Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Keripik laknat


__ADS_3

...314πŸ₯Ά...


Tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang indah. Raehan segera meraih cemilan kripik produksi sang ayah dari dalam ranselnya.


Membuka keripik dengan rasa Super Hot Balado Level 10. Raehan mulai menikmati satu persatu setiap potongan tipis keripik tersebut dengan nikmat.


Sementara kedua matanya fokus memandang ke arah luar jendela, melihat pemandangan para murid yang berbondong-bondong masuk ke dalam Bis.


Untung ia mendapatkan kursi di dekat jendela. Sehingga ia bisa melihat pemandangan sepanjang jalan saat Bis ini melaju.


Happ!


Seseorang dengan hoddy putih menduduki kursi di samping Raehan. Raehan hanya melirik sekilas ke samping, lalu kembali menikmati cemilan keripiknya yang mulai membuat lidahnya bergoyang kepanasan karena bumbu yang Hot.


Senyum tipis terulas dari balik tudung hoddy yang sengaja dipakai untuk menutupi wajah.


"Apa yang kau makan?" celetuk pria di samping Raehan membuka pembicaraan. Bisa terdengar pria itu menggunakan suara dalam untuk berbicara.


Raehan menatap lekat pada pria yang menjadi teman sekursinya. Sungguh sangat kebetulan ternyata mereka mengenakan hoddy dengan warna yang sama. Yah, para peserta banyak yang menggunakan hoddy putih termasuk dirinya dan juga Agara.


Namun, tidak mungkin jika Agara ada di dalam Bis ini. Pasti pria itu berada pada Bis pertama bersama anggota Osis lainnya. Raehan menggelengkan kepalanya, menepis harapan jika Agara berada satu Bis dengan dia, apalagi duduk di sampingnya.


Stop Rae, jangan berharap seperti itu. Kamu harus menjauhi Agara. Bukankah itu yang seharusnya kamu lakukan. Batin Raehan mengur dirinya sendiri.


"Apa cemilan itu membuat mulutmu bisu?" celetuk pria itu lagi di samping Raehan, yang cukup membuat Raehan sadar dari lamunannya.


Sok akrab sekali laki-laki ini. Batin Raehan.


"Hmm, mana bisa cemilan membuat bisu," timpal Raehan kembali memasukkan keripik ke dalam mulutnya.


"Soalnya dari tadi kamu hanya diam, aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu. Apa kamu berharap kekasihmu yang duduk di sini?"

__ADS_1


Raehan membulatkan matanya. Pria di sampingnya sudah seperti cenayang yang bisa membaca pikiran orang lain.


"Alah, jangan sok tahu kamu. Orang aku sedang menikmati cemilanku. Asal kamu tahu, ini cemilan keripik nomer satu di kota Milver. Kamu pasti tahu kan?" ucap raehan mengalihkan topik pembicaraan. Ia rasa pria di sampingnya memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang. Meski menarik tapi tetap itu tidak baik.


"Lebih baik sok tahu kan, dari pada pura-pura tidak tahu. Sayangnya, aku tidak tahu jika cemilan itu adalah cemilan nomer satu di kota ini."


"Sepertinya kamu murid yang KUDET."


"KUDET?"


"Kurang Update. Ini kamu boleh mencobanya. Aku yakin kamu akan memasukkan keripik ini ke dalam list cemilanmu," tawar Raehan mulai mempromosikan produk sang ayah.


Pria tersebut setuju untuk mencicipi cemilan Raehan. Ia mengangkat tangannya untuk mengambil sepotong keripik. Namun, tiba-tiba murid lainnya yang tengah berjalan terburu-buru menuju kursinya tidak sengaja menyenggol siku pria tersebut. Sehingga tangan pria itu menepis satu bungkus cemilan keripik tersebut, dan alhasil satu bungkus cemilan itu jatuh tepat di dada pria tersebut, dan yang lebih apesnya lagi, sang supir menyalakan kipas angin putar yang ada di atap Bis. Sehingga bumbu keripik yang Super Hot Balado Level 10 terbang mengenai mata pria tersebut.


"Aaaa perih, panas!" teriak pria itu yang langsung mengucek matanya. kedua matanya terasa terbakar dan ingin meledak. Sangat perih dan panas.


Raehan langsung panik, ia segera menarik tudung hoddy pria itu untuk membantu. Namun, mulut Raehan terbuka lebar saat mengetahui jika pria yang menggunakan tudung itu adalah Agara.


"Kak Aga!" seru Raehan.


Raehan segera sadar dari keterkejutannya. Dengan panik dan khawatir dia meraih botol minuman dari ranselnya. Lalu membasahi sehelai tissu dan membersihkan wajah serta mata Agara.


"Tenanglah, aku akan membersihkan bumbunya," ujar Raehan berusaha menenangkan Agara. Terlihat jelas di wajah Raehan ia juga ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Agara. Bahkan kedua matanya terlihat berkaca-kaca melihat Agara yang begitu kesakitan.


Sedikit demi sedikit kedua mata Agara terasa tidak perih lagi. Namun, Raehan terus membersihkan bumbu di mata Agara hingga air minumnya habis. Entah ia akan minum dengan apa nanti, tapi saat ini yang paling penting ia harus membersihkan wajah Agara agar kedua mata pria itu tidak perih lagi.


Perlahan, Agara membuka kelopak matanya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah Raehan yang sangat dekat dengan wajahnya. Wajah Raehan yang terlihat begitu cemas dan khawatir. Wajah gadis yang sangat ia rindukan dan cintai.


Mungkin akan sangat aneh, jika ia merasa bersyukur bumbu keripik itu terbang ke matanya karena hal itu membuat dirinya semakin dekat dengan Raehan. Tanpa sadar, Agara meraih tangan Raehan yang masih mengelap wajahnya. Ia menarik tangan Raehan dan mengecup dalam punggung tangan gadis itu. Meluapkan rasa cinta dan kerinduan yang sudah menumpuk menjadi satu.


Begitu pula dengan Raehan yang mematung seketika. Saat Agara mengecup dalam punggung tangannya. Tubuhnya seakan berhenti untuk beroperasi, dimana darah yang mengalir dalam tubuhnya berdesir dengan hebat, seperti ada sengatan listrik yang menjalar di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Ponnn!


Suara klakson Bis membuat Raehan tersadar. Ia segera menarik tangannya dan berpaling ke arah luar jendela. Jantungnya masih berdetak dengan sangat cepat, dimana kecanggungan seketika menyeruak di antara Agara dan Raehan.


Agara menatap Raehan dengan sedih. Gadis itu langsung membuang wajah tanpa ingin melihat dirinya sedikit pun. Rasanya sangat sakit, saat mengingat bagaimana dulu Raehan selalu betah menatapnya berlama-lama.


Tanpa Agara tahu jika Raehan membuang muka karna jantung gadis itu yang sedang berdetak tidak normal. Agara memunguti sisa-sisa keripik yang masih menempel di bajunya. Lalu membuang cemilan laknat sekaligus perantara dirinya mendapatkan perhatian Raehan ke dalam tong sampah.


Kedua matanya masih terasa perih dan sakit. Namun, tidak seperih sebelum Raehan membersihkan bumbu yang ada di matanya.


Raehan melirik ke samping dengan ekor matanya. Ia masih malu jika harus menatap Agara langsung. Haruskah ia bahagia karena ternyata harapannya teruwud, atau ia harus merasa kesal karena tuhan kali ini juga mengabulkan harapannya yang kini membuat dirinya mati kutu.


Berbeda dengan keadaan di luar Bis. Dion yang sedang mengatur tim yang akan di kawal, sejak tadi terus mengulang membaca nama para peserta yang akan naik ke Bis dua.


Namun, nama yang ia harapkan tak kunjung ia temukan. Padahal ia sudah menyematkan nama Raehan ke dalam timnya. Lalu kemana nama Raehan menghilang?


"Kak Dion, kenapa terus mengulang nama kami?" tanya salah seorang peserta melayangkan protes.


"Diam, lebih baik kamu segera naik ke Bis," timpal Dion dengan sinis. Peserta itu pun memutar bola mata malas. Percuma tampan tapi judesnya minta ampun, pikir peserta itu lalu segera naik ke dalam Bis.


"Ion, udah jangan di bolak-balik terus kertasnya. Nama Raehan ngak bakal ketemu," ujar Niel yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Dion.


...----------------...


...****************...


Hahaha... kasihan ya AgaraπŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


Jangan lupa like


koment

__ADS_1


givt


vote


__ADS_2