
...339...
Bis akhirnya sampai tepat pukul 08:00 malam. Semua murid segera berhampur keluar dari Bis dengan membawa barang-barang mereka. Raehan menepuk pipi Dion dan Agara dengan kedua tanganya. Bahu Raehan terasa mati rasa karena terus menopang dua kepala hingga lima jam perjalanan.
"Kak Aga, Kak Dion, bangun kita udah sampai nih!" seru Raehan membangunkan kedua bayi besar yang masih lengket di bahunya. Akan tetapi, sayangnya bukan bangun Agara dan Dion malah menelusupkan kepalanya pada ceruk leher Raehan.
Raehan mendengus kesal, kedua pria ini sangat membuat ia kerepotan. Niel yang melihat Raehan kesulitan membangunkan Agara dan Dion berjalan mendekat ke arah gadis itu yang sudah terlihat letih dan kesal.
"Dion ngak mau bangun ya, Rae?" tanya Niel dengan anggukan dari Raehan.
"Bantuin donk, Kak. Mereka udah kayak kebo mati, ngak bisa bangun-bangun."
Niel terkekeh geli mendengar penuturan Raehan. Sungguh, adik tingkatnya ini benar-benar sangat lucu meski dalam keadaan terluka sekalipun.
"Dengan senang hati," ujar Niel dengan antusias. Ia meletakkan kedua tangannya di telinga Dion dan Agara bersiap untuk menjewer dua pria yang sedang modus.
"Bentar-bentar, ngak papa Kakak jewer mereka?" tanya Raehan dengan cepat sehingga membuat aksi Niel tertunda.
"Kalau pakai cara halus, mereka ngak akan bangun. Percaya deh sama Kakak, dua cowok ini bakal lansung bangun. Cowok kayak mereka itu emang harus pake cara kasar biar cepet bangunnya," jawab Niel menyakinkan. Raehan mengangguk setuju.
Dengan bersemangat Niel menjewer telinga Dion dan Agara dengan cukup keras sehingga kedua pria itu lansung menjerit kesakitan.
"Aaaaa Sakit!" teriak Agara dan Dion bersamaan dengan menghempas tangan Niel.
"Sialan kamu, Niel!" umpat Dion menatap Niel dengan garang.
"Brengsek kamu," ujar Agara dengan menepuk bahu Niel keras.
Niel yang mendapat semprotan kemarahan dari dua singa yang bangun tidur hanya menyegir seperti kuda. Ia merasa sangat bangga karena bisa menjewer dua manusia datar dan es ini. Sejarah yang harus ia tulis dengan tinta emas.
"Awas kamu, sampai rumah jangan berani nginep dirumahku," ancam Dion dengan mengelus telinganya yang terasa copot.
"Ngak tahu apa, orang lagi tidur asal tarik telinga aja. Pake nyengir lagi mau aku rontokin gigi kamu," sarkas Agara kesal sambil mengelus telinganya juga.
__ADS_1
"Udah ah, kok pada nyalahin Kak Niel sih. Pake ngancem-ngancem segala lagi. Aku yang suruh Kak Niel buat jewer kalian berdua karena kalian ngak mau bangun. Sini, kalau berani lawan aku aja biar aku buat kalian jadi onde-onde," omel Raehan dengan menatap sebal pada Dion dan Agara yang mematung dian, sembari sesekali menguap.
"Iya nih kalian, di suruh ngerawat Raehan malah buat Raehan jadi bantal tidur. Kasihan banget adik gue pasti bahunya mati rasa," ujar Niel mengompori Raehan agar semakin kesal.
Agara dan Dion melongo dengan bibir terbuka. Sepertinya mereka sudah melakukan kesalahan. Seharusnya mereka memanfaatkan moment tidur rival masing-masing untuk berduaan dengan Raehan. Akan tetapi, bodohnya mereka malah tidur.
"Kenapa? Udah nyadar sekarang?" ketus Raehan. Lalu mengambil ransel dan barang-barangnya, kemudian turun dari Bis. Niel segera mengekor di belakang Raehan. Ia tidak mau menjadi santapan dua singa yang baru bangun tidur.
"Ck, sial. Ini ni gara-gara lo tahu ngak," umpat Agara menyalahkan Dion. Lalu, meraih ranselnya dan buru-buru mengejar Raehan.
"Cih, nyebelin banget tu anak. Ngak jelas banget nyalah-nyalahin aku. Aku juga, kenapa pake tidur segala, seharusnya aku manfaatin tuh waktu si Agara tidur biar bisa berduaan sama Raehan," rutuk Dion dengan menyugar kasar rambutnya. Ia meraih ranselnya dan segera turun dari Bis.
Setelah sebelumnya dibariskan untuk mengecek peserta lengkap. Semua peserta dibubarkan dan diminta untuk pulang ke rumah masing-masing. Dewan Guru memberikan dua hari libur untuk para peserta beristirahat, dan untuk kasus Kiara pihak sekolah akan memberikan surat panggilan pada kedua orang tua gadis itu.
Raehan berjalan sendiri keluar dari gerbang sekolah. Ia tengah dilema sekarang, tidak mungkin ia pulang dengan keadaan seperti ini. Bisa-bisa ia kena omelan tujuh kali putaran, tujuh kali tikungan dari sang ibu. Sudah bisa ia bayangkan bagaimana ributnya malam ini jika ia pulang dalam kondisi penuh luka.
"Rae!" panggil Agara dengan berlari ke arah Raehan.
"Pulang sama aku ya."
"Raehan biar pulang sama aku aja." Suara bass yang begitu familiar, membuat Raehan menghembuskan nafas kasar. Sudah di pastikan dua pria itu akan bertengkar lagi karena yang datang adalah Dion.
"Bisa ngak sih, kamu jangan ganggu aku sama Raehan," geram Agara dengan mengepalkan tangannya.
"Ngak bisa, mending sekarang kamu pulang dan Raehan biar aku yang anter!" tegas Dion dengan nada berteriak tepat di depan wajah Vans.
Raehan memutar kedua bola matanya jengah. Kepalanya ingin pecah sekarang, mendengar dua pria yang terus saja bertengkar seperti kucing dan tikus. Sungguh sangat menyebalkan dan membuat ia kesal. Raehan merogoh ponselnya dan mengirim beberapa pesan.
"Berapa kali sih, harus aku bilang. Kamu tuh, sadar diri donk. Raehan itu ngak suka sama kamu, jadi tolong jangan deketin Raehan lagi karena dia milik aku," tekan Agara dengan mendorong bahu Dion.
"Woiii, bangun dari mimpi. Aku ngak akan biarin Raehan dekat sama kamu karena kamu cuma bisa bawa masalah doank. Pria pengecut yang ngak bisa jagain cewek," balas Dion tak mau kalah.
"Stop! Kalian bisa ngak sih ngak berantem sekali aja," bentak Raehan yang sudah sangat jengah dengan Agara dan Dion.
__ADS_1
Kedua pria itu menatap tajam ke arah Raehan, mereka tidak terima dengan sikap Raehan.
"Dengar! Aku ngak akan pulang sama Kak Aga, ataupun Kak Dion. Aku bisa pulang sendiri, aku punya kaki dan aku bisa naik angkot atau taksi. Jadi, lebih baik kalian pergi aja karena aku puyeng dengar kalian berantem terus," tambah Raehan dengan nada frustasi sembari kedua tangannya menunjukkan gaya ingin mencakar.
"Rae, please jangan keras kepala. Ini udah malam, ngak mungkin aku biarin kamu pulang sendiri," protes Agara.
"Popsy lebih percaya sama aku, Rae. Jadi kamu pulang sama aku aja." Dion.
"Hahhh, bicara sama kalian itu percuma yah. Mending kalian tawarin aja tuh cewek-cewek yang ngak ada tumpangan." Raehan menunjuk pada beberapa peserta perempuan yang tengah menunggu jemputan.
"Rae, kamu ikut apa aku paksa!" ancam Agara.
"Ngapain sih kamu, ngancam-ngancam Raehan," sarkas Dion yang tidak terima.
"Diam kamu!"
"Kalian ngak perlu anter Raehan pulang. Biar Raehan pulang sama aku aja!" seru Miya keluar dari mobil dan berjalan mendekat ke arah Raehan.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
tips
__ADS_1