
...298💛...
Mr. Vinsion terlihat fokus pada berkas yang ada di tangannya. Ia membaca setiap deretan huruf dengan begitu seksama, tanpa melewatkan satu hurufpun.
Senyum penuh kemenangan dan kepuasaan terbit di bibirnya setelah ia selesai membaca berkas tersebut.
"Luar biasa Azam, perjanjian ini akan sangat menguntungkan kita!" seru Mr. Vinsion meletakkan berkas tersebut di atas meja.
"Saya merasa tersanjung. Jika Tuan merasa puas," balas Azam sang asisten pribadi dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Kapan Tuan Levi akan datang? Rasanya aku tidak sabar untuk menjalankan rencana besar ini. Huh, aku yakin bisnis keripik ini akan membuat diriku semakin kaya. Ha ... Ha ...." Mr. Vinsion tertawa senang. Ia bangkit dari duduknya, lalu memandang pemandangan kota Milver yang terlihat cukup indah.
Dirinya bisa mencium aroma uang yang berlimpah dalam hidupnya. Ia tidak perlu khawatir lagi, tentang keputusan Tuan Ledgar yang menarik semua investasi dari bisnisnya. Karna, sekarang ia menukan wadah baru untuk mencetak pundi-pundi uang.
Sebentar lagi, hanya tinggal sebentar lagi ia akan dinobatkan menjadi orang terkaya di kota Milver.
"Permisi Tuan, tamu penting sudah datang!" Lapor seorang anak buah Azam yang sedang berjaga dipintu cafe.
"Persilahkan dia masuk," titah Azam yang langsung diangguki oleh pria dengan kostum serba hitam tersebut.
"Hmmm, aku mencium wangi uang!" seru Mr. Vinsion berbalik menatap Azam.
"Aku sangat yakin, jika Tuan Levi akan menyetujui kesepakatan kita."
"Yah, dia harus. Karna dari tangannya aku akan merebut semuanya."
Klek!
Pintu ruangan Vvip yang kini ditempati Mr. Vinsion terbuka, menampilkan tubuh pria paruh baya yang terlihat masih kokoh dan kuat masuk dengan wajah tersenyum ramah.
"Akhirnya kamu datang rekan," sambut Mr. Vinsion mulai memainkan sandiwaranya. Mr. Vinsion langsung memeluk Tuan Levi dan mempersilahkannya untuk duduk.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan," ucap Tuan Levi tanpa curiga sedikitpun. Jika sekarang bisnis yang tengah ia gelungi tengah terancam.
"Pelayan!" panggil Azam, dimana seorang pelayan wanita masuk sambil menundukkan kepala.
"Siapkan dua minuman segar!" titah Azam, yang langsung dilaksanakan oleh sang pelayan.
Azam mendekat ke arah Mr. Vinsion, dan berdiri tepat disamping sang majikan.
"Bagaimana kabarmu Tuan Levi? Aku dengar kamu memutuskan untuk pindah ke kota Milver," ujar Mr. Vinsion memulai obrolan mereka dengan berbasa-basi. Tentu saja hal itu ia lakukan untuk mendapat nilai orang baik dari Tuan Levi.
"Aku baik Tuan Vinsion. Aku merasa senang, karna ternyata kerja sama kita akan menjadi lebih besar lagi. Bertemu dengan investor terbesar dibisnisku, adalah sebuah kehormatan," balas Tuan Levi merendah.
"Jika boleh tahu, apa alasan Tuan Levi pindah ke kota Milver? Jika saja aku tahu pasti aku akan menyiapkan kediaman yang megah untukmu."
Tuan Levi merasa benar-benar tersanjung dengan niat baik rekan bisnisnya ini. Bahkan Mr. Vinsion sampai berniat untuk menyediakan rumah dikota untuknya.
Pelayan perempuan yang sempat di perintahkan Azam untuk membawa minuman, masuk dengan nampan ditangannya. Dengan hati-hati pelayan tersebut meletakkan dua gelas minuman dingin diatas meja. Setelah selesai pelayan tersebut segera keluar.
"Silahkan diminum Tuan!" ujar Mr. Vinsion memperilahkan Tuan Levi untuk meminum minuman yang telah disajikan.
"Sebenarnya, aku pindah ke kota karna putriku yang sedang mengecam pendidikan di kota ini. Ada beberapa kejadian yang membuatku memutuskan untuk tinggal sementara disini sampai pendidikan putriku selesai." Lanjut Tuan Levi menjelaskan alasannya tinggal dikota. Jika saja bukan untuk menjaga Raehan, ia lebih memilih untuk tetap tinggal di desa dari pada di kota. Karna di sini ia merasa ada seseorang yang mulai mengawasinya.
"Kamu tipe pria penyayang Tuan, aku sangat salut padamu."
Mr. Vinsion menyodorkan berkas yang ada diatas meja pada Tuan Levi. Tentu saja Tuan Levi tahu jika itu adalah berkas kesepatan kerja sama. Karna, tujuan dirinya datang kemari adalah untuk hal itu.
"Silahkan Tuan baca terlebih dahulu kesepakatan kita. Mungkin ada beberapa poin yang Tuan Levi tidak setujui!" seru Mr. Vinsion lalu meneguk minumannya.
Tuan Levi mulai membaca deretan huruf yang tercetak dengan tinta hitam diatas kertas yang putih. Meneliti dan memahami setiap kata yang tercantum dalam kesepakatan tersebut.
Bola mata Tuan Levi berhenti seketika, saat membaca satu poin dari kesepatan yang rasanya kurang tepat.
__ADS_1
"Tuan, aku rasa poin ke lima tidak tepat dalam kerja sama kita. Bagaimana bisa jika pihakku yang melanggar kesepakatan akan menerima konsekuensi seberat ini dengan menyerahkan seluruh bisnis keripikku padamu. Rasanya itu tidak benar Tuan," seru Tuan Levi tidak setuju. Sambil tangannya menunjuk poin yang tertulis dalam berkas yang sangat memberatkan pihaknya.
"Astaga, dia tidak sebodoh yang aku pikirkan," batin Mr. Vinsion.
"Menurutku itu adalah hal tepat Tuan Levi. Karna di sini aku yang menjadi investor terbesar di pabrikmu. Untuk itu aku mengeluarkan banyak uang. Itu artinya aku mempertaruhkan banyak uang. Jadi menurutku poin itu sangat tepat, jika aku hanya mendapatkan finalti yang tidak seberapa maka aku akan rugi Tuan. Bisnis makanan ringan ini adalah bisnis yang tidak tentu. Bisa saja dua tahun ke depan atau entah berapa bulan ke depan, omset penjualan menurun sedangkan modal yang aku keluarkan sangat banyak. Tuan tentu tahu jika selera konsumen sering berubah-ubah. Aku hanya tidak ingin rugi Tuan," jelas Mr. Vinsion.
Tuan Levi terlihat berpikir, tapi rasanya kesepakatan kali ini benar-benar tidak sesuai dengan kesepakatan yang lalu.
Melihat Tuan Levi yang diam, membuat Azam menyuarakan pendapatnya.
"Tuan Levi Anda tidak perlu khawatir, poin ke lima itu hanya akan terjadi jika pihak Anda melakukan pelanggaran. Coba pikirkan, keuntungan yang akan Anda dapatkan dari kerja sama ini."
Tuan Levi semakin berpikir dengan keras. Apa yang dikatakan oleh asisten rekan bisnisnya memang benar. Jika keuntungan yang akan ia dapatkan dari kerja sama ini akan sangat besar. Bahkan ia bisa memenuhi keinginnan warga desa untuk membuat jalan aspal. Tapi, jika pihaknya melakukan sebuah kesalahan. Maka bisnis yang sudah dibangun dengan susah payah, dan melibatkan banyak kepala keluarga akan lepas dari tangannya. Siapa yang akan tahu apa yang terjadi di masa depan.
Tuan Levi menghela nafasnya panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ia menutup berkas yang ada dihadapannya, lalu menatap pada Mr. Vinsion yang sudah mulai menegang.
"Tuan Vinsion, aku membutuhkan sedikit waktu untuk memikirkan tentang kesepakatan ini. Aku harus berunding dengan beberapa rekanku. Aku tidak bisa setuju begitu saja dengan konsekuensi sebesar ini. Aku permisi," pamit Tuan Levi yang langsung bangkit dari duduknya dan segera pergi dengan membawa berkas kesepakatan.
"Aaarrrkkkhhh!!" teriak Mr. Vinsion dengan kesal saat Tuan Levi sudah pergi dari ruangan. Ternyata Tuan Levi tidak sebodoh dan selugu yang ia duga.
"Kesepakatannya tertunda Azam. Rencana kita gagal bahkan sebelum kita memulainya. Dia tidak sebodoh yang kita kira," jerit Mr. Vinsion dengan memukul meja di depannya.
Brak!
Dua gelas minuman yang ada diatas meja seketika tumbang karna mendapat getaran dari pukulan Mr. Vinsion.
"Tenanglah Tuan, aku yakin Tuan Levi akan setuju. Kita hanya harus bersabar. Bukankah sesuatu yang besar membutuhkan kesabaran yang besar juga," hibur Azam menenangkan majikannya yang terlihat sangat gusar.
...----------------...
...****************...
__ADS_1
Mampus tuh Mr. Vinsion. Untung Tuan Levi tidak langsung setuju.
Jangan lupa like, koment, gift and Vote