
...157โฃ...
Agara menatap sendu danau dengan air yang begitu tenang di hadapan nya.
Pikiran dan jiwa nya terhanyut dengan melodi indah yang di nyanyikan alam.
Gemerisik dedaunan yang saling bergesekan, tiupan angin sepoi- sepoi yang meniup rambut nya lembut, seperti sebuah belaian yang begitu memabuk kan.
Cicitan sang penghuni angin terus mencicit seolah sedang berkisah apa yang ia alami hari ini.
Tempat yang begitu sunyi namun sangat menenang kan bagi nya.
Tempat satu- satu nya di seluruh sekolah yang bisa membuat pikiran nya menjadi jernih dan tenang kembali.
Suasana yang sepi, jauh dari hiruk pikuk kebisingan adalah tempat diri nya menyembuyikan apa yang ia rasakan.
Ia marah, namun ia tidak bisa mengungkap kan hal itu.
Ia ingin meraih dan menarik gadis mungil itu dalam pelukan nya. Namun ia juga takut terluka.
Ia tidak rela melihat gadis itu bersama pria lain, tapi ia selalu mendorong nya pergi.
Ketika gadis itu menangis ingin selalu menggenggam tangan nya, ia melukai gadis lemah itu dengan ribuan sabetan pedang.
Sebenar nya ada apa dengan diri nya, mengapa ia begitu terjebak dalam sebuah rasa dilema yang menggerogoti kehidupan nya secara perlahan.
Ia ingin bahagia, tapi kebahagian itu seperti duka yang siap menyakiti nya lagi.
Hati nya terlalu pengecut untuk membuka pintu.
Hati nya terlalu lemah untuk menghadapi kenyataan hidup.
Hati nya begitu rapuh untuk di tampar sekali lagi oleh sebuah kepergian.
Saat kecil, saat dunia masih terlihat begitu indah dengan sebuah keluarga utuh dan penuh dengan memori indah.
Namun tiba- tiba semua nya retak dan perlahan hancur dan menyisakan diri nya yang terkena serpihan beling luka.
Ia hanya takut, jika diri nya sudah mulai nyaman dan menganggap gadis itu adalah rumah dan tempat nya pulang, ia akan di tinggal kan sendiri lagi.
Ia akan di tinggal kan di tengah sepi dan dingin nya kehidupan.
Memori- memori masa kecil Agara terus melintas di kepala nya, seolah kejadian perpisahan orang tua nya menjadi trauma akut yang tak bisa tersembuh kan.
Karna luka ini ia hidup sampai sekarang, tapi karna luka ini juga hidup nya gelap gulita.
__ADS_1
Srak....
Lamunan Agara buyar seketika, saat suara semak- semak dari belakang nya menyadar kan diri nya jika ada yang datang.
Wajah sendu dan sedih nya, seketika berubah menjadi datar. Tak ada aura kehidupan atau pun kebahagian pada wajah putih tampan itu.
Agara segera menoleh kan kepala nya ke belakang, berharap jika yang datang adalah gadis yang sama yang menjadi alasan nya datang ke tempat ini.
Namun harapan tinggal harapan , bukan gadis imut dengan senyum manis yang sedang berdiri sambil menatap nya. Melain kan gadis dengan rambut merah tengah menatap nya canggung.
"Maaf sudah menganggu mu..." Cicit Sofia dengan wajah bersalah, tanpa sengaja ia melihat Agara datang ke tempat ini. Jadi ia mengikuti Agara dan seperti nya kehadiran nya membuat pria di depan nya merasa terganggu.
Namun sedikit yang membuat Sofia bingung, raut wajah Agara yang sedikit terlihat kecewa saat melihat diri nya. Hal itu dapat Sofia arti kan jika Agara mengharap kan kehadiran orang lain. Tapi siapa? ia pun tak bisa menemukan jawaban nya.
"Kenapa kamu kemari?" Sinis Agara yang tidak menyukai kehadiran Sofia , Agara membuang tatapan nya tepat ke arah tengah Danau.
Hati nya sedikit teremas kecewa karna yang datang bukan orang yang ia harap kan.
Diri nya memang sangat aneh, ketika orang itu datang ia malah mendorong nya pergi. Namun ketika ia mengharap kan orang itu datang, yang ada hanya kecewa.
"Aku tidak bermaksud untuk menggangu mu.. Tadi aku tidak sengaja melihat mu datang kemari.. Aku mengira kamu sedang marah dan mungkin butuh teman..." Sofia menipis kan bibir nya, membentuk senyum manis dan mulai berjalan mendekat pada Agara.
Sofia menduduk kan diri nya di samping Agara, sudah cukup lama ia tidak bisa sedekat ini dengan pria tampan di samping nya.
Hati nya sedikit berbunga saat ini, namun ia tidak berani lagi untuk memendam rasa yang tak mungkin di balas.
"Apa kamu baik- baik saja...?" Tanya Sofia dengan nada lembut , sementara tatapan nya juga jatuh pada keindahan danau di depan mereka.
"Kamu tidak perlu mengkhawatir kan aku... Aku sudah sangat bahagia karna kamu menjauhi ku.. "
Hati Sofia rasa nya di tombak dengan keras hingga memiliki lubang menganga yang tak akan bisa sembuh lagi.
Hanya beberapa kalimat yang keluar dari bibir Agara sudah mampu memenggal hati nya.
"Maaf, aku hanya ingin bisa menjadi teman curhat mu... Aku yakin kamu juga pasti membutuh kan seorang pendengar yang baik..."
"Aku tidak membutuh kan siapa pun... Kau maupun orang lain... Jangan sok yakin jika hidup ku membutuh kan mu menjadi pendengar ku... Selama ini aku sudah hidup sendiri, jadi jangan sok peduli..."
Sofia menelan saliva nya paksa, lagi- lagi kata- kata sinis dan menjatuh kan mental keluar dari mulut indah Agara.
Sekali pun dari mulut itu tak pernah satu kata manis untuk nya.
"Ternyata kamu masih trauma dengan masa kecil mu..."
Rahang Agara tiba - tiba mengetat, dengan sorot mata yang berubah merah dan tajam.
__ADS_1
Bahkan urat- urat di leher nya terlihat begitu menonjol seakan ia sedang menahan luka yang sangat berat.
"Kamu tidak akan pernah mengerti rasa sakit nya... Lebih baik kamu pergi dan tinggal kan aku sendiri..." Gertak Agara dengan tekanan di setiap kalimat nya.
Emosi yang selalu memuncak saat seseorang mengingat kan nya tentang masa kecil nya yang hidup tanpa kasih sayang orang tua.
Kasih sayang yang seharus nya ia dapat kan, tapi di ganti kan dengan luka dan duka yang tak tersembuh kan.
Wajah Sofia semakin serius , bahkan kini ia menatap Agara.
"Aga sampai kapan kamu akan seperti ini... Dendam mu itu tidak akan mampu mengubah segala nya. Kenapa hati mu begitu keras hingga kamu tidak bisa memaaf kan tante sabrina.. Sekali saja lihat lah keadaan nya, dia tengah sekarat menanti akan putra nya datang... Ingat Aga bagaimana pun diri nya tante sabrina tetap mama mu..."
"Diam...!!!!" Bentak Agara yang langsung membuat mulut sofia bungkam.
"Tinggal kan aku sendiri... Kamu selalu memaksa ku bertemu dengan nya... Kamu tidak tahu apa- apa... Pergilah...!!! Sebelum aku berbuat kasar pada mu...!!" Teriak Agara marah dengan aura iblis yang menguar dari dalam diri nya.
Sofia menatap takut, pria di depan nya sudah seperti monster yang siap menghabisi nya.
Niat nya hanya ingin membuat hubungan ibu dan anak itu membaik, tapi seperti nya luka Agara masih basah meski ini sudah bertahun- tahun.
Dengan tubuh sedikit gemetar, Sofia pergi dari hadapan Agara dengan isakan tangis yang mulai tumpah.
"Trauma..." Batin Raehan yang ternyata sejak tadi menguping pembicaraan antara Agara dan Sofia.
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
__ADS_1
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???