Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Mundur...


__ADS_3

...77...


Dion tengah menatap fokus bola basket di tangan nya, mendribel bola lalu melakukan jumpshoot untuk memasukkan bola ke dalam keranjang.


Pantulan bola begitu terdengar memantul- mantul dalam gedung basket yang begitu besar. Di mana hanya Dion seorang yang menjadi penghuni nya.


"Aaaarrrhhhhh...." Teriak Dion frustasi bersamaan dengan tubuh nya yang linglung lalu terjatuh dengan posisi berlutut.


Tangan kanan nya melayang, memukul keras dada nya yang terasa begitu sakit.


"Kenapa harus aku??? Apa aku tidak pantas untuk mu?"


Bugh...


Bugh..


Bugh..


Ucapan Dion begitu terasa mencekik hati nya, saat memori nya kembali melayang mengingat adegan romantis antara Agara dan Raehan.


Diri nya sangat iri, mengapa harus Aga mengapa bukan diri nya yang mendapat kan cinta gadis itu.


Padahal diri nya lah yang menemukan gadis imut itu.


Diri nya lah yang lebih dulu mengenal dan lebih dekat dengan Raehan, lalu mengapa Agara yang mendapat kan nya.


Mental Dion menciut, seperti kerupuk yang terkena air. Ketika ia melihat ada semburat cinta untuk Raehan di mata Agara.


Diri nya adalah seorang pria , tentu diri nya bisa menebak bagaimana cara seorang pria menatap seorang gadis.


Itu sudah cukup menjelaskan, jika perasaan Rubah betina nya terbalas.


Dan perasaan nya?


Bagaimana dengan perasaan nya yang langsung di patah kan dan terasa sakit sampai ke sekujur tubuh nya.


Diri nya tidak melihat peluang untuk menarik Raehan ke dalam cinta nya.


"Aku benci perasaan ini,,, aku benci pada mu Rae karna telah membangkit kan rasa ini... Tidak ada kah aku di hati mu Rae?" Umpat Dion dengan menengadah kan wajah nya ke langit- langit gedung.


"Tidak Ada....!!!" Sahut seseorang dengan cepat, membuat nada suara nya yang penuh dengan emosi memantul- mantul di dalam gedung basket yang sepi.


Tap...


Tap...


Tap..

__ADS_1


Suara langkah kaki Anet semakin cepat, dengan raut wajah sedih dan juga kecewa.


Di sini bukan hanya Dion yang sedang patah hati, diri nya juga.


Nasib dan kisah cinta mereka sama. Sama- sama terluka karna cinta bertepuk sebelah tangan.


Dion menatap tajam ke arah Anet yang mendekat, ke dua mata Dion memerah dengan rasa sakit yang begitu terlihat jelas.


"Kamu tidak pernah ada di hati Raehan, seberapapun kamu mencoba kamu tidak akan mendapat kan posisi hati yang kamu ingin kan..."


Anet menatap Dion sejenak sebelum melanjut kan ucapan nya.


Hati nya terasa di remas kuat, bahkan dada nya ikut merasa sesak. Melihat tatapan luka di mata pria yang di sukai nya.


Ingin rasa nya diri nya memeluk pria rapuh ini, menenggelam kan nya dalam lautan pelukan untuk menghilang kan sedikit rasa sakit karna hati yang hancur berkeping- keping.


"Setelah melihat semua nya, aku harap kamu menyadari jika Raehan sangat mencintai Agara... Kau tidak memiliki peluang untuk berada di antara mereka." Lanjut Anet, yang menjadi hantaman kuat bagi Dion.


"Apa kamu mengetahui semua nya, Kamu juga melihat nya?" Dion tersenyum kecut.


Diri nya mengerti sekarang, Anet sengaja mengarah kan diri nya untuk ke atap gedung. Melihat kemesraan antara Agara dan Raehan.


Ia tahu jika Anet memiliki perasaan pada nya. Sementara diri nya tidak bisa membalas perasaan itu.


Apa ini karma?


"Aku hanya ingin kamu tahu dan melihat kenyataan... Bahwa Dia tidak tergapai.. Dia bukan untuk mu Ion..." Suara Anet melunak.


"Kamu pasti merasa senang melihat ku dalam kondisi seburuk ini... He..." Kekeh Dion merasa kasihan pada diri nya sendiri.


"Ha... Ha....." Anet tertawa pilu. Lalu menatap Dion yang menunduk dengan lembut.


Tangan nya terulur menyentuh bahu kekar pria di hadapan nya, membuat Dion mengalih kan pandangan nya ke arah diri nya.


"Kamu salah Ion, di sini aku yang paling terluka. Aku merasa kan luka yang jauh lebih besar dari mu. Seperti hati ku di tarik keluar tapi aku tetap di biar kan hidup... Pertama luka karna perasaan ku hanya bertepuk sebelah tangan. Dan ke dua luka karna aku melihat mu dengan kondisi memprihatin kan seperti ini... Katakan luka siapa yang lebih besar?."


Dion hanya diam membisu, ia setuju dengan apa yang di katakan Anet.


Diri nya juga merasa bersalah karna tidak bisa membalas cinta tulus gadis itu. Tapi diri nya benar- benar tidak berdaya.


"Aku pernah mendengar Raehan mengatakan pepatah cinta... " Lanjut Anet dengan senyum yang terkesan di paksa kan.


Lagi- lagi mendengar nama Rubah betina nya di sebut, Dion langsung berbinar, meski hati nya terasa sakit.


"Apa?"


"Level tertinggi dalam mencintai adalah merelakan orang yang kamu cintai bahagia dengan pilihan nya..."

__ADS_1


Sleeb.


Jantung Dion terasa tertancap sebuah pedang, ini sungguh sangat menyakit kan.


Apa diri nya sanggup merelakan Raehan, sementara diri nya belum bisa mengenal lebih jauh gadis yang sudah mampu menghangat kan hati nya.


Tubuh Dion terlihat melemas, ia harus mundur sebelum kisah nya di mulai.


Diri nya sangat marah, kenapa ia di pertemukan dengan Raehan jika harus merasakan luka sesakit ini.


Luka yang jauh lebih ganas menggerogoti bagian paling sensitif dari dalam diri nya, di banding kan dengan luka luar yang akan berhenti sakit ketika sudah mengering.


"Kamu harus mundur sekarang Ion, sebelum rasa itu semakin besar... Aku tidak mematah kan perjuangan mu... Tapi kamu sudah menyadari kenyataan yang sebenar nya... Mengenal nya lebih jauh, akan membuat mu semakin nyaman dan kamu tidak akan pernah bisa melepas kan nya... Lebih baik kamu mengalah meski kamu belum mulai berperang... Ada kebahagiaan lain yang menunggu mu... Ada cinta lain yang berharap cinta nya terbalas.. " Ujar Anet dengan sedikit tergesa- gesa. Berharap Dion sadar dan mulai membuka hati untuk nya.


"Apa kamu sedang menawar kan diri mu pada ku?" Sarkas Dion, yang langsung membuat Anet membisu.


"Aku memang akan mundur, tapi bukan berarti aku akan membuka hati ku untuk mu... Ini lah perbedaan mu dengan Rubah betina ku.. Dia tidak mengambil kesempatan saat melihat mangsa nya lemah.. Sedang kan diri mu sebalik nya Anet..." Balas Dion lalu beranjak bangkit.


Sekilas ia menatap wajah Anet yang menatap nya dengan penuh harap, sebelum benar- benar melenggang pergi dari hadapan gadis itu.


"Apa kamu akan membuka hati mu, jika aku bisa menjadi seperti Raehan..!!!" Teriak Anet yang langsung membuat Dion berbalik.


"Kamu tidak akan pernah bisa seperti Raehan... Lebih baik kamu menjadi diri mu sendiri Anet, dan mencari rumah yang bisa menerima mu.. Jangan memaksa untuk masuk ke dalam rumah yang tidak menerima mu, karna kamu pasti akan sangat terluka..."


"Lalu bagaimana dengan mu?" Air mata yang sudah sejak tadi di bendung Anet kini tumpah. Ia tidak bisa lagi membendung air mata ini.


Ketika lagi- lagi Dion menolak diri nya. Menutup hati nya untuk diri nya.


"Aku akan berdamai dengan keadaan...." Ujar Dion mantap dengan seolah senyum penuh tekad.


...----------------...


...****************...


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2