
...160โฃ...
"Apa kamu mendengar semua nya?" Ujar Agara memulai pembicaraan, yang langsung membuat Raehan membatu di tempat.
Tenggorakan Raehan terasa mengering dengan batu besar menindih dada nya.
Apa Agara tahu jika ia menguping pembicaraan antara diri nya dengan Sofia?
Atau Agara bertanya seperti itu, untuk menggertak nya.
Astaga diri nya sudah seperti seorang penguntit yang tertangkap basah.
Agara kembali menajam kan ke dua tatapan nya. Tatapan menuntut yang meminta penjelasan.
Tatapan yang siap mengelupas kulit Raehan.
Agara sebenar nya tahu, jika ada orang yang tengah memperhati kan diri nya, tapi ia mengira itu adalah Sofia.
Namun saat ia berbicara dengan Sofia mata tajam nya tidak sengaja menangkap warna bandana kuning yang sangat kontras dengan warna dedaunan.
Sehingga Agara menyadari jika di tempat ini tidak hanya ada diri nya dan Sofia namun ada orang ketiga.
Dan yang semakin membuat diri nya yakin, saat Raehan keluar dengan tiba- tiba dari dalam semak- semak karna di jatuhi seekor laba- laba.
"Kenapa kamu diam...?" Seru Agara lagi yang langsung membuat dada Raehan semakin bergemuruh.
"Aku tidak sengaja..." Cicit Raehan dengan menggigit lidah nya.
"Jika tidak sengaja, kenapa tetap berdiri di balik pohon..?." Suara Agara semakin menekan dengan nada mengintrogasi mengalah kan seorang kriminal yang sedang di periksa oleh polisi.
"I... Itu..."
"Kamu tahu kan jika itu adalah perbuatan yang lancang..?"
"Ta... Ta... Tapi..."
"Apa kamu pikir dengan sikap kepo mu orang lain tidak akan merasa terganggu..?"
"A... Aku.. Aku hanya..---"
"Apa hak mu berani mendengar kan pembicaraan orang lain.?"
"Baik lah iya aku mendengar semua nya, aku mendengar jika kak Aga mengalami sebuah kejadian di waktu kecil yang membuat kak Aga hingga kini menjadi trauma.. Ya aku berdiri di balik pohon sejak kak Sofia datang.. Ya aku mendengar semua pembicaraan kalian...." Ujar Raehan dengan nada cukup tinggi, dan dalam satu kali tarikan nafas.
__ADS_1
Ia tidak bisa terus di pojok kan seperti itu terus, ia tidak bisa terus di tekan. Dada nya merasa sesak dan ia tidak sanggup lagi mendengar cecaran pertanyaan Agara yang bahkan belum satu pun yang ia jawab.
Raehan menghela nafas lega, dada nya terasa lega usai mengatakan kalimat panjang tersebut.
Agara terdiam seribu bahasa, mendengar rentetan jawaban cepat Raehan.
Ternyata benar apa yang ia duga, gadis mungil ini mendengar semua yang ia bicarakan dengan Sofia.
"Pergi lah...!" Tukas Agara yang langsung membalik kan badan menuju arah tepi danau, dengan satu kalimat singkat yang membuat Raehan mengerjit.
Saat ini diri nya ingin sendiri, ia ingin menjernih kan pikiran nya dan bersembunyi dalam sepi.
Gadis sial sudah tahu apa yang terjadi pada diri nya, meski ia belun tahu segala kisah nya.
Tapi ia tidak ingin di tatap iba atau pun kasihan karna ia tidak sudi menerima tatapan menjijik kan seperti itu.
Agara memasuk kan ke dua tangan nya ke dalam saku celana.
Sementara di belakang nya, Raehan melangkah mengikuti langkah Agara.
"Kenapa aku harus pergi ?" Celetuk Raehan yang tidak terima di usir, meski suara Agara terkesan datar.
"Aku memang sudah lancang mendengar kan semua tentang Agara... Aku juga tidak tahu kehidupan berat apa yang selama ini kakak jalani.. Aku bahkan juga tidak tahu luka apa yang sampai hingga kini masih terbuka... Tapi apa kakak tidak ingin keluar dari masa lalu itu?. Kenapa kakak harus hidup dalam jebakan masa lalu..? Hidup terus berjalan bahkan waktu juga berputar... Masa lalu ---"
Luka nya kembali terbuka, kenangan kelam nya kembali terbayang.
Gambar keluarga utuh dan hancur kembali berputar di kepala nya.
Bahkan hanya mengingat semua itu, ia merasa mati ribuan kali.
Luka itu merantai nya begitu kuat, bahkan untuk menatap masa depan ia tak punya keberanian sama sekali.
Raehan terkesiap saat Agara berteriak kepada nya.
Bahkan tubuh nya sedikit gemetar karna melihat sosok berbeda pada diri Agara.
Di hadapan nya kini bukan lah Agara yang tampan, tapi lebih mirip terlihat seperti monster.
Mata merah berair, wajah mengeras dan berubah masam, lalu otot- otot leher yang menonjol dengan jelas. Belum lagi kemarahan dan rasa sakit yang menyatu menjadi satu yang kini telah menyelubungi wajah tampan bak pahatan patung yunani.
Ia sungguh sama sekali tidak ingin memancing kemarahan Agara, ia hanya ingin menyuarakan apa yang ia pikir kan.
Bahkan ia juga tidak menduga jika emosi Agara serapuh itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam? Hah?" Agara menunjuk wajah Raehan.
"Sakit dan luka ini terlalu dalam, kamu ingin tahu luka apa yang masih menganga hingga bertahun- tahun..." Dengan cukup bertenaga Agara mengguncang ke dua bahu Raehan cukup keras, yang semakin membuat Raehan ketakutan.
"Luka yang tak akan pernah bisa untuk di sembuh kan.. Luka masa kecil di mana orang yang paling ku cintai meninggal kan aku sendiri... Agara kecil yang terus menangis di pojok kamar sambil memegang sebuah boneka kayu... Agara kecil yang menjadi saksi perceraian ke dua orang tua nya tepat di depan mata nya.. Agara kecil yang tidak merasakan kasih sayang yang seharus nya ia dapat kan.. Bahkan kehadiran nya saja tidak di harap kan.. Luka apa lagi yang jauh lebih besar dan menyakit kan... Ketika anak seumuran mu tersenyum bahagia dengan menggandeng ke dua orang tua nya. Sementara aku hanya bisa melihat kebahagian orang lain tanpa bisa merasakan kebahagian itu sendiri...
Kebahagian seakan menertawakan diri ku hingga bahkan aku tak berani untuk merasakan satu rasa itu... Dan kamu tahu yang sangat melukai ku adalah ke dua orang tua ku melakukan itu semua hanya demi uang..."
Tubuh Agara merosot jatuh ke tanah bersamaan dengan ke dua bahu nya yang bergetar karna menangis.
Hati nya benar- benar teriris berkeping - keping bahkan kini ia tidak mempedulikan pendapat Raehan tentang diri nya.
Rasa nya begitu sakit, bahkan meski sudah bertahun- tahun lama nya rasa sakit nya tetap sama.
Agara menutup wajah nya dengan ke dua tangan nya.
Menumpah kan tangis nya yang kini tak bisa ia tahan lagi.
Hal yang selalu bisa membuat diri nya lemah dan menangis tak berdaya, seperti seorang anak kecil yang menangis karna kehilangan permen favorit nya.
Sungguh miris tapi ini lah hidup yang ia jalani. Hidup tanpa tahu apa arti kasih sayang dan hidup dalam bayang- bayang reruntuhan rumah tangga yang hancur.
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
__ADS_1
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???