
...355...
"Selamat pagi, Kak Dion, Kazuya," sapa Raehan dengan ramah seperti biasanya. Tidak lupa dengan senyum menyegir di bibir mungil berwarna pich miliknya.
"Selamat pagi, rubah betina," balas Dion dengan mengacak rambut Raehan gemas. Hal yang selalu ia lakukan dulu sampai sekarang.
"Issh, Kak Dion. Rambutku jadi berantakan," protes Raehan dengan wajah cemberut sembari merapikan rambutnya yang acak-acakan karena ulah Dion.
"Selamat pagi, Raehan yang cantik," ucap Kazuya membalas sapaan Raehan dengan embel-embel pujian di akhir kalimat meskipun sebenarnya memang benar Raehan terlihat cantik pagi ini.
"Ekhhhmmm, jangan pake acara muji segala donk. Di sini udah ada pawangnya," sindir Agara yang tidak terlalu suka dengan pujian Kazuya.
"Kak Aga, ngak boleh gitu." Raehan menyikut lengan kekasihnya yang posesif itu. Bukannya senang ia dipuji, Agara malah memasang taring marah.
"Kazuya, jangan memuji kekasihku lagi. Aku tidak ingin dia berpaling dariku. Asal kamu tahu, matanya ini suka jelalatan mencari pria tampan." Agara menekan kalimatnya sehingga terdengar seperti sebuah peringatan.
"Maaf, Aga. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Kazuya meminta maaf dengan sepenuh hati. Ternyata Agara begitu posesif pada Raehan. Sepertinya cinta Agara pada Raehan memang sangat besar. Bahkan, ia sendiri yang bernotabene sebagai teman Raehan dilarang keras memuji gadis itu.
Raehan menatap Agara dengan wajah kesal. Ia menepuk bahu Agara dengan keras, hingga pria itu menoleh ke arahnya dengan tatapan tak kalah tajam.
"Kak Aga apa-apaan sih, Ngelarang Kazuya muji aku? Bilang aku jelalatan segala lagi," marah Raehan dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Karena aku cemburu, Rae. Wajar jika aku cemburu saat pacarku sendiri dipuji orang lain. Hanya aku yang berhak memujimu," putus Agara dengan mutlak. Lalu, merangkul pundak Raehan dengan mesra.
"Sudahlah, berhenti bertengkar. Jangan bertengkar di hadapan pria patah hati dan juga jomblo ini. Dan kau Agara jangan terlalu keras dengan Raehan. Dia itu sangat lembut seperti kapas, kasihan jika diperlakukan dengan keras dia bisa semakin kecil," ledek Dion sambil menahan tawa.
"Kak Dion!" pekik Raehan semakin sebal. Ia menghentakkan kedua kakinya dengan keras sebagai tempat pelampiasan. Kedua laki-laki tampan itu benar-benar sangat menyebalkan.
"Sudahlah, dari pada sama kalian. Lebih baik aku pergi sama Kazuya." Raehan menarik tangan Kazuya dengan kasar da menggeret pria berwajah Jepang itu masuk ke dalam sekolah, meninggalkan Dion dan Agara yang melongo.
__ADS_1
"Dia sangat pemarah," ucap Agara dengan menggelengkan kepala.
"Tapi manis, bukan?" timpal Dion.
"Jika dia tida manis, mana mungkin aku bisa jatuh cinta padanya."
"Kamu beruntung mendapatkan gadis seperti Raehan, Aga."
"Kamu juga bisa mendapatkan gadis seperti Raehan." Agara merangkul pundak Dion. Lalu, keduanya berjalan santai menuju ke dalam sekolah.
"Aku belum siap. Hatiku masih hancur untuk menemukan gadis dan merasakan cinta kembali. Menata hati tak semudah menata benda. Butuh waktu, untuk mengobati luka dan menunggunya untuk sembuh." Nada suara Dion terdengar sendu. Hal itu membuat Agara ikut merasakan kesedihan dan derita yang dirasakan oleh Dion. Namun, kembali pada realita. Cinta tak pernah bisa dipaksakan. Cinta memilih tempatnya sendiri untuk berlabuh dan menetap.
"Aku sangat mengerti apa yang kamu rasakan. Akan tetapi, tidak kah kamu berpikir untuk menerima Anet? Dia adalah gadis yang baik dan juga sangat mencintaimu, Ion. Jadi, menurutku tidak ada salahnya jika kamu mencoba membuka hati pada Anet," saran Agara.
"Apa kamu akan membuka hati ketika hatimu masih mencintai Raehan?"
"Tentu saja tidak."
Agara terdiam setelah mendengar perkataan Dion. Lidahnya terasa kelu dengan bibir yang bungkam. Dion memang benar. Luka hati tidak akan sembuh hanya dengan menerima orang baru. Hal itu hanya akan membuat kedua belah pihak menjadi tersakiti.
Agara dan Dion berjalan menuju kelas untuk mengikuti kelas persiapan ujian akhir sekolah. Mereka tidak bisa menemani Kazuya untuk melakukan tes beasiswa. Lagi pula, ada Raehan yang akan menemani Kazuya.
...----------------...
Di sini lain, Raehan dan Kazuya berhenti di depan pintu ruangan tes. Hari ini, Kazuya akan melakukan tes beasiswa agar bisa bersekolah di tempat ini. Raehan sangat berharap Kazuya bisa lulus karena pria itu pantas untuk mendapatkan pendidikan yang baik.
"Aku benar-benar merasa gugup," ujar Kazuya dengan menarik nafas dalam. Lalu, mengeluarkannya dengan perlahan. Berusaha meredam rasa gugup serta grogi yang semakin membuat ia menjadi gelisah.
"Tenanglah, aku yakin kamu pasti bisa, Kazuya. Saat kamu mengerjakan tesnya. Kamu hanya perlu fokus dan jawablah soalnya dengan benar. Jangan lupakan apa yang aku ajarkan kemarin." Raehan menenangkan Kazuya dengan memberikan pria itu semangat.
__ADS_1
"Aku juga inginnya begitu, tapi aku grogi. Bagaimana jika aku tidak bisa?"
"Kalau kamu berpikir seperti itu, maka itu akan terjadi. Jadi, berpikirlah jika kamu bisa. Maka kamu pasti akan bisa. Sekarang coba tenangkan dirimu. Tarik nafas dalam, kemudian hembuskan dengan perlahan. Terus lakukan itu dan yakinlah pada dirimu."
"Kazuya, semangat!" teriak Miya yang sedang berlari ke arah Raehan dan Kazuya. Gadis itu berjalan bersama dengan Fir.
Miya tersenyum lebar setelah sampai di depan Kazuya. Dia terlihat begitu bersemangat. Dari balik punggungnya, Miya mengeluarkan setangkai bunga mawar berwarna Pink. Lalu, tanpa malu berlutut di depan Kazuya.
Raehan, Fir, serta Kazuya membuka mulut lebar-lebar melihat aksi berani Miya. Fir segera membuang wajah, ia sangat malu melihat kelakuan sahabatnya yang satu itu. Seharusnya yang berlutut dan memberi bunga itu adalah seorang pria kepada seorang gadis. Bukannya malah kebalik seperti ini.
"Kazuya, terimalah bunga ini. Aku membawakannya khusus untukmu agar kamu makin semangat untuk menjawab soal. Nanti, kalau kamu kesulitan menjawab soal, lihat saja bunga mawar ini dan bayangkan wajahku. Maka kamu pasti akan menemukan jawabannya," ujar Miya dengan menatap lekat wajah tampan Kazuya. Ia mengatakan hal itu dengan suara yang begitu lembut dan mendayu-dayu.
Kazuya terlihat salah tingkah denga apa yang dilakukan oleh Miya. Ia merasa malu diperlakukan seperti ini. Ia tidak suka dan merasa risih. Raehan yang melihat Kazuya hanya diam mematung, menepuk pundak pria itu. Di mana Kazuya lansung menatap dirinya. Raehan memberikan isyarat untuk menerima bunga dari Miya dengan melirik ke arah bunga mawar tersebut.
Tidak enak hati, dengan terpaksa Kazuya menerima bunga mawar tersebut dengan senyum tipis di bibirnya.
"Terimakasih," ucap Kazuya. Miya segera bangkit dan berjingkrak senang. Usahanya pagi ini ternyata tidak sia-sia. Ia yakin Kazuya pasti terbawa perasaan dengan aksinya barusan.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
__ADS_1
vote
tips