Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Meleleh...


__ADS_3

...39...


Raehan merebahkan tubuh nya yang sudah terasa remuk di atas sofa kecil dalam kontrakan nya.


Mata nya terasa begitu letih karna menangis hingga sesegukan.


Belum lagi pikiran nya yang benar- benar sangat kusut, yang semakin membuat tenaga nya terkuras.


"Entah aku harus bersyukur karna hari ini aku menghabiskan waktu bersama kak Aga, atau aku harus mengumpat karna kejadian Mika..." Gumam Raehan memejamkan mata nya sejenak, sebelum melangkah menuju kamar nya.


...----------------...


Senja berganti dengan malam, bintang- bintang bersinar dengan terang.


Sepeser awan pun tidak terlihat di langit yang membiru kelam.


Sungguh indah dan terang pemandangan dengan sinar rembulan yang menerpa bumi.


sepersekian detik kemudian, sang surya mulai muncul dengan guratan malu- malu.


Menunjukkan jika malam telah berlalu dan pagi telah menjelang.


Seorang gadis yang sudah siap dengan seragam rapi nya, sedang asik memasukkan makanan ke dalam kotak bekal.


Sembari bibir pich nya menyembulkan sebuah senyum penuh keindahan.


Mata nya yang kemarin sayu, kini terlihat jauh lebih segar.


Raehan segera beralih memasukkan kotak bekal berwarna orange itu ke dalam ransel nya.


Tangal mungil nya terpaksa terhenti, saat melihat rak sepatu.


"Aahhhh bodoh...!!" Pekik nya sambil menepuk jidat nya.


Bagaimana bisa ia melupakan sepatu nya di danau, lalu sekarang dengan apa ia harua pergi ke sekolah.


Dasar konyol, batin Raehan merutuki kebodohan nya.


Tin...


Tin..


Tin..


Suara klakson terdengar dari luar kontrakan. Raehan menatap sekilas ke arah pintu yang masih tertutup, lalu segera bergegas.


Di luar kontrakan minimalis itu, terlihat seorang pria yang memakai seragam yang sama, tengah mengendarai vespa orange.


Sesekali ia melirik ke arah pintu kontrakan yang masih tertutup rapat, dan sesekali menatap pada arloji mewah yang terpasang pada pergelangan tangan nya.


Sudut bibir nya terangkat indah, saat melihat tubuh kecil dan mungil muncul dari balik pintu.


"Hai Fir..." Raehan melambai kan tangan nya, tak lupa memasang wajah yang jauh lebih baik dari kemarin, saat Fir mengantar nya pulang.

__ADS_1


Saat mengantar nya pulang, terpaksa Fir harus meninggalkan motor sport mewah nya di sekolah, hingga Raehan meminjami motor kesayangan keluarga nya untuk di bawa pulang oleh sahabat nya.


"Rasa nya, sudah beratus- ratus tahun aku tidak melihat senyum indah itu..." Goda Fir dengan menampilkan deretan gigi- gigi nya yang rata.


"Terus saja menggoda ku sampai kau puas..." Timpal Raehan dengan cengengesan centil nya. Sambil berjalan mendekat ke arah Fir, lalu manaiki motor.


Suara deru mesin terdengar, saat Fir melajukan Vespa orange tersebut meninggalkan area kontrakan.


...----------------...


Sinar mentari menyelinap masuk ke dalam sebuah kamar, menerpa seseorang yang tengah asik bergelung di bawah selimut nya.


Agara mengerjap kan mata nya, saat merasa kan sinar matahari yang menganggu tidur pulas nya.


Agara menduduk kan tubuh nya, lalu meraih jam weaker yang ada di atas nakas.


Menatap jam weaker tersebut dengan mata setenah terbuka.


Agara menggeliat kan tubuh nya, merenggangkan otot- otot nya sebelum berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Untuk melakukan ritual pagi dan segera bersiap ke sekolah.


...----------------...


Dion melirik ke arah gerbang sekolah yang masih cukup sepi. Hanya beberapa murid yang datang, saat jam masih menunjukkan pukul tujuh.


Di tangan nya terlihat ia menenteng sebuah paper bag.


Berharap sosok yang di tunggu nya segera hadir, dan membebaskan diri nya dari belengu kebosanan menunggu.


Tak berselang lama, kilatan cahaya di ke dua mata nya bersinar, dengan lengkungan senyum mempesona.


Tatapan nya memandang lurus, dua orang yang sedang memarkirkan vespa orange.


"Akhir nya dia datang..." Lirih nya dengan hati berbunga- bunga.


Ia segera mendekat ke arah gerbang, bersiap di posisi nya sebelum gadis berbandana imut itu masuk.


Fir menyerahkan kunci motor pada Raehan, lalu beralih menatap motor mewah nya yang masih terparkir rapi.


"Maaf kan aku besti,,, gara- gara aku kau jadi meninggalkan motor mewah mu..." Ujar Raehan menampil kan ekspresi bersalah.


"Ahhhh kenapa meminta maaf... Lagi pula jika motor ku hilang juga tidak masalah... Nanti aku bisa beli lagi, bahkan sama deller nya..." Sarkas Fir dengan memamerkan kekayaan keluarga nya.


"Emang enak ya jadi anak sultan... Beli motor bisa sama deller nya juga..." Raehan mengiyakan ucapan Fir dengan kekehan kecil.


Ke dua sahabat ini, melangkah masuk meninggalkan tempat parkir, sembari melempar guyonan-guyonan mengundang tawa.


Namun, tawa Raehan terhenti saat di depan nya sudah menjulang tinggi tubuh kekar dengan tatapan sendu.


"Kak Dion..." Lirih nya sedikit terkejut. karna pria tersebut yang tiba- tiba muncul di hadapan nya.


Berbeda dengan Raehan, Fir langsung bersikap siaga. Mengawasi gerak- gerik Dion, yang bagi nya saat ini cukup mengancam sahabat kecil nya.

__ADS_1


Dion mengulurkan paper bag yang ia bawa pada Raehan. Yang semakin membuat Raehan semakin bingung.


"Apa ini?" Satu pertanyaan singkat lolos dari bibir mungil Raehan.


Detak jantung Dion semakin meningkat, dengan getaran- getaran tidak karuan yang merayap di hati nya.


Sungguh perasaan yang aneh, di mana cinta rindu dan kasih sayang bercampur menjadi satu. Menciptakan gelenyar- gelenyar cinta yang semakin membuat Dion gugup berhadapan dengan rubah betina nya.


"Ini sepatu... Aku sengaja membelikan nya untuk mu... Aku tidak tahu apa ukuran nya pas atau tidak.. Tapi cobalah dulu.. Gara- gara diri ku kau melupakan sepatu mu di danau..." Jelas Dion menunduk, menatap ke arah dua kaki mungil berlaskan sendal ala jaka tingkir di depan nya.


Fir langsung menatap ke bawah, ke arah kaki Raehan.


Oh bodoh nya diri nya, ia tidak memperhatikan hal tersebut.


Jika saja ia tahu, ia pasti membelikan sepatu baru untuk sahabat nya ini saat perjalan ke sekolah tadi.


Raehan mengangguk pelan, meski ia masih kesal dengan sikap Dion kemarin.


Tapi ia yakin pria menyebalkan di depan nya ini tidak akan melakukan hal yang sama lagi.


Dengan senyum mengembang, Raehan menerima paper bag yang di ulurkan Dion.


"Makasih kak..." Ujar nya singkat , sambil menepuk pelan bahu Dion, lalu melangkah pergi bersama Fir.


Deg...


Deg..


Deg..


Dion mematung di tempat, seolah mendapat sihir yang membuat nya tak bisa bergerak.


Tubuh nya terasa meleleh, dengan ke dua kaki yang terasa melemas.


"Dia menyentuh ku..." Batin Dion dengan mengusap bahu nya yang di tepuk Raehan.


Ke dua sudur bibir nya mengembang lebar, dengan tangan yang di kepal dan di tarik keras.


"Yes... Untuk pertama kali dia mengucap kan terimakasih... Manis sekali..." Gumam nya dengan ekspresi akan meleleh.


Seperti nya penyakit cinta nya kini semakin bertambah parah, pekik nya dalam hati.


...----------------...


...****************...


Berikan apresiasi kalian dengan koment atau vote yaa 😇


Biar karya othor makin terkenal giti😄 yah meskipun karangan recehan.. Tapi moga bisa menghibur😙


Oh ya thor lagi bimbang nih... Menurut kalian Raehan cocok nya ama siapa ya?


Agara atau Dion?

__ADS_1


__ADS_2