
...110โฃ...
Dion membuka pelan kaca mata nya.
Sungguh bodoh diri nya, kenapa tidak terpikir kan hal itu di kepala nya.
Ia malah bersusah payah membongkar kertas- kertas payah ini sejak tadi pagi.
Seperti nya otak nya perlu di cuci ulang karna kecerdasan nya berkurang. Batin Dion menunduk konyol.
"Padahal Aku merasa dia sangat cocok untuk menjadi kandidat calon ketua osis selanjut nya.." Ujar Dion dengan memicing kan mata nya.
"Tapi mau gimana lagi dia tidak mendaftar kan.."
"Tapi menurut mu bagaimana? Apa menurut mu dia cocok untuk kandidat selanjut nya sesuai dengan dugaan ku.?"
"Menurut ku sih oke oke aja. Raehan tipikal gadis yang tegas, tidak bertele- tele, selalu membela keberanaran dan yang paling keren dia berani..."
Dion tersenyum miring mendengar pendapat Niel yang juga ternyata sama dengan diri nya.
Mencari sosok ketua osis yang tepat sangat lah sulit. Ia tidak mau jika posisi nya di gantikan oleh orang yang salah.
Apa lagi dengan tipikal siswa yang menggunakan kekuasan nya untuk mendapat kan apa yang ia ingin kan.
Sejak pertama kali ia melihat Raehan, saat ia masuk ke dalam ruangan osis dengan kepala terangkat, dan juga tanpa takut ia melawan pemimpin gugus nya sendiri.
Membuat Raehan mencetak sendiri nilai bagus dalam pandangan Dion.
Tapi sayang nya, gadis kecil itu seperti nya tidak berminat untuk bergabung dalam organisasi yang ia pimpin.
Yang hanya tinggal beberapa minggu lagi, ia akan melepas jabatan nya sebagai ketua osis karna harus fokus pada ujian akhir yang akan datang.
Begitulah konsep yang tertera pada sekolah Milver High School.
Dan hal itu membuat Dion memutar otak, untuk mencari kandidat yang bagus dan ulet, serta bertanggung jawab untuk menerus kan jabatan nya.
Menjadi ketua osis tidak lah mudah, ia harus membagi fokus nya menjadi dua yaitu kepada tanggung jawab dan juga pelajaran.
Semua nya cukup melelah kan, namun apa boleh buat. Semua nya telah di limpah kan kepada nya dengan penuh hormat.
Dion meraih bolpoin yang tergeletak begitu saja di samping kertas- kertas putih yang sudah berserakan di meja kehormatan nya.
Mengetuk- ngetuk meja dengan ujung bolpoin dengan tangan yang lain nya memanggku kepala nya.
Pikiran nya melayang begitu jauh, mencari solusi untuk mendapat kan apa yang diri nya ingin kan.
Sementara Niel hanya bisa berdecak pasrah melihat mode berpikir ala Dion sudah menyala.
Jika sudah begitu, ia tidak mau menganggu kawan karib nya itu. Jika tidak setumpuk tugas akan melayang pada nya.
__ADS_1
Dalam organisasi terbesar ini, diri nya menerima jabatan sebagai sekertaris utama dengan beberapa bawahan yang berada dalam kendali nya.
Semua nya terjadi karna keinginan Dion sang ketua yang tak bisa terbantah kan. Perintah nya adalah mutlak dan harus segera di selesai kan.
Saat di angkat dan di lantik sebagai ketua osis Milver High School, Dion menggandeng tangan nya menjadi sekertaris.
Awal nya ia menolak tapi seperti yang di katakan tadi, perintah Dion adalah mutlak. Hingga ia merima tanggung jawab ini dengan hati terpaksa.
Namun meskipun begitu, ia tidak pernah melakukan pekerjaan nya dengan setengah hati meski ia di angkat tanpa kesanggupan nya sendiri.
Setidak nya ia tidak ingin mempermalukan sekolah Milver High School karna ulah kinerja nya yang tidak sempurna.
Dan di sini lah ia berada sekarang, dalam ruangan osis yang selalu menjadi ruangan yang menjadi saksi bagaimana ia bekerja dengan keras.
Tapi setidak nya setelah dua tahun lama nya diri nya menjabat, akhir nya ia akan terbebas dari tanggung jawab yang selalu ia pikul dan junjung tinggi.
Namun, di lubuk hati nya terdapat kesedihan karna harus melepas jabatan ini.
"Niel setelah aku memikir kan semua nya.. Masuk kan Raehan dalam kandidat anggota osis baru...!" Cetus Dion menghambur kan lamunan Niel yang sudah mencapai nirwana.
"Hah.. Tapi bagaimana bisa? Raehan sama sekali tidak mendaftar.." Sangkal Niel terkejut.
Astaga ide gila macam apa lagi yang akan di buat Dion?
Apa nasib nya yang dulu kini harus terulang oleh Raehan?.
Batin Niel memasang wajah sendu.
"Jangan membantah, kau turuti saja perintah ku.. Yang lainnya biar kan aku yang mengurus nya. Besok pagi silah kan kamu tempel nama- nama calon anggota itu. Dua hari kemudian persiap kan semua nya. Kita akan mulai seleksi pencarian calon ketua osis serta jajaran nya..."
"Tapi--"
"Jangan banyak bicara Niel.. Laksanakan apa yang di perintah kan ketua mu.."
Mulut Niel langsung bungkam, apa yang ia katakan tadi tidak pernah berubah.
Bagaimana keras nya ia mencoba menyangkal pendapat Dion yang memaksa, maka ia akan kalah telak.
Jika suatu hari ia bisa menyangkal perintah Dion. Maka hari itu akan menjadi hari bersejarah dalam hidup nya. Dan pasti nya ia akan menulis sejarah hari itu dengan tinta emas di dinding kamar nya.
...----------------...
Waktu bergulir dengan cepat, suasana langit yang terang kini telah kembali terselubung cahaya gelap.
Di temani dengan cahaya bintang dan rembulan berwarna orange yang saling berdampingan di tengah- tengah kegelapan yang sedikit mencekam.
Agara berdiri di balkon sambil wajah nya menengadah memandang keindahan rembulan malam ini.
Wajah tegas dan tampan nya memantul kan sinar rembulan yang menerpa wajah nya. Jika saja Raehan menyaksikan pemandangan ini, mungkin seluruh tulang nya akan meleleh dan tubuh nya akan menjadi jelly.
__ADS_1
Agara menelan saliva nya paksa, kadang ia menutup mata nya lama, namun kembali terbuka. Lalu ia kembali menutup mata nya lagi namun seperkian detik kembali ia buka.
Gelisah..
Itu lah yang kini tengah ia rasakan. Ia sudah berusaha melupakan kejadian yang begitu intim antara diri nya dan Raehan namun ia gagal.
Sejak usai kejadian tersebut, jantung nya tidak pernah berhenti untuk berdegup dengan kecepatan dua kali lipat.
Terkadang ia memukul dada kiri nya untuk membuat detakan jantung nya normal, namun itu hanya cara bodoh yang ia lakukan.
Setiap kali memejam kan mata, wajah dan hembusan nafas gadis sial itu kembali teringat dalam memori nya.
Membuat tubuh nya terasa panas , pipi nya memerah dan debaran jantung yang berdegup kencang.
Benar- benar sangat menyebal kan.
Rasa ini sungguh membuat nya frustasi. Rasa yang membuat nya kini tidak bisa memejam kan mata walau hanya sesaat.
Hingga di sini lah diri nya, merasakan hembusan angin malam yang menusuk kulit, ia berharap dengan menatap rembulan ia bisa melupakan wajah gadis sial itu.
Namun nyata nya tidak bisa, wajah gadis sial itu seperti sebuah alarm berbentuk layar dalam ingatan nya.
Semakin ia ingin melupakan nya maka akan semakin jelas dan menempel dalam memori kecil nya.
"Seperti nya besok aku harus konsultasi dengan skiater.. Hhhuhhh."
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???
__ADS_1