Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Seperti biasa, pagi ribut


__ADS_3

...354...


"Raehan! Bangun ... Ini sudah pagi!" teriak suara melengking dari luar pintu. Raehan yang masih asik dengan dunia mimpinya semakin memeluk erat bantal guling kesayangannya. Kedua matanya masih sangat lengket dengan rasa kantuk.


Nyonya Marissa yang berdiri di depan pintu kamar sang putri, kembali melancarkan aksinya. Kini ia menggelar pintu kamar Raehan dengan cukup keras karena putrinya itu tidak kunjung bangun.


Dor!


Dor!


Dor!


Suara gedoran pintu yang tak henti-henti membuat tidur nyenyak Raehan terganggu. Dengan kesal Raehan bangkit dari tidurnya sambil menjambak rambutnya frustasi. Selalu saja seperti ini, tidak bisakah ia tidur dengan nyenyak di pagi hari?


"Rae, buka pintunya atau Momsy hancurkan pintu kamarmu!" teriak Nyonya Marissa dengan gedoran pintu yang semakin kuat.


"Iya, Mom. Aku sudah bangun!" balas Raehan tak kalah berteriak. Ia segera beranjak turun dari tempat tidur dan mendekat ke arah pintu dengan kaki yang dihentakkan kesal di lantai.


Raehan membuka pintu kamarnya dengan cepat. Di mana terlihat sosok Nyonya Marisaa yang kini menatap ia dengan tatapan siap menyeruduk.


"Kamu tuh ya, gadis malas. Bangun kesiangan terus, lihat tuh anak tetangga bangun pagi terus bantu orang tua beres-beres rumah. Lah, kamu anak gadis kok tidur sampai jam segini. Pamali baru tahu rasa," oceh Nyonya Marissa mengomeli anak gadis satu-satunya yang sifatnya mengalahkan kerbau. Sekali tidur, maka sangat sulit untuk di bangunkan.


"Aduh, Mom. Aku masih ngantuk banget. Ya kali ngantuk bisa di ajak kompromi. Lagian aku juga tidak mau seperti anak tetangga yang bangun pagi," jawab Raehan yang semakin membuat Nyonya Marissa tidak habis pikir dengan pemikiran putrinya.


"Sampai kapan kamu akan bersikap kekanak-kekanakan seperti ini, Raehan. Sekali-kali berubahlah dan bangun tepat waktu. Sekarang kamu harus bersiap. Jangan permalukan Momsy dan Popsy dengan kasus terlambat sekolah seperti sebelumnya. Sekarang mandi dan bersiaplah." Nyonya Marissa mendorong tubuh Raehan dengan paksa untuk masuk ke dalam kamar mandi. Jika tidak seperti ini, Raehan pasti akan mengulur waktu dengan bermanja-manja di atas kasur.


Ia benar-benar tidak mengerti dari mana Raehan mendapatkan sifat bangun kesiangan. Ia dan suaminya selalu bangun tepat waktu. Ia memutuskan untuk duduk di samping Tuan Levi yang sedang duduk tenang dengan menyesap teh pagi buatannya.


Tuan Levi melirik ke arah sang istri yang terlihat kesal dengan lubang hidung yang mengembang dan mengempis dengan cepat. Tentu saja, seperti biasa istri cantiknya itu akan mengomeli putrinya karena masalah yang sama yaitu bangun kesiangan.


"Aku tidak tahu, dari mana putri kita mendapatkan sifat seperti itu. Setiap pagi dia akan bangun kesiangan. Jika tidak ada aku yang membangunkannya di pagi hari, maka dia tidak akan bangun. Bahkan alarm yang ada di kamarnya berbunyi hingga rusak. Namun, putri kita tidak kunjung bangun," adu Nyonya Marissa sembari memutar kedua bola matanya kesal.

__ADS_1


"Sudahlah, Mom. Jika kau terus marah seperti ini bisa-bisa kulitmu menjadi keriput," goda Tuan Levi yang membuat Nyonya Marissa semakin kesal.


"Popsy, aku ini sedang serius."


"Mom, jangan terlalu khawatir. Seiring waktu Raeha pasti akan berubah. Dia masih berumur 17 tahun, jadi wajar jika dia sering bangun kesiangan."


"Popsy, kau terus saja membela Raehan."


"Tentu saja karena aku adalah putri kesayangan Popsy," sosor Raehan dengan cepat dan menghambur memeluk Tuan Levi dari belakang.


"Hmmm, jika seperti ini kalian akan kompak dan aku akan kalah. Andai Lion ada di sini, pasti dia akan membela Momsynya." Nyonya Marissa bangkit dan menuju meja makan. Kedua tanganya dengan cekatan menyiapkan sarapan untuk putri dan juga suaminya.


"Sudah berhenti membuat Momsymu marah, Rae. Ubahlah sifatmu, sekali-kali bangunlah tepat waktu. Apa kamu tidak kasihan melihat Momsymu marah setiap pagi?" Tuan Levi menasihati Raehan, yang hanya di respon dengan bibir manyun ke depan oleh Raehan.


"Baiklah, Popsy. Tapi aku belum siap berubah sekarang," timpal Raehan absurd yang membuat Tuan Levi dan Nyonya Marissa geleng-geleng kepala.


"Terus kamu mau berubah kapan?" tekan Nyonya Marissa sambil duduk di kursi.


Tawa Tuan Levi lansung pecah mendengar jawaban tidak masuk akal putrinya itu. Sementara Nyonya Marissa hanya menghela nafas panjang. Raehan tidak pernah mau mendengarkan ia dengan serius. Putrinya itu selalu saja bercanda menyangkut dengan hal ini. Padahal, ia hanya mau Raehan menjadi gadis yang disiplin.


Setelah perdebatan unfaedah yang terjadi di pagi itu. Tuan Levi, Nyonya Marissa, dan juga Raehan sarapan dengan tenang. Sesekali, ketiganya melempar candaan untuk mencairkan suasana.


"Mom, Pop. Rae, berangkat dulu," pamit Raehan meraih ranselnya. Lalu, menyampirkan di pundak. Ia mengecup cepat pipi Nyonya Marissa dan juga Tuan Levi bergantian.


"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut kasihan si Orange," pesan Nyonya Marissa.


"Haduh, malah ngehawatirin si vespa dari pada anaknya yang cantik dan imut ini."


"Udah, berangkat sana nanti terlambat," usir Nyonya Marissa.


Raehan melangkah keluar dari rumah. Lalu, mengeluarkan vespa kesayangan keluarga yang selalu mengantarkan ia kemana pun ia pergi. Vespa yang sangat berjasa dalam keluarganya. Vespa yang ada sejak ekonomi keluarganya masih sangat buruk, dan sampai sekarang vespa itu masih ada di saat ekonomi keluarganya semakin membaik.

__ADS_1


Raehan memasang helm dan menaiki vespa. Lalu, mulai menyalakan mesin benda besi itu, kemudian melajukan vespa tersebut keluar dari parkiran rumah. Ia menatap lurus ke arah jalanan, di mana jalanan kota ini mulai ramai karena kegiatan berangkat bekerja. Ia rasa nasihat sang ibu memang benar untuk bangun lebih pagi agar ia bisa berangkat lebih pagi sehingga jalanan tidak terlalu ramai.


Tidak membutuhkan waktu yang lama. Raehan sudah sampai di sekolah Milver High School. Ia memarkirkan vespanya. Di depan gerbang terlihat Dion dan Kazuya sedang berdiri sambil melambai ke arahnya. Raehan membalas lambaian tersebut dengan senyum lebar.


Dari arah belakang, sebuah tangan kekar merangkul bahu mungilnya dengan mesra. Hal itu berhasil membuat Raehan terkejut.


"Kak Aga, kau membuatku terkejut." Raehan memasang wajah cemberut.


"Maafkan aku, Rae. Sudah jangan cemberut kamu terlihat semakin manis," goda Agara dengan mencubit gemas pipi Raehan yang mengembung.


"Kak Aga, sakit," protes Raehan.


Agara menggandeng tangan Raehan dengan mesra dan erat. Lalu, keduanya berjalanan beriringan seperti sepasang kekasih. Mereka mendekat ke arah Kazuya dan juga Dion.


Dion berusaha melebarkan senyumnya walaupun jujur hatinya panas melihat kemesraan Raehan dan Agara. Ia harus terbiasa dengan hal ini. Tekadnya sudah bulat, dan ia tidak ingin kembali terlarut dalam rasa yang tak akan pernah bisa ia miliki.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2