
...293💛...
Raehan meletakkan ranselnya, sedangkan bibirnya masih tertawa ringan.
"Oh ya, kalian katanya mau cerita kan!" seru Raehan saat mengingat, sesuatu yang membuat dirinya penasaran.
Fir langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Raehan, sebuah meja menjadi sekat di antara mereka. Sedangkan Miya langsung merebahkan bokongnya di samping Raehan.
"Aku nebeng pergi dan pulang sekolah sama Miya karna aku di usir dari rumah, semua fasilitas di tarik oleh papaku," desah Fir frustasi, jika di ingat hidup sebatang kara seperti ini sangatlah susah dan sulit. Ia harus mengirit uang sakunya yang tidak seberapa untuk bertahan hidup. Sungguh miris dan menyedihkan.
Raehan cukup terkejut mendengar hal itu. Fir di usir dari rumah? Tapi kenapa?
"Bagaimana bisa?" Raehan semakin penasaran, bahkan kini raut wajahnya menuntut penjelasan.
Wajah Fir tertekuk semakin dalam, ia menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya dengan kasar.
"Kamu masih ingat hari saat kamu di larikan ke rumah sakit?"
Raehan menggangguk dengan cepat, tentu saja ia ingat. Bahkan sampai kapanpun ia tidak akan melupakan hari itu. Hari dimana pembuktian cintanya ternyata salah. Hari yang benar-benar menghancurkan hatinya tanpa ampun.
"Keadaanmu waktu itu sangat kritis," cicit Miya dengan raut tak kalah sedih. Jika ia mengingat hari itu, rasanya ia benar-benar sangat takut.
"Kamu membutuhkan donor darah. Darahmu banyak yang terbuang dengan sia-sia karna luka tusuk di perutmu. Saat itu kami sangat kalut dan takut, jika kamu sampai kenapa-kenapa. Apa lagi kamu harus segera mendapat donor darah. Jika saja darahku bisa didonorkan padamu, pasti aku akan melakukannya dengan senang hati. Tapi, semuanya tidak semudah yang aku pikirkan. Ternyata kamu punya alergi darah, tidak sembarang orang bisa mendonorkan darahnya padamu. Kecuali anggota keluarga. Tentu saja aku dan Miya sangat panik, sementara kami sama sekali tidak memiliki waktu yang banyak." Fir menjeda kalimatnya sejenak, menatap jari-jemarinya yang saling bertaut.
"Waktu itu aku hanya punya pilihan itu, meminta kepada Mamaku untuk meminjamkan jet pribadi perusahaan untuk menjemput keluargamu. Awalnya mamaku melarangku dan tidak memberikan izin. Tapi aku mengatakan jika aku akan menerima konsekuensinya apapun itu. Dan yah, papaku tahu jika aku meminjam jet perusahaan jadi inilah hukuman yang di berikan padaku." Fir menyelesaikan ceritanya, dimana suasana diantara ketiganya menjadi sedih.
Air mata jatuh begitu saja, melintasi pipi putih chuby Raehan. Demi dirinya Fir rela meminjam jet perusahaan sang ayah untuk menyelamatkan hidupnya. Raehan benar-benar tersentuh dan merasa sangat bersyukur mempunyai sahabat yang begitu baik padanya. Siap menjaganya, bahkan tidak keberatan jika di hukum seperti ini.
__ADS_1
Miya langsung merangkul Raehan dan memeluk gadis mungil itu. Menyalurkan kehangatan untuk meredakan tangis dalam diam Raehan.
"Fir, kenapa kamu melakukan hal itu? Kamu tidak perlu melakukan hal itu semua. Lihat sekarang kamu harus menjalani semuanya tanpa fasilitas mewah yang selalu kamu pakai," ringgis Raehan dengan menahan sesak di dadanya.
"Menurutmu aku bisa melihatmu sekarat seperti itu?" Fir tersenyum kecut.
"Tentu saja tidak Rae, kamu adalah sahabatku. Sudah tugasku melindungimu dan melakukan apapun yang aku bisa untuk menyelamatkanmu. Aku tidak mungkin membiarkanmu meninggal begitu saja." Lanjut Fir dengan tertawa sumbang.
"Dengar hukumannya hanya satu bulan, itu adalah waktu yang singkat. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah atau hutang budi. Kita sahabat, jadi tidak ada kata terimakasih atau maaf." Fir mengusap kasar puncak kepala Raehan. Ia sama sekali tidak menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan untuk Raehan. Bahkan ia merasa sebaliknya, ia merasa senang karna ia bisa berguna untuk orang-orang yang ia sayangi.
"Aku sangat bersyukur bisa mempunyai teman seperti kalian, sampai kapanpun persahabatan kita tidak boleh sampai putus," tegas Raehan dengan meraih tangan Fir dan Miya lalu menumpunya di atas tangannya.
"Kamu tidak akan melewati semua ini sendiri Fir, ada aku dan Miya." Lanjut Raehan dengan mengulas senyum lebar di bibirnya.
"Tentu saja, semua yang aku lakukan tidak gratis," cibir Fir dengan mencebikkan bibirnya.
Raehan dan Miya tertawa bersamaan, baru tadi Fir mengatakan jika dia melakukan hal itu dengan percuma. Namun belum beberapa detik, pria itu mengatakan apa yang dilakukannya tidak gratis.
...----------------...
Matanya memicing saat silau cahaya menerpa kornea matanya. Hembusan angin yang cukup kencang, menerbangkan anak rambut merah Agara, yang bergoyang seiring tiupan angin.
Agara menutup ke dua matanya rapat, meniti jejak kenangannya dengan Raehan. Hari itu benar-benar terasa begitu indah dan sangat bahagia. Kehangatan dalam hidup dapat ia rasakan saat melihat senyum indah di bibir pich itu.
Tanpa sadar, bibir Agara melengkung tersenyum. Hanya mengingat wajah dan tawa Raehan yang melekat dalam ingatannya sudah mampu membuat hati Agara menjadi tenang dan hangat.
Akan tetapi sedetik kemudian, senyum di bibir Agara luntur begitu saja. Tergantikan dengan guratan kesedihan begitu dalam dengan kerinduan yang tertahan.
__ADS_1
Kini semuanya sudah berubah, tatapan cinta dan memuja yang selalu ia lihat kini telah tergantikan dengan tatapan penuh amarah dan kekosongan.
Andai saja, ia bisa memutar waktu ia pasti akan memperbaiki semuanya. Sehingga Raehan pasti sekarang ada di sampingnya.
"Jangan menyesali waktu, waktu terlalu singkat tapi dia adalah pembelajaran yang sangat berharga." Suara halus yang selalu di rindukan oleh Agara terdengar begitu indah di telinganya.
Agara menoleh ke samping, Raehan duduk sembari tersenyum ke arahnya. Hal itu mampu membuat senyum Agara terukir di bibir seksinya.
"Rae, kau?" Agara tidak bisa mengatakan apapun, ia kehabisan kata-kata melihat Raehan ada di sampingnya.
Raehan menaik-turunkan alisnya, seolah sedang menggoda Agara.
"Aku akan selalu di sampingmu. Karna tempatku ada di sini." Raehan menunjuk dada kiri Agara. Dengan cepat Agara meraih tangan Raehan dan menggengamnya erat.
"Aku benar-benar takut kamu pergi dariku. Rasanya begitu sakit melihatmu bersama Dion. Melihatmu berpelukan dengannya, membuat hatiku hancur berkeping-keping. Sungguh Rae, jika aku bisa memperbaiki segalanya. Aku akan melakukannya, tapi aku mohon percayalah padaku." Wajah Agara memelas.
"Kepercayaan itu seperti layaknya sebuah kaca, ketika tanpa sengaja ataupun sengaja kamu memecahkannya. Maka ia tidak akan pernah bisa kembali utuh, meski kamu kembali menyatukannya. Cinta tanpa kepercayaan, seperti benang yang rapuh. Sekali kamu menariknya, maka ia akan putus. Tapi percayalah pada cintamu dan tekadmu. Karna tekad selalu menemukan jalan untuk memperbaiki semuanya." Raehan mengusap pelan wajah Agara, memejamkan kedua mata merah darah itu.
Untuk sejenak Agara terlena dengan sentuhan lembut itu. Kini, hatinya merasa lega saat mendengar perkataan Raehan. Ia berjanji pada dirinya sendiri, akan mempercayai cintanya lebih dari apapun.
Agara membuka ke dua matanya dengan cepat. Tapi ia tidak menemukan Raehan di sampingnya. Agara mengedarkan pandangannya dengan sedikit panik. Hingga ia menyadari jika tadi ia hanya berhalusinasi dengan kehadiran Raehan di sini.
"Bahkan sekalipun aku hanya berhalusinasi, bayanganmu membuat aku jatuh cinta ribuan kali," gumam Agara mengusap wajahnya kasar.
...----------------...
...****************...
__ADS_1
Aduh bang Aga, sampai halu gitu. Kasihan banget, coba haluin othor, pasti othor akan datang padamu zhayeng😘
Yok koment, like, vote, gift. Maksa ni