Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Aku mengibarkan bendera perang.


__ADS_3

...308...


Jam pelajaran berlalu dengan cepat. Raehan merapikan peralatan sekolah karena jam istirahat sudah tiba.


Miya langsung menghampiri Raehan dengan memeluk gadis mungil itu dari belakang. Miya begitu erat memeluk Raehan sehingga Raehan merasa tercekik.


"Mi, lepas kamu mencekikku," ujar Raehan dengan mencubit tangan Miya yang ada di depan dadanya.


"Auccchh, sakit Rae." Miya memanyunkan bibirnya ke depan sembari mengelus punggung tangannya.


"Oh ya Rae, Kazuya kapan mulai masuk ke kelas kita?" tanya Miya dengan ke dua pipi yang bersemu merah.


Raehan menghela nafasnya panjang. Sejak tadi Miya terus saja mengoceh mengoreksi semua tentang Kazuya, yang hampir membuat dirinya gagal fokus karena terus menjawab pertanyaan Miya yang tidak penting.


"Tahun depan kali, kan sebentar lagi kita bakal semester," timpal Fir dengan mendekat ke arah dua gadis itu.


Wajah Miya terlihat kecewa, itu artinya masih sangat lama. Jadi, ia tidak bisa terus berada di dekat Kazuya. Jujur, entah kenapa ia sangat tertarik dengan pria berwajah Jepang itu. Berada di dekat Kazuya membuat hatinya berbunga-bunga.


"Udah, kamu masih punya banyak waktu untuk ngedeketin Kazuya. Kamu bisa ikut ke rumah Kak Dion kalau kamu mau karena aku akan membantu Kazuya untuk mempelajari mata pelajaran," ujar Raehan memberikan sebuah peluang untuk Miya.


Miya langsung melompat kegirangan. Ia benar-benar sangat senang. Itu artinya ia bisa bertemu lagi dan lagi dengan Kazuya.


"Aaaa, Rae kamu memang yang terbaik!" pekik Miya dengan mencubit gemas ke dua pipi Raehan.


"Ya udah yok ke kantin!" ajak Raehan karena perutnya sudah menggedor-gedor minta jatah.


"Tapi, traktir ya? Lagi kantong kering nih," timpal Fir dengan merenggek.


"Kantong kering, kantong kering, padahal tabungan kamu masih banyak loh Fir. Ngak bakal habis buat beli makanan sebulan," cibir Miya menatap Fir sinis.


"Aku ini lagi penghematan Mi, kamu memang temen ngak berperi kedermawanan."


"Berperi kedermawanan? mana ada kayak gitu, ngaco kamu."


"Ya udah, Fir biar nanti aku yang traktir. Kalau perlu buat satu minggu ke depan. Jadi, udah bertengkarnya," lerai Raehan yang sudah hampir mati kelaparan karena menunggu perdebatan tidak bermutu antara dua sahabat konyolnya ini selesai.

__ADS_1


"Yes." Fir langsung menarik tangannya gembira. Setidaknya uangnya aman dan ia tidak perlu mengeluarkan uang makan untuk satu minggu ke depan. Tuhan memang selalu berbaik hati pada dirinya.


Ketiganya segera keluar dari kelas, dan berjalan menuju kantin. Tanpa di duga, Kiara dan juga antek-anteknya sedang menunggu kedatangan Raehan di depan kantin. Ia ingin memberi pelajaran pada Raehan. Ia tidak akan membiarkan gadis seperti Raehan sekolah dengan tenang di sekolah ini.


Rencana awalnya untuk membuat Raehan di benci oleh seluruh murid gagal total karena sebuah foto Raehan yang di gendong Agara, menjadi tranding topik. Tidak ada yang berani melirik atau mengusik Raehan. Mereka semua berpikir jika Raehan memang kekasih Agara dan tidak ingin menyinggung pria dingin itu.


Raehan, Fir, dan Miya melenggos begitu saja melewati Kiara yang berdiri di depan pintu kantin, seolah-olah Kiara tidak ada di sana.


Kiara segera mengekor masuk mengejar Raehan. Lalu menarik lengan Raehan dengan kasar, hingga tubuh Raehan kini berbalik tepat di depannya.


"Masih punya nyali ternyata, buat nunjukin muka murahan kamu di sini," sungut Kiara dengan menatap Raehan rendah.


Raehan memutar ke dua bola matanya malas. Untuk satu hari saja, Kiara tidak mengganggunya pasti hati itu akan menjadi hari paling tenang dalam hidupnya.


Sepertinya apa yang sudah ia lakukan pada Kiara, masih belum cukup untuk membuat gadis sok berkuasa itu untuk berhenti mengganggunya.


"Heh Kiara, Kamu ngak punya pekerjaan ya selain gangguin Raehan!" seru Fir dengan mendorong bahu Kiara, yang langsung di usap jijik oleh gadis itu.


"Fir, kamu jangan ikut campur. Ini adalah urusanku dengan Raehan," sarkas Kiara.


"Wawww, kamu punya dua antek-antek yang langsung mengaung saat aku menyinggungmu. Kalian semua itu sama saja, sama-sama ngak punya malu dan rendahan." Kiara menunjuk satu persatu, mulai dari Raehan, Fir, serta Miya.


"Sebenarnya apa masalahmu denganku Kiara? Aku bingung kenapa kamu begitu membenciku?" tanya Raehan dengan mode serius ON.


Kiara semakin mendekat, mengikis jarak antara dirinya dan Raehan.


"Masalahnya aku tidak memyukaimu. Aku tidak suka melihatmu bersekolah disini, dan aku akan membuatmu keluar dari sekolah ini," tekan Kiara dengan menekan setiap perkataannya penuh dengan kebencian.


Raehan tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya pelan. Sepertinya gadis di depannya ingin bermain-main dengan dirinya.


"Jika kamu tida menyukaiku, maka menjauhlah dariku Kiara. Solusinya begitu mudah bukan, lalu kenapa kau membuang-buag energi dengan mengangguku. Oh, aku tahu otakmu terlalu bodoh untuk memikirkan hal itu," balas Raehan tak kalah pedas, bahkan berhasil membuat Kiara terbakar api kemarahan.


"Berani sekali kamu menyebutku bodoh!" geram Kiara dengan melayangkan tangannya hendak menjambak rambut Raehan. Namun, tangan Kiara langsung berhenti di udara karena cekalan tangan Raehan.


"Apa kamu lupa, kalau aku pernah mematahkan jari manismu? Atau kamu ingin menyerahkan dirimu kepadaku, dengan senang hati aku akan mematahkan semua jari-jarimu," ancam Raehan lalu menghempas tangan Kiara dengan keras.

__ADS_1


Wajah Kiara langsung memucat, ia masih ingat dengan jelas bagaimana Raehan mematahkan jari manisnya tanpa ragu.


Raehan berjalan ke arah sebuah meja terdekat dari tempatnya. Lalu meraih, segelas minuman dingin yang sedang diminum oleh seorang murid.


Byurr!


Tanpa takut, Raehan menguyur kepala Kiara dengan segelas minuman dingin. Lelehan minuman dingin itu merembes mengotori rambut serta seragam Kiara.


Kiara mengepalkan ke dua tangannya dengan bibir bawah yang digigit dengan keras, menahan emosi yang sedang meledak di dalam dirinya.


"Minuman dingin ini akan membantu mendinginkan kepalamu." Raehan mendekatkan wajahnya tepat di telinga Kiara.


"Jangan meremehkan sesuatu yang terlihat lemah dan tidak berdaya. Bisa jadi itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya untukmu. Aku sudah cukup bersabar menghadapi sikapmu yang selalu menggangguku. Namun sayang, aku bukan cinderella yang akan terus menerima perlakuan buruk kakak tirinya. Bersiaplah, aku mengibarkan bendera perang padamu, dan kau tidak akan bisa kabur sebelum memenangkan peperangan itu, atau menjadi pihak yang kalah," bisik Raehan dengan suara horor.


Glek!


Kiara menelan salivanya paksa, bulu kuduknya terasa berdiri semua karena merasa ngeri dengan ancaman Raehan.


Kiara segera melenggang pergi dari hadapan Raehan. Ia tidak memiliki muka lagi setelah di permalukan di depan umum.


...----------------...


...****************...


Haduh Kiara, habis Lessia malah kamu yang gangguin Raehan. Hati2 Raehan itu ngak selemah yang kamu pikirin.


Jangan lupa


like


komen


gift


Vote

__ADS_1


__ADS_2