
...84...
Beberapa waktu berlalu dengan cepat. Dion masih duduk dengan tenang di sofa salon sambil memainkan ponsel nya.
Raga nya mungkin di sini, tapi tidak dengan pikiran nya. Pikiran nya melayang begitu jauh dengan dilema hati yang kini tidak tahu apa yang harus ia pilih.
Melihat kondisi dan situasi dengan takdir yang terus mempertemukan nya dengan Raehan. Membuat niat awal nya goyah dan hampir hancur.
Tapi kenyataan jika Raehan tidak menyukai nya menjadi pemukul mundur untuk diri nya pergi dan berhenti memperjuang kan perasaan nya.
Semakin diri nya memikirkan hal tersebut, ia benar- benar semakin pusing.
Drrrttt....
Drrrttt....
Drrrtttt.....
Getaran ponsel di tangan nya membuat Dion tersadar. Ia mengamati nomer tidak di kenal yang tertera pada layar benda ajaib itu.
Dion mengerjit sebentar lalu menggeser tombol hijau.
"Heiii tampan....!!" Pekik suara seorang gadis yang langsung membuat mimik wajah Dion berubah suram.
"Apa kamu masih tidak mengerti juga... Jangan menelpon ku lagi..." Balas Dion dingin.
"Hhhh... Tidak bisa untuk hal itu aku tidak bisa.. Kamu benar- benar jahat Dion.. Berani sekali kamu memblokir nomer ku.. Untung aku pintar jadi hal itu tidak akan membuat ku berhenti untuk menelpon mu..." Sahut suara manja dari ujung telpon.
"Kiara...!!! Aku tidak peduli dengan omong kosong mu. Sekali lagi kau menelpon ku lihat saja apa yang akan ku lakukan..."
"Ha... Ha... Apa ini ancaman ?"
"Bukan tapi sebuah peringatan..." Dion langsung mematikan telpon sepihak, lalu memblokir nomer Kiara secepat kilat.
Ia benar- benar tidak suka dengan gadis gila itu. Kiara terus saja mengganggu nya saat gadis itu tahu nomer ponsel nya. Tentu saja itu juga salah nya, karna diri nya yang memberikan nomer nya pada Kiara dengan menukar nya untuk mendapat kan informasi tentang Raehan.
Dan sejak itu juga, Kiara terus menganggu diri nya. Gadis itu terus menelpon diri nya meski ia sudah mengatakan hal kasar atau ancaman untuk membuat gadis itu menjauh.
Tapi seperti nya pesona nya begitu kuat, bukan nya menjauh Kiara malah semakin menempel pada nya.
Hal itu membuat pikiran nya semakin ruwet dengan suasana hati yang kini patah.
"Apa kak Dion punya hubungan dengan Kiara...?" Suara imut dan lugu seketika membuat Dion tersentak.
Dion langsung mengalih kan pandangan nya ke arah Raehan yang sudah berdiri sambil memasang wajah sedikit tidak nyaman.
Blushhhh....
Ke dua pipi Dion langsung merona layak nya tomat matang.
Ke dua mata nya terbuka begitu lebar, melihat Raehan dengan gaya yang begitu berbeda.
Gadis kecil yang selalu tampil dengan rambut panjang sepunggung, kini tampil dengan rambut pendek di atas bahu. Membuat aura keimutan Raehan benar- benar memancar dan berhasil meruntuh kan pertahanan Dion.
Sungguh di dalam lubuk hati Dion, ia mengubah niat awal nya untuk menjauh dari gadis kecil itu, Kini menjadi keinginan untuk membuat Raehan tetap di sisi nya.
"Dengan penampilan seperti ini.. Dia benar- benar semakin imut..." Puji Dion membatin dengan pandangan terpsona.
Raehan yang masih berdiri mematung, terlihat tidak nyaman dengan tatapan Dion.
Apa dia terlihat aneh?
__ADS_1
Tapi memang benar ia sangat terlihat berbeda dengn potongan rambut ini.
Kepercayaan diri nya sekarang benar- benar merosot. Bukan nya tambah cantik malah tambah jelek.
Wajah Dion saja begitu kaget dan hampir pingsan melihat style terbaru nya. Apa lagi besok saat di sekolah, mungkin seluruh murid akan menertawai dan mengejek diri nya.
Dan Agara, bagaimana pendapat nya?
Ini semua ulah penata rambut itu, om banci yang selalu menatap diri nya dengan sinis.
Ia yakin om banci itu sengaja membuat rambut nya seperti ini, untuk sebagai bahan tertawaan.
Hhhh jika bisa, ia ingin sekali adu cakar dengan om banci itu. Meski tubuh om itu jauh lebih besar tapi ia tidak takut sama sekali.
"Aku tahu ekspresi nya akan seperti ini... Sekarang aku yakin aku benar- benar terlihat jelek..." Rutuk Raehan sambil menunduk.
Satu buliran bening meluncur dengan bebas dari sudut mata nya.
Dion tersentak kaget, melihat Raehan bersedih. Ia segera menghampiri Raehan dengan salah tingkah.
Meski ia sering membuat gadis ini menangis, tapi kali ini otak nya benar- benar tidak berfungsi alias menjadi bodoh.
Ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Tenang lah,,, kenapa menangis lagi? apa kamu tidak lelah menangis terus...?" Papar Dion, yang langsung membuat Raehan mengangkat wajah nya cemberut.
Astaga laki- laki di depan nya benar- benar sangat menyebal kan.
Bukan nya menghibur malah menyalah kan diri nya yang menangis.
Apa perlu aku mengatakan pada nya jika aku sedih karna tampil jelek.
"Tentu saja aku sedih, aku kehilangan rambut ku yang berharga..." Balas Raehan jutek.
"Itu hanya rambut lagi pula rambut mu jelek.." Jawab Dion asal.
Urat- urat kekesalan menguar dari diri Raehan.
Berani sekali Dion mengatakan rambut nya jelek. Selama beberapa tahun ia menjaga rambut nya dengan baik. Dan dengan seenak nya pria egois ini mengatakan rambut nya jelek.
Ingin rasa nya saat ini Raehan mencincang tubuh menjulang di depan nya.
"Oke.. Tenang lah maksud ku bukan begitu.. Kamu terlihat semakin imut dengan rambut pendek.." Ucap Dion lagi sebelum mendapat tumpahan lava kemarahan.
Blushhh...
Sedetik kemudian wajah Raehan langsung memerah.
Apa ini sebuah pujian?.
Apa benar dengan semua itu.?
Apa benar ia terlihat lebih imut?.
Astaga kenapa jantung nya malah berdetak sangat cepat sekarang.
Tangan Dion terangkat, menyentuh pipi lembut Raehan dan mengusap sisa- sisa air mata di sana.
Dion mengulas senyum sebelum menunduk mendekat kan wajah nya pada Raehan.
"Kamu benar- benar terlihat manis dan imut..." Bisik Dion yang berhasil membuat Raehan terpaku.
__ADS_1
"Hmmmm...." Dehem Om banci yang tiba- tiba datang.
Raehan langsung mendorong tubuh Dion menjauh dari nya.
"Kalau kalian ingin bermesraan jangan di sini.. Jangan buat aku cemburu.. Hei gadis kecil kau menang karna mendapat kan hati tuan muda.. Pantas saja tuan muda begitu tertarik dengan mu ternyata kamu lebih manis dari aku..." Ujar Om banci dengan sinis.
Raehan mengerjit tidak percaya, ternyata manager itu menyukai Dion.
Raehan melipat bibir nya dalam menahan tawa yang semakin menggelitik perut nya.
Puk...
Tangan Dion mendarat di kepala Raehan.
"Jangan berpikir macam- macam..." Cicit Dion dingin saat melihat ekspresi wajah Raehan yang membuat jiwa laki- laki sejati nya tersinggung.
"Ayo pulang..." Lanjut Dion lagi sebelum Raehan bisa membuka mulut untuk membalas diri nya.
Dion langsung menarik tangan mungil Raehan keluar dari salon. Meninggal kan sang menager dengan muka masam.
...----------------...
...****************...
Bonus pic visual
Raehan
Agara
Dion
Felix
...ππππ...
Jangan bosan terus ya dengan karya othorπππ
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
__ADS_1
Kalian benar- benar kejam ama thorπππ???