
...320...
Para Anggota Osis yang bertugas mengurus konsumsi, mulai membagikan makan malam kepada para peserta. Mereka begitu telaten dan bertanggung jawab. Setiap peserta diberi satu porsi nasi dengan lauk serta satu sebotol air mineral.
Tidak ada yang dibedakan malam ini. Mulai dari Dewan guru, Anggota Osis, sampai para peserta mendapatkan makanan yang sama dan juga dalam jumlah yang sama. Mereka melakukan hal tersebut untuk menumbuhkan rasa saling menghargai dan menghilangkan diskriminasi pada peserta yang lebih lemah.
"Apa semua sudah mendapatkan jatah makan malam?" tanya Kepala Acara menggunakan toa agar suaranya bisa didengar oleh seluruh peserta.
"Sudah!" jawab semuanya serempak.
"Kegiatan akan dimulai besok pagi. Malam ini, kalian bisa beristirahat, untuk keamanan Anggota Osis yang akan bertugas dan saling bergilir dengan Dewan guru. Saya selaku Kepala Acara mengucapkan selamat makan malam," ucap sang Kepala Acara dengan memberikan ucapan selamat makan malam para seluruh peserta.
Para peserta mulai memakan makanan mereka. Meski terlihat sederhana tetapi rasanya cukup menggoyang lidah mereka.
Dari sisi kiri, berjarak hanya tiga meter. Agara terus memfokuskan pandanganya pada Raehan yang duduk di barisan paling depan tepat di samping Dion. Kali ini, barisan di sesuai dengan ukuran tinggi badan. Di mana yang pendek akan menjadi depan dan yang tinggi menjadi yang paling belakang. Hal ini di lakukan agar peserta yang memiliki tinggi badan yang lebih pendek bisa melihat kegiatan yang terjadi di depan. Mereka tidak perlu memiringkan kepala atau berjinjit.
Agara tersenyum tipis melihat sang pujaan hati yang makan dengan cukup lahap. Bahkan, kedua pipi gadis itu mengembung lucu. Rasanya, Agara ingin sekali mencubit gemas pipi chuby Raehan yang sangat menggemaskan itu.
Akan tetapi, Agara juga merasa kesal di waktu yang bersamaan karena ternyata Raehan bergabung pada barisan yang diawasi oleh Dion. Agara yakin, jika ini adalah ulah Dion yang membuat Raehan berada dalam barisannya.
"Ekkhhmm, makan donk Aga. Kamu liatin Raehan udah kayak liatin istri presiden aja. Tuh, makananmu cemburu, bukannya dimakan malah liatin Raehan terus," cibir Niel yang kebetulan berada di samping Agara. Yah, ia bersama lima Anggota Osis lainnya termasuk Agara tidak bertugas menjadi pengawas para peserta.
Fokus Agara seketika buyar. Tidak bos, tidak kacung keduanya sama-sama menyebalkan dan penganggu. Agara menatap Niel dengan tajam yang langsung membuat Niel menelan bulat-bulat butiran nasi yang sama sekali belum dikunyah.
"Kalau mau makan, makan aja. Ngak usah ngurusin urusan orang lain. Mungkin, kamu tadi sekedar tersedak tapi sekali lagi kamu mengganguku, kamu bukan hanya akan tersedak oleh nasi melainkan batu kerikil," timpal Agara mengancam Niel dengan tatapan horor.
"Uhuk ... uhuk ...." Niel terbatuk-batuk sembari memegangi lehernya. Sumpah demi apapun, Agara benar-benar sangat mengerikan. Tatapannya yang begitu tajam dan menghunus persis seperti iblis yang sedang kelaparan.
Busyett, ni orang manusia atau setan yak? Serem banget, batin Niel buru-buru mengambil air minum dan meneguknya.
Bisa ia rasakan, bulu roma di bagian belakang lehernya berdiri karena duduk di samping Agara. Aura mencekam yang keluar dari tubuh Agara membuat Niel merasa tertekan dan terhimpit. Atmosfer di sekitarnya pun menjadi berat dan menusuk.
__ADS_1
Sementara itu, Raehan maka dengan lahap. Perutnya memang sudah keroncongan sejak dua jam yang lalu, membantu membangun tenda membuat cacing-cacing dalam perutnya menangis meminta jatah. Lihatlah sekarang, ia makan dengan begitu cepat. Bahkan, mulut mungilnya menjadi belepotan.
Dion yang sejak tadi mencuri pandang pada gadis di sampingnya menggelengkan kepala. Raehan memang selalu memiliki ulah yang mampu membuat hatinya tergelitik geli.
"Hei, kamu makan udah kayak ngak pernah makan satu tahun," ejek Dion sembari memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
Satu suapan yang hendak masuk ke mulut Raehan seketika mengambang di udara, saat telinganya mendengar ucapan Dion yang sangat menyebalkan. Raehan menatap Dion dengan wajah jutek. Pria di depannya ini selalu saja mengganggu dirinya.
"Bisa diam tidak? Jangan ganggu aku. Aku sedang lapar!" sinis Raehan mencebikkan bibirnya.
"Lapar ya lapar tapi lihat mulutmu belepotan." Dion mengusap bekas makanan di bibir Raehan tanpa jijik. Sentuhan Dion di bibirnya, membuat Raehan diam terpaku dengan memandang wajah tampan Dion yang terkena sinar api unggun yang tidak jauh dari mereka.
Agara yang melihat interaksi keduanya mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Api cemburu mulai menyala di hati Agara melihat Dion mengusap bibir gadis mungilnya.
Bugh!
"Aaaaa kodok, ngapain lu pukul paha gue!" teriak Niel meringgis kesakitan sembari mengelus pahanya yang terkena bogem mentah dari Agara.
"Ck, lebay," decak Agara tanpa bersalah.
Niel menatap Agara dengan tatapan tidak percaya. Bukannya meminta maaf dan mengatakan sesuatu, Agara tanpa perasaan malah mengatainya lebay. Sungguh, pria yang sangat dingin dan kejam.
Raehan segera mengelap bibirnya sehingga Dion menarik tangannya. Raehan menjadi salah tingkah, itu terlihat dari gerakan kaku tubuh gadis itu. Dion tersenyum miring melihat hal itu.
Raehan segera meraih botol air mineral dan membuka segel minuman itu. Akan tetapi, konyolnya ia tidak mampu membuka segel minuman itu. Raehan berusaha terus memutar tutup botol tersebut tetapi bukannya malah terbuka malah tanganya yang terasa perih.
"Kuat banget sih," umpat Raehan.
"Sini, aku bukain." Dion meraih botol minuman tersebut dari tangan Raehan dan membuka tutup botol minuman itu hanya dengan sekali putaran. Lalu, memberikan botol minuman tersebut pada Raeha.
"Makasih," ucap Raehan dengan nada sedikit jutek. Lalu, meneguk air mineral tersebut.
__ADS_1
"Makannya udah kayak gajah kelaparan, tapi buka tutup botol aja ngak bisa," ejek Dion.
Raehan memutar kedua matanya jengah. Bibirnya mengerucut maju ke depan. Ia sangat kesal dengan Dion, pria itu selalu saja mencela dan mengejeknya sesuka hati. Katanya dia menyukai dirinya tapi lihatlah pria itu malah terus mengejeknya.
"Jangan salahkan aku, salahkan tutup botolnya yang tidak bisa terbuka," balas Raehan sambil mendengus.
Dion terkekeh mendengar jawaban tidak masuk akal Raehan.
"Apa salah tutup botolnya? Kamu saja yang lemah, mematahkan jari manis seseorang kamu mampu tapi membuka tutup botol kamu tidak mampu. Bukankah, itu sesuatu yang memalukan?" ledek Dion yang semakin gencar menggoda Raehan, melihat wajah gadis itu cemberut dengan bibir dimanyunkan ke depan membuat Dion ingin terus mengerjai Raehan.
"Diam, kau!"
"Jika aku tidak mau?"
"Aku akan patahkan lidahmu itu."
"Rae, ayolah lidah tidak punya tulang. Mana mungkin bisa di patahkan. Ha ... Ha ...." tawa Dion pecah seketika membuat pandangan Kiara dan Agara menatapnya penuh dengan kemarahan.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
__ADS_1