
...318🥶...
Empat Bis mewah yang mengangkut lebih dari seratus peserta akhirnya tiba di puncak. Bis besar tersebut berhenti, membuat semua peserta menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya, mereka sampai di tujuan.
Raehan yang terlalu nyaman dengan pelukan Agara masih betah dengan tidur lelapnya. Ia tidak menyadari jika kini Bis sudah sampai di tujuan. Agara yang sempat ikut terlelap, perlahan membuka kelopak matanya. Ia mengerjap beberapa kali dan mengedarkan pandangannya. Di mana kini semua peserta hampir seluruhnya sudah turun dari Bis.
Agara menatap ke arah Raehan, ia tersenyum melihat gadis mungilnya masih betah tidur. Agara mengusap lembut pipi chuby Raehan, menekan perlahan benda kenyal yang terasa empuk saat dicubit.
"Rae, bangun kita udah sampai!" seru Agara dengan suara lemah lembut.
Namun, bukannya bangun Raehan malah semakin memeluk Agara dengan erat. Tentu saja, hal itu membuat Agara terkekeh gemas.
Agara merogoh saku hoddy dan mengeluarkan ponselnya. Ia tidak ingin melewatkan moment manisnya tanpa mengabadikannya dengan sebuah selfie. Kapan lagi, ia bisa bersua foto dengan gadis manis seperti Raehan.
Cekrek!
Cekrek!
Beberapa foto berhasil ditangkap oleh ponsel Agara. Ia mengulum senyum senang melihat wajah imut Raehan di layar ponsel. Agara kembali memasukkan ponselnya.
Ia pun kembali mencoba membangunkan Raehan. Kini ia lebih mengencangkan cubitan lembut di pipi chuby Raehan agar gadis tersebut bangun dari mimpi indahnya.
"Hei, sayang bangun!" seru Agara meninggikan sedikit nada suaranya.
Merasa pipinya terus dimainkan dan dicubit ringan, membuat tidur nyenyaknya Raehan terganggu. Raehan menggeliatkan tubuhnya dengan mengangkat tangannya ke atas hingga tanpa sengaja mendorong wajah Agara dengan keras.
"Astaga, Rae kau ini bar-bar sekali," lirih Agara dengan mendorong tangan Raehan.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Raehan menarik tubuhnya dan duduk dengan tegap. Raehan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, sembari mengedarkan pandanganya. Ternyata Bis sudah berhenti itu artinya mereka sudah sampai. Bahkan, para peserta yang ada di dalam Bis juga sudah keluar, tinggal dirinya dan Agara yang masih tersisa.
"Yah, kita sudah sampai. Bagaimana, kamu merasa lebih Fresh?" tanya Agara dengan mengambil tissu basah, dan mengusap wajah Raehan agar gadis itu tidak mengantuk lagi.
"Iya, aku lebih baik. Tapi, aku ingin tidur lagi," jawab Raehan dengan memanyunkan bibirnya ke depan. Agara terkekeh geli mendengar jawaban Raehan.
"Apa tidur yang tadi masih kurang? Kamu tidur selama lima jam Rae."
__ADS_1
"Hah? Benarkah? Tapi aku merasa hanya tidur sepuluh menit." Mulut Raehan terbuka dengan lebar.
"Itu karena kamu tidur di dalam pelukanku. Makanya kamu merasa masih kurang. Atau bilang saja kamu ingin tidur dalam pelukanku lagi. Ternyata senyaman itu tidur di pelukanku."
Puk!
"Au ... Kenapa kamu memukulku? Rae." Protes Agara yang mendapat pukulan tiba-tiba dari Raehan.
"Yah karena Kak Aga terlalu percaya diri. Aku itu tidur karena capek, bukan nyaman karena di peluk sama Kak Aga," bohong Raehan sambil memasukkan ponsel serta handsheet ke dalam ranselnya.
"Yang benar? Kamu tidak mau, lain kali tidur di pelukanku lagi?" goda Agara.
Tentu saja mau, bahkan aku mau setiap hari tidur dalam pelukanmu. Batin Raehan yang hanya mampu mengatakan hal itu di dalam hati. Ya kali dirinya akan mengatakan kalimat itu pada Agara. Bisa-bisa jatuh harga diri serta martabatnya sebagai seorang gadis. Apalagi sekarang ia belum resmi memaafkan Agara, meski ia sudah tidak marah lagi dengan pria tampan di sampinganya ini.
"Tidak akan," jawab Raehan dengan tegas, lalu segera berdiri dan berjalan pergi. Namun, langkah Raehan langsung terhenti saat tangannya di cekal oleh Agara.
Agata bangkit dari duduknya, lalu menarik tangan Raehan hingga tubuh Raehan tertarik dengan kuat dan menempel di tubuhnya. Ternyata menaklukkan gadis seperti Raehan sangatlah sulit, tidak semudah mengupas kulit kacang. Namun, bukan berarti ia akan menyerah untuk membuat Raehan luluh. Dulu saja, Raehan langsung bertekuk lutut meski ia bersikap kasar. Apalagi sekarang, ia bersikap sangat manis pada gadis itu, maka pasti Raehan akan segera luluh dan memaafkan dirinya.
"Kak Aga, lepaskan aku!" pekik Raehan dengan menarik tangannya agar terlepas dari cekalan tangan Agara.
"Rae, aku tidak ingin kamu dekat dengan Dion atau laki-laki lain. Aku mohon, jagalah perasaanku," ucap Agara dengan nada memohon. Mendengar permintaan Agara yang begitu sungguh-sungguh membuat Raehan berhenti memberontak.
"Jangan menatapku seperti anak anjing yang kelaparan seperti itu," sinis Raehan membuang wajahnya ke samping. Namun, Agara langsung menarik dagu Raehan untuk kembali menatapnya.
"Kenapa? Apa kamu tidak tega?"
"Kita tidak memiliki hubungan apapun lagi. Jadi, Kak Aga tidak bisa memerintahku atau melarangku untuk dekat dengan pria lain. Lagi pula, ini salah Kak Aga. Siapa suruh Kak Aga bertunangan dengan Lessia," sungut Raehan menumpahkan semua kesalahan pada Agara.
Agara menghela nafasnya panjang. Lagi-lagi ia bungkam jika Raehan sudah mengungkit masalah itu.
"Tapi, Lessia suda pergi Rae." Agara membela diri.
"Iya, dia sudah pergi tapi lukanya masih ada." Raehan mendorong tubuh Agara sedikit keras hingga bisa terbebas dari kurungan Agara.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini padaku? Rae!" seru Agara saat Raehan hampir turun dari Bis.
__ADS_1
"Sampai lukaku benar-benar sembuh!" teriak Raehan dengan mantap lalu segera turun dari mobil.
Belum sempat kaki Raehan berpijak di tanah. Tubuhnya tiba-tiba melayang ditarik oleh seseorang. Tubuh Raehan langsung digeret menuju belakang Bis. Siapa lagi pelakunya jika bukan Dion.
Dion sudah lelah menunggu Raehan untuk turun dari Bis. Akan tetapi, gadis itu tidak kunjung turun. Sehingga ia memutuskan untuk mencari Raehan di dalam Bis. Namun, saat hendak naik Bis Dion melihat Raehan dan Agara yang sedang berbicara. Jadi, ia menghentikan langkahnya dan diam-diam menguping pembicaraan antara Raehan dan Agara.
Saat mendengar penolakan Raehan untuk kembali dengan Agara. Dion berjingkrak kegirangan, hatinya terasa berbunga-bunga.
"Kak Dion lepaskan!" pekik Raehan menarik tangannya.
"Ayolah, jangan marah," ujar Dion melepas pergelangan tangan Raehan dan mengacak-ngacak rambut Raehan.
"Issh, jangan diberantakin," kesal Raehan menatap Dion dengan wajah jelek.
"Uhhh, gemes." Dion hendak mencubit pipi Raehan. Namun, Raehan segera menghindar.
"Jangan sentuh-sentuh!" larang Raehan dengan melotot. Entah kenapa pesan Agara untuk tidak dekat-dekat dengan Dion teringat dikepalanya. Hah, beginilah kalau hati bucin, pasti apapun yang diminta orang yang disukai ia pasti akan menurut.
"Baiklah, Aku senang melihatmu menolak Agara. Apa yang kamu lakukan memang sudah benar."
"Kak Dion menguping pembicaraanku dengan KakAga?"
"Sedikit."
"Dengar ya Kak Dion, lain kali jangan coba-coba melakukan hal itu karena aku tidak suka. Sekali lagi Kak Dion nguping pembicaraanku, aku sumpahin telinga Kak Dion berubah jadi kuping keledai," ujar Raehan memperingatkan Dion. Lalu segera berlari pergi meninggalkan Dion. Ia tida ingin Agara sampai melihatnya bersama Dion.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
Like
koment
__ADS_1
gift
vote