
...362...
Jam sekolah akhirnya berakhir. Semua murid segera berhamburan keluar kelas dengan begitu riang. Wajah mereka yang sempat mengantuk dan juga letih seketika berubah menjadi semringah.
Begitu pula dengan Raehan yang mengemas perlatan tulisnya dengan cepat. Memasukkan semua barang-barang tersebut ke dalam tas. Seperti yang sudah direncanakan, saat pulang sekolah mereka akan pergi Mall untuk membantu belanja keperluan sekolah Kazuya.
"Rae, udah belom?" teriak Fir dengan gaya alaynya.
"Udah kok," jawab Raehan tak kalah antusias. Ia menyampirkan ransel pada kedua pundaknya.
Raehan menatap ke arah Miya yang hendak keluar dari kelas. Niat hati, ingin mengajak Miya sekali lagi. Siapa tahu, sahabatnya itu berubah pikiran dan ingin ikut. Namun, belum sempat bibir Raehan bergerak mengeluarkan suara. Miya dengan wajah datarnya, melenggos begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke arah Raehan atau pun Fir. Seolah-olah gadis itu melewati orang asing yang sama sekali tidak dia dikenal.
Wajah Raehan berubah sedih. Ia masih bingung dengan sikap Miya yang tiba-tiba dingin. Padahal, tadi pagi sebelum ia pergi ke Ruang BK dirinya dan Miya masih bercanda dan menunggu Kazuya selesai tes. Namun, sekarang Miya bahkan tidak melihat ke arahnya hanya untuk sekedar pamit pulang duluan.
Apa dirinya sudah membuat kesalahan? Sehingga Miya bersikap cuek seperti itu. Akan tetapi, apa? Sikap Miya sudah seperti cuaca, yang berubah begitu saja tanpa tahu penyebabnya apa. Ia sangat tidak suka dengan sikap Miya yang sekarang. Di mana sikap Miya seperti menjauhi dirinya.
Fir yang melihat wajah sedih Raehan menggeleng-gelengkan kepalanya pusing. Ia juga tidak mengerti dengan sikap Miya yang dingin. Entah apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Akan tetapi, tidak seharusnya dia membuat Raehan sedih. Fir menghela nafas dalam. Lalu, menghampiri Raehan dan menepuk lembut bahu gadis itu, yang membuat Raehan menoleh ke arah Fir dengan tatapan sendu dan sedih.
"Udah, jangan sedih. Kamu terlihat seperti cuma kering kalau sedih," olok Fir agar mood Raehan kembali bagus.
"Ck, aku rasa Miya sengaja menjauhi kita Fir. Apa kita ada salah?" decak Raehan dengan melempar pertanyaan. Ia tidak suka dengan persahabatan antara mereka menjadi jauh seperti ini. Terasa ada yang kurang jika salah satu tidak ada.
"Aku mengerti, Rae. Tapi aku tidak tahu ada apa dengan Miya."
__ADS_1
"Itu masalahnya, Fir. Miya tiba-tiba bersikap dingin seperti itu. Bahkan, tadi kamu lihat dia melenggang begitu saja tanpa pamit pada kita. Seolah-olah kita tidak ada di sini. Biasanya kan dia tidak seperti itu," hembus Raehan dengan wajah cemberut.
"Iya kamu memang benar tapi kita harus berpikir positif aja, Rae. Siapa tahu Miya lagi butuh waktu sendiri dan lagi ngak mood."
"Tapi seharusnya dia cerita kalau ada masalah. Kita ini sahabatnya bukan orang lain."
"Jika kamu terus memikirkan perubahan Miya yang mendadak maka kamu tidak akan menemukan jawabannya. Jangan pikirkan hal itu sekarang. Kita akan berbicara pada Miya lain waktu. Aku yakin, setelah moodnya baik-baik saja pasti dia akan kembali seperti semula. Sekarang ayo kita pergi. Pasti, Agara, Dion, Niel, dan juga Kazuya sudah menunggu kita," ajak Fir dengan merangkul bahu mungil Raehan yang sangat nyaman sebagai penyangga.
Raehan menghembuskan nafas pasrah. Berjalan bersama Fir dengan pikiran yang melayang menuju Miya. Ada yang salah di sini tapi ia tidak tahu apa itu. Setelah pulang dari Mall ia akan menelpon Miya dan berbicara pada gadis itu. Ia tidak bisa terus membiarkan persahabatnnya dengan Miya semakin renggang. Mungkin, Fir bisa bersikap santai. Namun, ia tidak bisa. Miya adalah sahabatnya, dan ia tidak akan pernah membiarkan persahabatan antara dirinya dan Miya terus seperti ini.
Dari arah yang berbeda. Terlihat tiga pria tampan berjalan dengan diiringi tawa lucu. Para siswa perempuan melongo melihat tiga pria itu tertawa dan tersenyum. Bagi mereka pemandangan tersebut adalah pemandangan yang sangat langka. Apalagi, melihat sang most wanted sekolah tertawa yang semakin membuat wajah pria itu semakin tampan.
Raehan yang melihat tatapan mamangsa dan terpesona yang dilayangkan pada kekasihnya yang super tampan memutar kedua bola matanya malas dengan bibir yang mencebik. Agara, Dion, dan Niel mempercepat langkah kakinya saat melihat Raehan dan Fir. Terutama Agara yang lansung berlari dan menghambur memeluk Raehan.
"Apa Kak Aga tida bisa tidak menebar pesona," sungut Raehan dengan bibir yang dimanyunkan ke depan.
"Tebar pesona? Aku tida melakukan hal itu," sanggah Agara dengan bingung. Ia sama sekali tidak menebar pesona tapi Raehan malah menuduh ia melakukan hal itu.
"Oh ya, terus kenapa tadi ketawa-ketiwi kayak kunti habis melahirkan. Kalau bukan lagi tebar pesona, terus namanya apa? Ngah lihat apa, cewek-cewek pada jelalatan ke kamu."
Agara terkekeh lucu mendengar dumelan cemburu Raehan. Oh, sungguh gadisnya sangat manis jika sedang dalam mood cemburu. Agara mencubit gemas hidung mungil Raehan yang lansung ditepis oleh gadis itu.
"Och, gadis kecilku ternyata posesif juga. Kamu terlihat sangat manis jika sedang cemburu. Aku tidak tebar-tebar pesona hanya saja aku ini memang mempesona sehingga semua gadis terpukau dengan diriku. Apalagi, melihat senyumku. Mereka pasti meleleh sama seperti dirimu." Agara mengedipkan sebelah matanya genit dengan kepercayaan diri super tinggi.
__ADS_1
Haduh, bisa tidak dia tidak berkata dengan jujur. Jika begini aku yang malu. Batin Raehan meringgis dalam hati.
"Ekhhhmmm, kita udah capek ini jadi nyamuk. Apalagi, Kazuya pasti udah lumutan di mobil," celetuk Niel dengan memandang ke sembarang arah. Melihat dua orang yang sedang kasmaran membuat jiwa jomblo dalam dirinya memberontak.
"Iya, kita udah bosen lihat drama kalian yang sosweet dan lebay itu. Kami tahu hanya kalian yang berpasangan di sini. Jadi, kondisikan sedikit karena kalian berada pada zona jomblo," sambung Dion memasang wajah mengejek.
"Tumben banget, kepala belain ekornya. Ha ...," sindir Fir.
"Dih, maksud kamu ekor siapa?" ketus Niel tidak terima.
"Padahal aku ngak sebut nama loh tapi kamu udah ngegas aja. Pasti kamu merasa jadi ekor yah," ledek Fir, yang lansung membuat tawa semua orang pecah. Sedangkan, Niel hanya memasang wajah cemberut. Untung ia penyabar bukan Vampire. Jika tidak, sudah ia gigit leher teman-teman laknat yang sedang menertawakan dirinya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
Komentar
gift
__ADS_1
vote