Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Kecemasan Dion..


__ADS_3

...7...


Dring....


Dring...


Dring...


"Aaahhhh... Siapa sih yang menganggu pagi buta begini..." Kesal Raehan dengan mengguling- guling kan badan nya. Tubuh nya terasa begitu sangat letih, karna dua hari berturut- turut di paksa menjadi budak, alias pembantu. Yang harus menurut jika di suruh ini dan itu.


Raehan menyabet ponsel di atas meja nakas, di samping tempat tidur. Benda pipih itu tidak bisa berhenti untuk terus berdering sejak tadi.


"Rae...!!! kamu di mana ??? ini sudah hampir jam tujuh dan kamu belum muncul di sekolah... !! Aku sudah memberi tahu mu kan, jika hari ini adalah hari terakhir MPLS. Dan kamu juga belum datang dengan membawa barang - barang yang aku minta..!!!" Teriak Dion dari seberang telpon.


Raehan menjauhkan ponsel dari telinga nya. Suara teriakan Dion dari ujung telpon hampir membuat gendang telinga nya pecah. Apa si ketua osis ini tidak tahu, jika ia sangat lelah. Sejak dua hari Dion selalu menyuruh- nyuruh diri nya. Apa ini yang di sebut asisten ketua osis yang hanya di suruh- suruh seperti seorang pelayan. Pikir Raehan dengan mencebik kan bibir nya kesal.


"Baik lah.. Aku akan segera datang... Kamu bawel sekali sih.. Dasar tukang suruh.." Cicit Raehan dengan merutuk di depan ponsel nya. Seandai nya jika Dion berada di depan nya, sudah pasti ia akan mencakar- cakar wajah tampan yang sangat menyebalkan bagi Raehan.


"Apa kata mu.. Kamu menyebut ku apa??"


"Tidak... Tidak... Aku akan segera datang...!!"


"Hanya dalam 15 menit kamu sudah stand by di sekolah..."


"Iya..."


Tut...


Tut...


Tut...


Raehan mematikan panggilan sepihak. Rasa nya kepala nya akan pecah jika setiap pagi harus mendengar suara si tukang suruh.


"Huhhhhh... Semangat Rae.. Ini adalah hari terakhir, dan setelah itu aku akan terbebas dari kak Dion... Semangat..." Gumam Raehan menyemangati diri nya sendiri. Dengan mengangkat tangan nya membentuk L.


Raehan segera bergegas, sebelum Dion kembali menelpon dan merecoki diri nya. Setidak nya ia harus menjalan kan semua tanggung yang ia pikul sebagai asisten ketua osis. Meski ini lebih cocok di sebut sebagai pembantu.


Tapi ia tidak bisa lepas tangan begitu saja, karna Popsy dan Momsy selalu mengajari nya untuk selalu bertanggung jawab, atas segala hal.


...----------------...


Di sekolah...


Tut...


Tut..


Tut...

__ADS_1


"Sial,,, berani sekali dia menutup telpon. Aku belum selesai bicara... !!!" Ujar Dion dengan kesal, karna panggilan telpon di putus sepihak oleh Raehan.


Ardenalin Dion seakan meluncur bebas, karna ulah Raehan yang belum datang ke sekolah, meski jam sudah menunjukkan jam 7. Yang arti nya kegiatan terakhir MPLS akan segera di mulai. Tapi barang- barang yang di minta Dion belum juga sampai. Membuat diri nya sangat menyesal menyuruh Raehan melakukan hal itu. Jika terus begini tanggung jawab nya sebagai ketua osis akan di pertanyakan.


"Dion.. Apa barang- barang yang kita butuhkan udah sampai.? Raehan Mana??" Tanya Nil, yang terlihat sedikit repot.


"Dia belum datang..." Timpal Dion dengan menatap lurus ke arah gerbang sekolah. Berharap bayangan gadis kecil itu muncul.


"Hah..." Mulut Nil langsung mengangga karna terkejut. Mereka sudah tidak punya waktu lagi, dan Raehan belum datang.


"Acara nya akan segera di mulai Dion... Ini acara puncak... " Cecar Nil yang semakin cemas. Jika terus begini bisa- bisa acara puncak di tunda.


"Itu Dia..." Ujar Dion dengan wajah tersenyum lega, saat melihat Raehan memasuki gerbang utama dengan vespa orange nya.


Tin..


Tin...


Tin...


Suara klakson yang di bunyikan Raehan tepat di depan Nil dan Dion.


Wajah nya benar- benar muram dan asam. Di tambah lagi aura keletihan yang terpancar dari wajah Raehan.


"Cepat bawa barang- barang ini... Acara akan segera di mulai... !!" Titah Dion mutlak.


"Apa... membawa barang sebanyak ini??? Brengsek dia menyuruh ku lagi... Apa dia tidak tahu untuk membawa barang- barang ronsokan ini ke sini, aku sampai tidak mandi, Cih... Jangan kan mandi, cuci muka saja tidak sempat..


Raehan mengangkat semua barang- barang dari vespa mungil nya. Dan berjalan mengikuti Dion di belakang nya. Sebelum sebuah ringgisan suara kesakitan terdengar di belakang Dion.


Bugh..


"Auuuu......" Ringgis Raehan, bersamaan dengan tubuh nya yang terjatuh dan tertimpa barang- barang bawaan nya.


Dion dan Nil langsung memutar badan nya ke belakang. Melihat tubuh mungil Raehan tertimpa baran- barang yang di bawa nya.


Dion terbelalak melihat Raehan yang meringgis kesakitan. Dengan sigap dan cekatan, Dion langsung berlari ke arah Raehan.


Memindah kan barang- barang yang menimpa tubuh Raehan.


Begitu juga dengan Nil yang ikut membantu.


"Aduh.... Kaki ku sakit sekali...."" Ringgis Raehan dengan menggigit bibir bawah nya.


"Mana yang sakit... Kenapa kamu begitu ceroboh..." Ujar Dion dengan cemas, dan khawatir.


Wajah Bossy yang selalu di tunjuk kan, kali ini berubah begitu khawatir, melihat Raehan yang terjatuh.


Raehan terdiam membeku, melihat sikap Dion yang begitu manis.

__ADS_1


"Astaga,,, kenapa dia begitu khawatir dengan ku... Dia sangat cemas.. Kemana sikap Bossy nya yang menyebalkan itu... Aku hanya pura- pura jatuh saja.. biar dia yang membawa semua barang- barang ini... " Batin Raehan dengan memandang Dion, yang masih dengan telaten memeriksa kaki nya.


Rasa bersalah menjalar di hati Raehan. Tadi nya ia hanya berpura- pura jatuh dan kesakitan. Karna tidak mau di suruh membawa barang- barang tersebut. Tapi ia sungguh tidak menyangka melihat sikap Dion yang sungguh sangat mencemaskan diri nya.


Apa dia pantas untuk menipu Dion seperti ini.?


"Dimana yang sakit...??? Aku akan mengendong mu ke UKS... Nil bawa semua barang- barang ini..." Ujar Dion dengan nada cemas, dan menyelipkan ke dua tangan nya di bawah lutut Raehan. Siap mengambil ancang- ancang untuk mengangkat tubuh mungil itu.


"Aaaa.... Tidak... Ti... Tidak... Usah Kak... Kaki ku pasti hanya terkilir, aku masih bisa berjalan kok..." Papar Raehan menolak dengan terbata- bata. Lalu menepis tangan Dion.


"Apa kamu yakin...??"


Raehan mengangguk cepat, dengan menelan salivanya paksa.


Hati baik nya meronta merasa bersalah saat ini. Tapi setidak nya rencana nya berhasil. Ia tidak jadi membawa barang- barang itu.


Dion meraih bahu Raehan dan membantu nya untuk berdiri. Postur tubuh nya tinggi, membuat Dion sedikit kesulitan karna harus terus menunduk, mensejajarkan tinggi badan Raehan yang terbilang pendek.


Dion memapah Raehan berjalan. Mereka berdua begitu dekat, membuat Raehan bisa mencium aroma Mint dari tubuh pria di samping nya.


"Ohhh tuhan... Kenapa aku dan Kak Dion sangat dekat seperti ini... Aku bahkan tidak pernah membayangkan hal ini... Bisa- bisa sandiwara ku bakal terbongkar jika aku terus di dekat nya...." Batin Raehan dengan menundukkan pandangan nya. Ia sangat grogi dengan posisi seperti ini.


"Kak Dion...!" Panggil Raehan dengan nada rendah.


"Hmmm..." Dehem Dion, membuat hembusan nafas nya menerpa tengkuk Raehan, yang langsung membuat Raehan meremang, dengan hembusan nafas Dion yang begitu menggelitik.


"Kok Kak Dion tiba- tiba berubah jadi perhatian banget sih sama aku...?" Tanya Raehan mulus.


Deg...


...----------------...


...****************...


maaf kemarin2 ngak sempat up.. Karna banyak kesibukan...


Tapi mulai hari ini dah rutin ya😁


Terus pantangin cerita nya ya...


Like


koment.


Vote


gift.


Rak favorit.

__ADS_1


Yuk dukung terus karya ini....!!!


__ADS_2