
...5...
"Rae...." Panggil Dion, menggunakan panggilan akrab pada Raehan. Yang langsung memutar badan menghadap ke arah Dion dan Nil yang berdiri.
Tadi nya diri nya akan keluar dan mencari tempat sepi untuk menyendiri. Tapi dua cowok keren ini malah memanggil nya. Mood nya sedang tidak ingin untuk berdebat. Diri nya sudah sangat susah di depak dengan mudah dari gugus tujuh.
"Kamu mau kemana???" Tanya Dion si ketua Osis dengan ekspresi yang tidak bisa terbaca, membuat Raehan menautkan ke dua alis nya. Diri nya menerka- nerka ada sesuatu di balik ekspresi Dion.
"Mau keluar kak.. Lagi pula aku udah di keluarin dari Gugus tujuh... Yang arti nya aku ngak bisa ikut kegiatan MPLS..." Jawab Raehan tanpa bersemangat.
"Kamu mungkin di keluarkan... Tapi aku ingin kamu jadi asisten ku selama tiga hari ini... " Dion memasang senyum khas nya. Entah apa yang di pikir kan diri nya. Tapi di dalam otak nya terselubung rencana untuk gadis kecil di depan nya.
"Aaa.... sis.. Ten...? Aku....??" Ujar Raehan dengan terbata- bata. Satu kata yang terkengiang di kepala nya. Asisten?. Apa ini tidak salah. Segamplang itu Dion mengangkat nya menjadi Asisten nya.
Nil juga sama terkejut nya dengan penuturan Dion barusan. Selama ini tidak ada posisi asisten untuk ketua osis. Yang ada hanya wakil kan, lalu kenapa dengan Dion. Nil sungguh tidak mengerti, otak kecil nya sudah mentok untuk memikir kan hal itu.
"Iya..." Balas Dion dengan mantap.
"Kamu akan jadi asisten ku selama tiga hari..." Dion mengangkat tangan nya, dengan memanjangkan tiga ruas jari nya.
"Ke... Kenapa...??" Tanya Raehan masih dengan terbata- bata. Diri nya saat ini sangat terkejut dengan keputusan mutlak tersebut. Bukan kah tanggung jawab sebagai asisten seorang ketua osis, adalah tanggung jawab yang besar. Dan Raehan tidak percaya pada diri nya sendiri, untuk memikul tanggung jawab itu.
"Karna kamu sudah di keluarkan dari gugus... Itu arti nya kegiatan mu sudah di hapus... Jadi sebagai ketua osis yang adil. Aku tidak bisa membiarkan mu hanya bersantai- santai tanpa ada kegiatan apa pun. Jadi mulai hari ini kamu menjadi asisten ku... Anggap saja aku menggantikan Felix menjadi pembimbing mu.. Dan kamu tidak akan bisa menolak..." Ucap Dion tanpa bantahan.
Glek...
Raehan menelan saliva nya kasar. Membayang kan hal itu saja, sudah membuat kepalanya berkunang- kunang.
"Semoga kak Dion tidak mempersulit diri ku... Kenapa nasib ku jadi ruwet kayak gini sih... Ckkkk" Batin Raehan dengan harap- harap cemas.
Ia tidak lagi bisa membantah. Bagi nya keputusan yang di ambil Dion ada benar nya. Sebagai siswa baru seharus nya diri nya menjalani masa MPLS. Tapi malah langsung di keluarkan baru 5 menit berselang. Dan kini Raehan harus menerima di bimbing oleh Dion si ketua osis langsung.
...----------------...
Di bawah sebuah pohon rindang, dengan cahaya matahari yang menembus dedaunan nya.
Semilir angin menghembus lembut, seolah sedang meniupkan kenyamanan.
Pohon besar yang terletak di sudut taman sekolah yang begitu luas. dengan beberapa arena bermain dan arena tempat duduk yang di buat sedemikian rupa.
__ADS_1
Di sebelah utara taman, tumbuh subur bunga- bunga warna warni yang cantik.
Di sebelah timur, berjejer kursi sender dengan beberapa siswa yang sedang membaca.
Dan si sebelah selatan taman, di sinilah tempat pohon besar dan rindang itu tumbuh. Mungkin karna berdekatan dengan danau.
Aneh bukan, sebuah sekolah memiliki sebuah danau, meski tempat nya di tengah- tengah hiruk pikuk perkotaan.
Di area ini, lebih sepi, karna murid- murid lebih memilih untuk duduk atau menikmati arena permainan yang di sediakan oleh sekolah.
Tapi berbeda dengan pria dengan wajah tegas dan rambut coklat gelap nya, yang sedang bersender di bawah pohon dekat danau. Mata nya terpejam, menikmati alunan musik dari earphone yang terpasang di telinga nya.
Sesekali jari telunjuk nya , mengetuk- ngetuk lutut yang sedikit di tekuk.
Wajah nya tampan seolah bersinar. Auranya begitu terasa. Alisnnya yang tebal, mata nya yang tajam. Rambut coklat nya yang tertiup angin. Seolah- olah menari- nari mengikuti tiupan angin. Dan tubuh nya yang begitu proposional, dengan dada bidang dan bahu yang kekar.
Pria itu membuka kelopak mata nya perlahan. Tampak di balik kulit tipis itu. Bola mata merah yang indah dan memikat.
Dia adalah AGARA VANDERZEE, Siswa laki- laki yang biasa di panggil akrab AGA. Siswa laki- laki yang begitu di gilai oleh semua wanita di sekolah Milver. Namun, tidak pernah terjamah sekali pun.
Ia membangun tembok penghalang yang begitu tinggi dan kokoh. Hingga para wanita itu tidak bisa melalui nya. Hanya akan ada kecewa dan tangisan yang akan di dapatkan oleh wanita siapa pun yang berani mendekati diri nya.
Agara adalah siswa yang terkenal dengan sikap diam nya. Ia tidak akan berbicara jika tidak pada kondisi penting. Senyum nya bahkan tidak pernah terlihat.
Dengan sebab itu, siswa perempuan yang bisa mendengar suara nya, akan menganggap itu adalah berkat dari tuhan.
Mata merah nya menerawang ke depan. Menatap air danau yang begitu tenang.
"Ma...!!!" Panggil nya pada seorang wanita usia 27 tahun dengan tersenyum manis.
"Iya sayang..." Timpal sang wanita yang di sebut mama, yang masih sibuk dengan ponsel nya.
"Temani aku bermain ma... Mama sudah lama tidak pulang ke rumah..." Renggek Agara kecil dengan menarik- narik Rok mama nya.
" Pergilah bermain sendiri Aga, mama lagi sibuk... Hallo ... Iya.. Pak... Tentu saja..." Timpal sang mama dengan mendorong Agara menjauh dari diri nya. Dan langsung mengangkat telpon nya yang berdering.
Agara menatap sendu ke arah ibu yang sudah melahirkan nya. Tidak ada waktu untuk hanya sekedar menceritakan apa yang di lakukan nya di sekolah. Hanya kesibukan yang dapat Agara kecil lihat pada mama nya.
Dengan lesu Agara menjauh, meninggalkan sang mama yang masih sibuk menelpon. Sebelum sebuah suara pintu terbuka.
__ADS_1
Krek...
Krek...
Seorang pria dengan setelan jas berusia lebih tua dari mama nya. Masuk dengan membawa tas kerja di tangan nya.
"Papa...!!!" Teriak Agara dengan sangat antusia ketika melihat laki- laki yang di sebut papa masuk ke dalam rumah.
"Agara Sayang..." Timpal sang papa dengan mengusap lembut pucuk kepala Agara. Agara tersenyum riang kesedihan nya atas penolakan sang ibu menguap bersama udara.
"Pa... Bermainlah bersama ku... Aku sungguh merindu kan mu..." Pinta Agara dengan merenggek memasang wajah memelas.
"Aga... Bermainlah bersama mama.. Papa sangat letih pulang kerja sayang..." Balas sang ayah dengan merebah dirinya di sofa.
Wajah senang Agara kecil, berubah menjadi kesedihan. Lagi- lagi ia mendapatkan penolakan dari ke dua orang tua nya. Hanya rasa kecewa yang sekarang membumbung di dalam benak nya.
"Ma... Temani lah Agara bermain sebentar... Dia sangat kesepian.. Temani lah dia.. Papa sangat letih habis pulang kantor...!!" Titah sang suami pada mama Agara yang masih sibuk menelpon dengan bosnya.
Mama Aga, langsung mematikan ponsel nya dan menatap sang suami dengan kesal. Ia sama sekali tidak suka jika di ganggu saat bekerja.
" Kenapa tidak papa saja yang menemani nya untuk bermain... Papa tidak lihat mama lagi kerja...!!" Bantah sang istri dengan berteriak karna kesal
...----------------...
...****************...
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
__ADS_1