
...312...
Agara memperhatikan mobil Dion yang keluar dari parkiran sekolah. Senyum licik di bibirnya seketika terbentuk.
Tidak sia-sia ia menunggu hampir satu jam di sini. Akhirnya rivalnya yang sangat menyebalkan itu keluar dari gerbang sekolah.
Agara segera menyalakan motornya, yang sengaja di parkir di bawah pohon di sebelah samping sekolah. Sehingga tempatnya sekarang tidak terlihat oleh murid maupun dewan guru yang berlalu lalang keluar gerbang.
Agara melesat dengan cepat masuk ke dalam sekolah dan memarkirkan motornya. Dengan langkah kaki seribu, ia berlari menuju ruang osis untuk melancarkan rencananya.
"Huhh, sesuai prediksi semua anggota osis sudah pulang. Rencanaku mulus tanpa hambatan," gumam Agara yang langsung mencongkel jendela ruangan tersebut menggunakan obeng.
Tidak butuh waktu lama, jendela ruangan tersebut berhasil terbuka. Agara tersenyum penuh kemenangan. Tidak ingin membuang waktu, Agara segera melompat masuk ke dalam ruangan osis dan berjalan mendekat ke arah laptop yang ada di meja.
Tangan kanan Agara bergerak dengan cepat, dimana ke dua matanya fokus menatap layar persegi tersebut. Ke dua alis Agara tertarik ke atas melihat nama Raehan yang tercantum dalam tim Dion.
"Pria virus itu benar-benar licik, tapi sayang aku jauh lebih licik darimu Dion Pratama," lirih Agara dengan seringgainya.
Setelah selesai dengan rencananya. Agara segera keluar dari ruangan osis. Sekarang ia bisa merasa tenang.
...----------------...
Tuan Levi terlihat sibuk dengan berkas-berkas di depannya.
Namun, konsentrasinya pecah saat melihat siluet bayangan hitam yang berjalan di luar ruang kerjanya.
Merasa penasaran, Tuan Levi menghampiri jendela dan membuka tirai. Namun, tidak ada siapa-siapa alias kosong.
Apa dirinya berhalusinasi? pikir Tuan Levi kembali menutup tirai jendela dan kembali duduk di kursi.
Prang!
"Auuuu!" pekik suara yang melengking begitu keras. Membuat wajah Tuan Levi seketika menjadi panik. Dengan cepat, Tuan Levi keluar dari ruang kerjanya sambil berlari.
Pintu ruang kerja yang tidak ditutup, memberikan akses untuk siluet sosok hitam itu masuk begitu saja.
Tuan Levi berhenti di depan pintu kamar Raehan, dan langsung menggedor kamar putrinya dengan keras.
Dorr!
Dor!!
Dorr!!
__ADS_1
"Rae, kamu baik-baik saja nak?" ujar Tuan Levi berteriak. Ia sangat khawatir mendengar teriakan Raehan yang terdengar kesakitan. Tanpa berpikir panjang ia langsung berlari ke kamar Raehan, untuk memastikan jika putrinya itu baik-baik saja.
Dorr!!
Dor!!
Dor!!
Tuan Levi kembali menggedor pintu kamar Raehan yang tak kunjung dibuka. Ia benar-benar sangat kalut dan khawatir dengan kondisi putrinya.
Ceklek!
Krieet!
"Hoaaammm." Raehan membuka pintu kamarnya sembari menguap.
"Popsy ada apa?" tanya Nyonya Marissa dengan panik saat mendengar kegaduhan dari arah kamar Raehan.
Tuan Levi memperhatikan setiap inci bagian tubuh Raehan. Memastikan jika putrinya baik-baik saja, tanpa ada luka di tubuhnya.
Raehan mengucek-ngucek ke dua matanya, lalu menatap heran pada sang ayah.
"Ada apa Pop? Untung pintu kamar Rae ngak ambruk karena di gedor-gedor kayak gitu," ujar Raehan dengan wajah mengantuk.
"Benar kamu ngak papa Rae?" timpal Tuan Levi dengan melempar sebuah pertanyaan. Tidak mungkin ia salah dengar tadi, ia mendengar teriakan putrinya. Akan tetapi, Raehan baik-baik saja. Pikir Tuan Levi yang merasa bingung sendiri.
"Tentu saja, gara-gara Popsy tidurku jadi terganggu," oceh Raehan sedikit kesal.
"Popsy mendengar suara teriakan kesakitan Raehan Mom, makannya Popsy langsung berlari ke sini dan memastikan kondisi Raehan," jelas Tuan Levi.
"Tapi aku tidak berteriak!" seru Raehan.
"Iya, Momsy juga tidak mendengar teriakan apapun," tambah Nyonya Marissa menatap heran pada sang suami.
"Tapi, suara teriakan itu benar-benar nyata. Rae, kamu tidak sedang mempermainkan Popsy kan?" Tuan Levi menatap tajam pada Raehan.
"Untuk apa aku mempermainkan Popsy, lagi pula ini sudah malam Popsy. Hmm, aku tahu siapa pelakunya. Pasti ini ulah makhluk penghuni rumah ini," ujar Raehan dengan nada horor, yang langsung mendapatkan toyoran keras dari Nyonya Marissa.
Puk!
"Auuu, Mom,"
"Jangan asal bicara Rae, ini udah tahun 2022 jadi hal seperti itu tidak ada. Apalagi kita sekarang tinggal di kota. Popsy pasti hanya berhalusinasi karena stress memikirkan kesepakatan kerja sama itu kan?" oceh Nyonya Marissa dengan wajah masam.
__ADS_1
Ia tidak menyangka jika masalah ini, akan membuat suaminya kehilangan akal, bahkan sampai berhalusinasi seperti ini.
"Momsy!" tegur Tuan Levi memelototi sang istri karena tanpa sengaja sang istri menyebut tentang kerja sama di depan Raehan.
"Apa? Kerja sama? Kerja sama apa yang membuat Popsy jadi berhalusinasi seperti ini?" cecar Raehan dengan wajah penasaran. Ia menatap lekat pada Tuan Levi, menuntut sebuah penjelasan.
Sementara Nyonya Marissa menggigit ujung lidahnya karena sudah keceplosan. Bibirnya memang selalu tidak bisa dikondisikan di saat-saat tertentu. Sepertinya ia harus memasang rem di mulutnya.
"Bukan apa-apa, ini hanya kesepakatan kerja sama bisnis. Tidurlah Rae, besok kau akan pergi ke puncak. Jadi istirahatlah yang cukup," ucap Tuan Levi mengalihkan pembicaraan dan langsung melenggang pergi meninggalkan Raehan dan Nyonya Marissa.
Raehan kini menatap Nyonya Marissa dengan tatapan penuh tanya, menuntut sebuah jawaban dari pertanyaannya barusan.
"Momsy, tidak tahu apa-apa," cicit Nyonya Marissa sembari menggendikkan bahunya. Lalu memilih pergi dan kembali ke kamar. Jika sang suami saja tidak ingin menceritakan hal tersebut kepada Raehan. Apalagi dirinya yang tida tahu apa-apa.
Raehan menghembuskan nafasnya kasar, lalu menutup pintu. Pertanyaannya sama sekali tidak di jawab. Akan tetapi sudahlah, lebih baik ia tidur agar besok ia bisa bangun pagi.
Rasanya ia tidak sabar menantikan hari besok. Acara pelantikan anggota osis besok akan ia jadikan hari liburan. Sekolah Elite memang selalu punya cara yang berbeda untuk menyelenggarakan acara.
Raehan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Memejamkan ke dua mata indahnya dan bergegas memasuki dunia mimpi.
Di sisi lain, Tuan Levi menjambak rambutnya sendiri, sembari membereskan berkas-berkas di atas meja kerjanya.
"Astaga, haruskah aku menandatangani kesepakatan ini?" Tuan Levi masih merasa bimbang.
Untuk sejenak ia menatap kertas lampiran terakhir, dimana hanya tanda tangannya yang belum terbubuhkan.
"Aku tidak boleh egois," lirih Tuan Levi, lalu mengambil bolpoin dan memberikan coretan di atas kertas tersebut.
Tubuh Tuan Levi langsung ambruk ke kursi. Ia sangat berharap jika keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang tepat. Ia membangun bisnisnya dengan susah payah, dimana impian semua warga desa bertumpu pada bisnis ini.
...----------------...
...****************...
Oke gaes, jangan lupa
Like
Koment
Gift
Vote
__ADS_1