekkan Raehan di hadapannya.


Inilah perbedaan antara Raehan dengan gadis seperti Kiara. Perbedaannya sangat jauh, seperti antara bumi dan langit. Akan tetapi, dengan percaya dirinya Kiara mengatakan dia lebih baik dari Raehan.

__ADS_1


Kiara menautkan kedua alisnya, melihat Dion yang malah tertawa. Apa yang baru saja ia katakan adalah hal yang lucu? Tapi di mana letak kelucuannya?


Dion menghentikan tawanya, lalu menatap Kiara dengan tatapan nyalang, seakan siap menghancurkan tubuh gadis itu menjadi serpihan-serpihan kecil.


"Apa kau tidak malu mengatakan itu semua? Apa kau tidak malu membandingkan dirimu dengan Raehan? Dan juga apa kau tidak malu menjelek-jelekkan Raehan di belakang gadis itu? Atau, apakah kau sudah lupa bagaimana Raehan mematahkan jari manismu itu?" cecar Dion dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan Kiara.


Kiara terhenyak dengan sedikit rasa takut yang menyeruak masuk ke dalam dirinya. Tentu saja, ia masih ingat betapa kejamnya Raehan mematahkan jari manisnya tanpa ampun. Bahkan, ia masih bisa mengingat rasa sakit patahan tulangnya.


Dion tersenyum miring melihat raut takut di wajah Kiara. Ia yakin, pasti gadis itu mengingat saat Raehan mematahkan jari manisnya.


"Aku akan memberi tahumu sesuatu Kiara. Dan kau, harus mengingatnya sampai kapanpun. Kenapa aku menyukai Raehan dan tidak menyukaimu? Jawaban sangat simple dan sederhana karena Raehan adalah gadis yang apa adanya. Dia tidak seperti dirimu yang menggunakan banyak topeng dan berusaha mendekati orang-orang berpengaruh. Bahkan, aku yakin jika kau tidak segan untuk menyerahkan tubuhmu pada seorang pria untuk mendapatkan keinginan dan kekuasaan." Dion menjeda kalimatnya sambil menatap Kiara semakin tajam.


"Raehan memang tidak lebih cantik dari dirimu. Namun, hati yang dia miliki sangat cantik bahkan melebihi kecantikan wajahmu. Dia tidak perlu memakai make-up untuk mempercantik wajahnya karena pancaran kebaikan hatinya membuat wajahnya bersinar dan cantik. Sekarang coba kau pikirkan? Laki-laki mana yang tidak akan terjebak dengan pesona Raehan, gadis baik yang selalu apa adanya. Semua laki-laki pasti tahu mana gadis yang baik dan tidak. Kau pasti sangat tahu Felix, si playboy sekolah Milver yang sudah menaklukkan setengah gadis di sekolah ini. Akan tetapi, sayangnya dia tidak bisa menaklukkan hati Raehan. Dan si Felix playboy dengan segudang gadis, patah hati dan terjebak dalam pesona Raehan. Raehan gadis yang mahal. Oleh karena itu, dia berhasil menaklukkan tiga pria paling populer di Milver High School."


Kedua tangan Kiara mengepal dengan sangat erat, bahkan buku-buku tanganya memutih dengan sempurna. Rasa kesal dan kebencian untuk Raehan semakin membesar di dalam dadanya. Ia tidak terima Dion begitu memuja gadis pendek yang baginya tidak ada apa-apanya, dibandingkan dirinya.


...----------------...


...****************...


Mampus lo Kiara 🤣🤣


Jangan lupa


like


koment


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2