
...328...
Agara meletakkan tangannya kanannya di bawah lutut Raehan, sementara tangan kirinya di bawah punggung gadis itu. Dalam satu kali gerakan, Agara membawa Raehan dalam gendokannya. Dengan sigap, Raehan mengalungkan kedua tangannya di leher Agara. Raehan melempar senyum yang lansung di balas dengan senyuman oleh Agara.
"Turunkan aku! Aku berat," renggek Raehan dengan manja, tetapi mengeratkan pelukannya di leher Agara. Agara terkekeh melihat wajah Raehan yang terlihat sangat menggemaskan ketika sedang merenggek seperti ini. Wajah Raehan terlihat seperti bayi yang tengah meminta ASI.
"Tidak, aku tidak akan menurunkanmu. Aku akan menurunkanmu saat kita sudah sampai di Camp," tolak Agara dengan mengedipkan sebelah matanya genit.
"Tapi aku berat, nanti pinggang Kak Aga encok kalo terus gendong aku," sindir Raehan terdengar meledek.
"Ohhhh, kamu meledekku?"
"Tidak, mana mungkin aku berani."
"Tubuhku ini kekar, aku rajin olahraga setiap hari, menggendong tubuhmu yang kecil ini tentu saja aku kuat," balas Agara tak ingin kalah untuk mengejek Raehan.
"Apa? Aku kecil?" Raehan melebarkan matanya tidak terima.
"Iya, kamu kecil seperti anak kelinci," jawab Agara dengan gemas, bahkan giginya sampai bergesekan karena saking gemasnya dengan Raehan.
Raehan menyeringgai mendengar ucapan Agara. Ia menarik tubuhnya hingga membuat wajahnya berada tepat di samping wajah Agara.
"Jika aku seperti anak kelinci itu artinya aku imut," bisik Raehan tepat di telinga Agara.
Agara langsung memejamkan kedua matanya, saat merasakan sapuan hangat nafas Raehan yang menggelitik daun telinganya. Dengan jahilnya Raehan menggesekkan hidung mungilnya di pipi Agara sehingga membuat darah Agara berdesir dengan sangat hebat.
Agara menoleh ke samping, hal itu membuat keningnya dan kening Raehan menempel dengan kedua hidung mereks yang saling bergesekan.
"Kamu adalah gadis yang paling imut yang pernah ku temui, kamu puas?" ujar Agara yang mampu mengukir senyum di bibir Raehan. Hati gadis mana yang tidak meleleh dan melebur ketika pria tampan yang sangat dicintai memuji dirimu. Raehan memalingkan wajahnya dan memundurkan tubuhnya.
"Jangan terus memujiku, nanti ada yang cemburu," ujar Raehan dengan wajah cemberut.
"Siapa?"
"Lessia, tunanganmu."
"Ha ... Ha ..., aku sudah memutuskan pertunangan dengannya. Apa perlu aku mengatakannya berulang kali?"
__ADS_1
"Iya karena aku yakin Kak Aga pasti juga memyukai Lessia."
"Tidak, jika aku menyukainya. Mana mungkin aku memutuskan pertunangan dengannya."
"Ohh, jadi Kak Aga menyesal karena telah memutuskan pertunangan dengan Lessia." Raehan memukul dada Agara ringan.
"Aauuu, astaga bukan begitu. Kan kalau aku menyukai Lessia tapi aku menyukai gadis mungil dan manja ini."
Raehan langsung tertawa ringan dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus. Astaga, Agara benar-benar membuat ia salah tingkah dan malu.
Keduanya terus berjalan menyusuri hutan, dengan Agara yang menggendong Raehan. Mereka terus mengobrol dan melemparkan guyonan kecil hingga gombalan yang meluluhkan hati.
Agara sangat senang dan lega karena Raehan mulai bersikap seperti dulu lagi, saat hubungan mereka masih baik-baik saja. Akan tetapi, ia belum berani untuk membahas hubungan antara dirinya dengan Raehan. Ia takut, mood Raehan akan buruk sama seperti ketika di Bis.
Sudah hampir 30 menit Agara berjalan sambil menggendong Raehan. Buliran keringat mulai terbentuk dan mengalir dengan mulus pada wajah tampan Agara. Raehan yang melihat hal itu, segera menyeka keringat Agara dengan tangannya tanpa rasa jijik.
Hatinya benar-benar meleleh seperti kue coklat yang sangat lumer. Agara begitu perhatian padanya, bahkan tanpa pikir panjang pria itu mencari dirinya di dalam hutan yang gelap dan sepi ini. Sungguh sangat romantis dan pengorbanan yang cukup meluluhkan jiwa.
"Kak Aga!" panggil Raehan dengan suara lembut.
"Hmmm," jawab Agara dengan nafas yang memburu.
"Lalu?"
"Bisakah kita beristirahat dulu? Aku haus dan juga lukaku perlu untuk di basuh."
Agara terlihat berpikir, sebenarnya ia tidak ingin berhenti dan terus melanjutkan perjalanan agar mereka cepat sampai di Camp. Namun, melihat wajah letih dan kotor Raehan membuat ia menyetujui keinginan gadis yang ada dalam gendongannya.
"Baiklah, kita akan beristirahat tapi hanya sebentar. Kita harus segera kembali ke Camp karena hari sudah mulai gelap," ucap Agara mengingatkan.
"Iya, sesuai perintah." Raehan merasa sangat senang karena Agara setuju dengan permintaannya. Sebenarnya ia hanya ingin Agara beristirahat dan menurunkan dirinya. Ia tahu jika Agara bukan mesin yang selalu kuat untuk menggendongnya, meski tubuhnya tidak terlalu berat tapi tetap saja Agara akan merasa kelelahan jika terus menggendongnya dalam kurun waktu yang lama. Akan tetapi, pria itu menyembunyikan rasa lelahnya hanya untuk tidak membiarkan dirinya menyentuh tanah.
Agara berjalan mendekat ke arah sungai. Suara aliran sungai dan gemericik air membuat kerongkongannya terasa mengering. Air yang jernih di depannya begitu menggugah selera.
Perlahan, Agara menurunkan tubuh Raehan dan mendudukkannya di sebuah batu yang cukup besar. Raehan menjulurkan kedua kakinya ke dalam sungai. Rasa perih seketika menyerang saat luka-luka gores di kakinya terkena air yang dingin.
Raehan mengambil air dengan kedua tangannya. Lalu, meminum air tersebut yang langsung membasahi kerongkongannya. Begitu pula dengan Agara yang melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Agara merobek ujung baju yang ia kenakan, kemudian membasahi sobekan bajunya. Lalu mengarahkannya pada luka di pipi chuby Raehan.
"Kemarilah, biar kubantu membersihkan lukamu," ujar Agara dengan menarik dagu Raehan.
"Tahan sedikit, ini pasti akan perih." Agara mengusap dengan sangat pelan luka gores yang ada di pipi Raehan dengan sobekan basah tersebut. Agara menggigit bibir bawahnya, seolah-olah menahan rasa sakit. Akan tetapi Raehan yang sedang diusap lukanya malah fokus memandangi wajah tampan Agara.
"Kamu tidak mengerang?" tanya Agara merasa aneh. Raehan yang terluka saja tidak merasa sakit saat ia membersihkan luka gadis itu. Malah ia yang merasa kesakitan, seolah-olah ia yang sedang terluka.
"Untuk apa aku mengerang? Ini tidak sakit," jawab Raehan dengan jujur. Yah, lukanya tidak terlalu perih karena itu hanya luka gores.
"Benarkah? Tapi ini berdarah."
"Lukanya tidak dalam, jadi tidak terlalu sakit."
"Selain imut, kau juga kuat ternyata," goda Agara yang langsung membuat Raehan tersipu malu.
"Tentu saja, aku tidak boleh lemah. Kata Popsy aku punya banyak musuh."
"Musuh?"
"Entahlah, aku tidak tahu makna dari kata-kata Popsy." Raehan mengendikkan bahunya.
"Sudahlah, aku janji mulai saat ini aku akan menjadi tameng terdepan untuk melindungimu, Rae." Wajah Agara berubah menjadi serius. Terlihat dari ekspresi Agara jika dia tidak main-main dengan perkataannya barusan.
"Jangan memberi janji jika kamu tidak bisa menepati," sindir Raehan sambil memainkan air sungai.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
__ADS_1
vote
tips