
...247π...
Srak....
Penculik itu mengcengkram dagu Raehan dengan kuat, di mana Raehan merasa rahang nya sedang di hancur kan.
Namun ia tidak akan terlihat kesakitan. Ia tidak mau para penculik itu merasa diri nya lemah.
"Ternyata kamu sangat garang ya... Ha.. Ha.. Kamu bertanya siapa kami? tentu saja kami tidak akan menjawab karna itu bukan urusan mu...." Timpal penculik yang sedang mencengkram keras dagu Raehan.
Di mana ke dua kawan nya yang lain tertawa lucu melihat apa yang tengah di lakukan oleh teman nya.
Raehan mengepal kan ke dua tangan nya dengan erat. Bahkan buku- buku tangan nya sampai memutih dengan sempurna.
Benar juga apa yang di kata kan penculik itu.
Bahwa mereka tidak akan pernah mau mengaku.
Diri nya memang konyol, untuk apa ia bertanya pada pelaku nya langsung.
Pikir Raehan di mana rahang nya semakin di cengkram dengan semakin kuat.
Sial, jika terus seperti ini bisa- bisa rahang nya akan bergeser.
"Lihat bibir nya seperti ikan... Ha.. ha.." Olok sang penculik yang masih setia mencengkram dagu Raehan hingga bibir Raehan mengerucut ke depan.
Cuih....
"Assshhhhh....." Desah penculik tersebut di mana ke dua mata nya terpejam saat Raehan meludahi wajah nya.
Raehan segera menarik wajah nya, saat merasa kan cengkraman penculik itu melemah di rahang nya.
"Jangan berani menganggu ku.. Jika sampai aku lepas aku pasti kan nyawa kalian tidak akan berada di tubuh kalian lagi..." Ujar Raehan mengancam dengan menekan setiap perkataan nya.
Kali ini ia tidak main- main jika sampai ia berhasil lolos ia pasti kan nyawa ketiga penculik itu hilang melayang ke neraka.
"Ohhh aku sangat takut...!!!" Ucap penculik yang lain nya memasang wajah yang di buat ketakutan.
Namun beberapa detik kemudian ia berjalan mendekat ke arah Raehan.
Ternyata gadis lemah dan kecil di depan nya memang memiliki nyali yang cukup besar untuk memgancam tiga pria dewasa.
Raehan menatap semakin nyalang pada penculik yang semakin mendekat ke arah nya.
Plak......
Bruk...
Satu tamparan sangat keras melayang di pipi Raehan.
Bahkan saking keras nya, Raehan terjatuh di lantai bersamaan dengan kursi yang di ikat di tubuh nya.
"Jangan sok mengancam bocah kecil... Belum sempat kamu melenyap kan kami... Nyawa mu yang akan terlebih dahulu menghilang dari dunia ini..." Sarkas penculik itu.
__ADS_1
Sementara Dion yang melihat hal tersebut tidak bisa berbuat apa- apa.
Setetes buliran bening jatuh begitu saja dari sudut mata nya. Saat melihat Raehan di tampar dengan begitu keras.
Rasa nya diri nya yang hancur berkeping- keping.
Ia yang sebagai laki- laki sama sekali tidak bisa melindungi Raehan.
Ia benar- benar tidak berguna.
Raehan menyeringgai. Tidak ada sedikit pun rasa sakit yang di tunjuk kan oleh Raehan meski sebenar nya pipi nya terasa sangat panas dan kebas.
"Tanpa kalian kata kan.. Aku sudah tahu jika kalian hanya lah anak buah suruhan.. Lakukan apa yang kalian mau.. Tapi aku tidak pernah bermain- main dengan apa yang aku ucap kan.. Kalian mungkin pria dewasa tapi ingat sebuah kisah jika semut bisa mengalah kan seekor gajah..." Seringgai mengeri kan tampak di bibir Raehan di mana ia menatap ke tiga penculik itu dengan rendah.
Seolah diri nya yang hanya gadis kecil jauh lebih kuat dari pada ketiga pria dewasa dengan tubuh tegap dan tinggi.
Guru bela diri nya dahulu mengajar kan pada diri nya.
Jika bertemu musuh diri mu harus percaya bahwa diri mu bisa mengalah kan mereka.
Karna keyakinan yang akan mencipta kan tekad yang bulat akan mampu membuat sesuatu yang mustahil menjadi mudah.
Dan Raehan menyakini hal itu.
Ketiga penculik itu terlihat mengeram saat melihat Raehan yang sama sekali tidak menghargai atau takut pada mereka.
Mereka ingin melihat Raehan menangis dan meraung- raung meminta dan memohon untuk di lepas kan.
Tapi ternyata kenyataan nya tidak seperti itu, gadis yang sudah tidak berdaya itu masih menatap mereka dengan rendah, seakan mereka hanya lalat yang akan pergi saat di gibas dengan tangan.
Sedang kan Dion yang melihat Raehan yang begitu berani hanya bisa menggeleng kan kepala kagum.
Bagaimana bisa seorang gadis begitu kuat meski sudah di pukul dengan sangat keras.?
Seolah pukulan tamparan itu seperti sentuhan lembut di pipi nya.
Tapi tidak, hal yang harus ia pikir kan sekarang adalah bagaimana cara membebas kan diri dan membantu Raehan hingga mereka bisa kabur dari para penjahat ini.
Dion menoleh ke arah Kazuya yang masih setia terlelap pingsan.
Dion berdecak kesal, sudah sangat lama pria itu pingsan tapi dia sama sekali tidak bangun atau pun membuka mata.
Di saat genting seperti ini, wajah Kazuya yang babak belur terlihat tidur dengan damai.
Sedang kan diri nya, hampir kehabisan nafas karna melihat gadis yang di cintai nya di siksa dan di pukul.
"Kenapa? Apa kalian marah? Tentu saja karna kalian hanya lah pecundang yang hanya bisa di suruh.. Nikmati nafas kalian karna sebentar lagi aku akan membantu malaikat maut untuk mengirim nyawa kalian ke neraka..." Oceh Raehan lagi yang yakin kali ini ia akan menerima pukulan lagi.
Ia bisa melihat tangan penculik yang di ludahi itu mengepal di mana sorot mata nya terlihat nyalang.
Slark...
Plakkk....
__ADS_1
Wajah Raehan langsung menoleh ke samping di mana sudut bibir nya sobek dan mengeluar kan darah segar.
Penculik itu dengan ganas menarik rambut Raehan dan menampar Raehan dengan sangat keras.
Namun bukan nya merasa sakit, Raehan menatap kasihan pada penculik itu. Di mana bibir nya yang berdarah tersenyum miring.
"Satu luka ini akan ku balas beberapa kali lipat..."
"Berhenti lah mengoceh atau ku injak kepala mu sampai mati.." Pekik Penculik itu semakin marah saat melihat wajah mengejek Raehan.
Kaki nya terangkat dengan begitu cepat hendak menginjak kepala Raehan yang tergeletak di lantai.
Raehan memejam kan ke dua mata nya. Jika sampai ia mati sekarang ia akan meminta pada tuhan untuk membuat arwah nya menjadi hantu untuk membalas dendam pada ketiga pria brengsek yang ada di hadapan nya.
Dring...
Dring...
Dringg...
Tiba- tiba deringan telpon terdengar, membuat kaki penculik itu mengambang di udara.
Sedang kan Raehan langsung membuka ke dua mata nya cepat, di mana telapak sepatu penculik itu hanya berjarak lima sentimeter dari wajah nya.
Tapi kenapa penculik itu berhenti?
Tanya Raehan bingung.
"Jangan... Panggilan dari bos..." Cegah rekan penculik itu yang menunjuk kan layar ponsel pada rekan nya yang hendak menginjak kepala Raehan.
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othorπππ
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thorπππ???
__ADS_1
.