
...248π...
Dring...
Dring...
Dringg...
Tiba- tiba deringan telpon terdengar, membuat kaki penculik itu mengambang di udara.
Sedang kan Raehan langsung membuka ke dua mata nya cepat, di mana telapak sepatu penculik itu hanya berjarak lima sentimeter dari wajah nya.
Tapi kenapa penculik itu berhenti?
Tanya Raehan bingung.
"Jangan... Panggilan dari bos..." Cegah rekan penculik itu yang menunjuk kan layar ponsel nya pada rekan nya yang hendak menginjak kepala Raehan.
Penculik itu pun menarik kaki nya. Membuat Raehan menyeringgai penuh kemenangan.
"Bangun kan dia...!" Titah penculik yang sedang memegang ponsel pada teman nya yang lain. Di mana tangan penculik tersebut menarik lengan rekan nya yang masih terbakar emosi.
Penculik tersebut menarik kursi Raehan untuk membuat nya kembali terduduk.
...----------------...
Sementara di apartemen Agara, pria tampan itu tengah mengunyah roti dan meminum susu sebagai sarapan nya.
Ia sengaja tidak datang pagi ke sekolah, karna memang acara hari ini hanya acara seleksi osis babak terakhir yang akan di ada kan pukul sepuluh.
Sementara Raehan juga menolak untuk di jemput jadi Agara memutus kan untuk berangkat nanti saja.
Agara meraih boneka kelinci putih di atas ranjang nya.
Kemarin saat perjalanan pulang, ia mampir ke toko boneka, karna melihat boneka kelinci yang sangat lucu. Tentu saja saat melihat sesuatu yang lucu Agara mengingat kekasih hati nya.
Tanpa pikir panjang ia pun membeli boneka itu dan berniat akan memberi kan boneka kelinci lucu ini sebagai kejutan untuk Raehan nanti.
Agara yakin kekasih nya akan sangat senang dan pasti nya akan memberi kan diri nya sebuah pelukan hangat.
Hanya dengan membayang kan nya saja, membuat hati Agara menghangat.
Dringg...
Dringg...
Dringg....
Ponsel Agara berdering, membuat fokus Agara teralih kan pada benda pipih berbentuk persegi tersebut.
"Apa dia berubah pikiran dan ingin aku menjemput nya..." Gumam Agara dengan menyengir senang karna mengira jika panggilan telpon itu pasti dari Raehan.
Siapa lagi yang sering membuat ponsel nya berdering jika bukan kekasih kecil nya itu.
Agara segera meraih ponsel nya, namun wajah sumringah nya langsung tertarik, seperti kaset rusak saat melihat jika bukan nama Raehan yang terpampang pada layar ponsel nya melain kan nomer yang tak di kenal.
"Nomer siapa ini?" Gumam Agara bertanya pada diri nya sendiri dengan bibir yang mencebik.
Dengan sekali geser, panggilan telpon tersebut langsung tersambung.
Di mana Agara langsung mendekat kan benda pipih itu ke telinga nya.
__ADS_1
"Hallo siapa?" Tanya Agara dengan suara dingin tidak bersahabat seperti biasa.
"Agara ini mama nak..." Suara lembut dan sedikit bergetar langsung menyapa gendang telinga Agara.
Suara yang begitu familiar bagi nya.
"Mama...!" Ucap Agara dengan mengembang kan senyum nya layak nya sebuah kue sponcake.
"Iya ini mama.. Apa Agara sedang berada di sekolah? maaf mama menganggu Aga..." Ucap Nyonya Sabrina dari ujung telpon.
"Tidak papa ma.. Lagi pula Aga belum berangkat ke sekolah.. Tapi sebentar lagi berangkat kok ma.. Mama sudah minum obat?"
Di ujung telpon Nyonya Sabrina tersenyum bahagia saat Agara menanya kan apa diri nya sudah minum obat.
Ia benar- benar senang karna di perhati kan oleh putra semata wayang nya.
"Iya.. Mama sudah minum obat sayang... Mama mendapat kan nomer ponsel mu dari Sofia.. Jadi mama menelpon mu..."
"Aku tadi hanya mengira jika ini adalah orang iseng yang sedang menelpon ku..."
"Oh Aga, mama hanya ingin mengingat kan kepada mu.. Untuk segera menemui pengacara seperti yang mama suruh kemarin malam.. Jangan sampai kamu lupa nak...!" Nyonya Sabrina mengingat kan Agara di mana suara nya di tekan kan. Karna memang ia tidak ingin Agara sampai melupaka kan hal penting seperti nya.
"Iya maa.. Setelah pulang sekolah aku akan segera menemui pengacara.." Patuh Agara yang sebenar nya lupa akan hal itu.
Ting...
Tong...
Ting...
Tong...
Suara apartemen Agara tiba- tiba berbunyi, membuat Agara memaling kan tatapan nya pada pintu Apartemen nya.
Seingat nya diri nya sama sekali tidak mengundang siapa pun, lagi pula diri nya sama sekali tidak memiliki teman.
Hanya Raehan yang ia miliki , namun tidak mungkin jika Raehan yang datang.
Lagi pula untuk apa?
"Ma.. Nanti Aga telpon lagi ya.. Ada yang datang berkunjung..." Ucap Agara.
"Baik lah...."
Tut...
Agara memutus kan panggilan telpon nya, setelah mendapat kan izin dari Nyonya Sabrina.
Agara segera beranjak dari kursi nya, lalu berjalan mendekat ke arah pintu apartemen nya.
Ting..
Tong..
Agara segera membuka pintu, dan menarik daun pintu untuk melihat siapa yang datang ke apartemen nya.
Wajah Agara menegang seketika , di mana rahang nya terlihat mengeras. Urat- urat leher Agara juga mengeras serta sorot mata nya menyalang siap membabat habis semua yang ada di hadapan nya.
"Hai putra ku...!" Ujar pria baruh baya dengan senyum sumringah di bibir nya.
Agara semakin mengerang saat pria di depan nya memanggil nya putra. Siapa lagi yang datang jika bukan Mr. Vinsion. Pria yang paling di benci oleh Agara di seluruh dunia.
__ADS_1
Melihat senyum pria tersebut, membuat perut Agara terasa mual.
Sungguh menjijik kan.
"Untuk apa kamu datang kemari penjilat...?" Sarkas Agara dengan ucapan yang tajam bak pedang.
Senyum sumringah Mr. Vinsion langsung menyusut seperti kerupuk kulit yang terkena air.
Tidak di pungkiri jika ucapan Agara memang berhasil menyabet harga diri nya.
Tapi sedetik kemudian wajah Mr. Vinsion kembali tersenyum.
Ia harus bersabar untuk menghadapi putra emas nya yang akan menjadi tambang keutungan terbesar bagi nya.
"Waooo... Pujian mu langsung menembus hati papa mu ini Agara... Tapi papa ke sini untuk menjemput mu..." Balas Mr. Vinsion dengan tersenyum.
"Menjemput?" Tanya Agara dingin.
Apa lagi yang akan di perbuat oleh ayah durhaka nya.
Semakin hari diri nya semakin muak menghadapi tinggkah Mr. Vinsion.
"Jangan bilang kamu lupa jika hari ini adalah hari pertunangan mu dengan Lessia Aga.."
Agara mengeram semakin kesal.
Lagi- lagi Mr. Vinsion datang ke apartemen nya untuk memaksa diri nya untuk bertunangan.
Sudah ratusan kali diri nya menolak dan menegas kan jika ia tidak akan mau bertunangan dengan Lessia.
Tapi seperti nya ayah durhaka nya itu tuli. Hingga mulut nya berbusa sekali pun orang seperti Mr. Vinsion. tidak akan mendengar kan.
Grep...
Agara menarik kerah baju Mr. Vinsion di mana ia menatap Mr. Vinsion dengan tatapan jijik.
"Apa kamu tuli...? Atau telinga mu sudah mati fungsi.. Sudah aku kata kan jika aku tidak ingin bertunangan dengan Lessia.. Siapa diri mu yang berani memerintah diri ku.. Ingat jika bagi ku kamu adalah pria bajingan bermata uang di dunia ini." Hina Agara yang sudah terbakar api kemarahan.
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othorπππ
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thorπππ???
__ADS_1
.