Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Malam malam


__ADS_3

...177โฃ...


Prak....


Agara membanting ponsel nya dengan keras, hingga layar benda pipih itu melebur.


Agara semakin melipat tubuh nya, hingga kini lutut nya menempel dengan bibir nya.


"Kenapa Raehan tidak menjawab telpon ku...?" Racau Agara berulang kali, di mana tubuh nya semakin bergetar hebat.


Trauma nya kembali kambuh, di mana tubuh nya menggigil dengan jari telunjuk nya yang di gigit kuat hingga mengeluar kan darah segar.


Pikiran Agara semakin kalut, saat Raehan tidak sama sekali menjawab panggilan telpon dari nya.


Pikiran nya kembali melayang dan memikir kan hal- hal negatif.


"Apa gadis mungil ku berbohong?"


"Apa dia sengaja mengata kan semua kata- kata itu untuk menenang kan aku, untuk membuat ku percaya lalu dia meninggal kan aku sendiri?"


"Dia mengata kan akan menjadi segala nya untuk ku... Dia mengata kan menyayangi ku lalu kenapa telpon ku tidak di angkat...?"


Gumam Agara dengan mata memerah dan berkaca- kaca.


Rasa takut nya kembali menjelma menjadi trauma yang begitu menyiksa tubuh nya.


Pikiran nya benar- benar sudah di penuhi oleh pikiran buruk.


Namun hati nya terus menyakin kan jika apa yang di pikir kan adalah salah.


Agara semakin tersiksa, saat hati dan pikiran nya berperang satu sama lain. Rasa nya tubuh nya akan meledak detik ini juga.


Dengar kan kata hati mu...


Dengar kan kata hati mu...


Dengar kan kata hati mu...


Kata- kata manis Raehan terngiang - ngiang di kepala Agara.


Seolah mensugesti diri nya untuk mendengar kan apa yang di kata kan hati nya.


Aku akan selalu menggenggam tangan mu...


Aku tidak akan meninggal kan mu..


Percaya lah...


"Aku percaya...!" Lirih Agara memejam kan ke dua mata nya erat, membayang kan wajah manis Raehan dengan senyum indah mengalah kan indah nya pelangi.


Agara membuka kelopak mata nya dengan cepat, ia membutuh kan Raehan.


Dan ia harus pergi sekarang. Dengan cepat Agara bangun, menahan rasa sakit yang rasa nya saat ini menguliti hidup nya


Menghisap sari pati hidup nya, di mana kenangan buruk dan bisikan- bisikan jahat terus menghantui pikiran nya.


Tangan Agara yang masih gemetar membuka lemari nya, menyabet jaket yang tergantung dengan rapi lalu mengenakan nya.


Dengan setengah berlari, Agara keluar dari apartement nya.

__ADS_1


Menuju area parkir dan langsung mengemudi kan mobil mewah nya dan melesat dengan kecepatan tinggi di tengah jalanan yang mulai senggang.


...----------------...


Raehan terduduk lemas di atas ranjang mini nya yang separuh nya di penuhi oleh boneka.


Mendengar apa yang di kata kan sang ibu, sebelum panggilan itu berakhir kini semakin membuat pikiran nya kacau.


Kepala nya rasa nya sangat berat, bahkan lebih berat dari satu ton batu besar.


Rasa nya otak kecil nya sedang di tindih sesuatu yang sangat besar, hingga membuat kepala nya hampir terasa meledak.


"Apa benar pria mengecup kening seorang gadis bukan berarti pria itu mencintai nya.. Itu arti nya kak Aga modus donk cium- cium dan icip- icip aku."


Raehan mengusap kening nya, yang bahkan ia masih bisa merasa kan benda kenyal merah Agara masih menempel di kening nya.


"Tapi kan tidak semua pria sama?... Huhhhh ini semua gara- gara Felix.. Kenapa sih pria itu harus menyukai ku.. Aku tahu aku cantik , imut, manis mengalah kan manis nya madu. Tapi... Ckkkkk...." Raehan menggaruk kepala nya frustasi.


"Ahhhh sudah lah... Mending aku selesai kan tugas ku dulu.. Baru aku tidur... " Putus Raehan mutlak, lalu bangkit dari duduk nya dan mendekati kembali meja kerja nya.


Ia berusaha fokus pada kertas di depan nya, bahkan saking Raehan memaksa, bibir nya sampai di monyong kan ke depan.


Dengan cepat, tangan nya kembali menulis beberapa kata. Sebelum semua nya menghilang karna perkataan laknat Felix.


Raehan menutup buku tulis nya dengan kasar hingga menimbul kan suara.


Brak...


Lalu menghembus kan nafas nya kasar.


"Aku rasa ini sudah cukup... Aku harus tidur sekarang, sebelum aku menjadi gila..." Raehan mengepal kan tangan nya erat, membangun keyakinan dalam diri nya, jika ia tidak perlu memikir kan hal- hal seperti itu.


Dan tidur seperti nya adalah jawaban terbaik untuk masalah nya kali ini.


Atau jika tuhan berbaik hati kepada nya. Ia berharap malam ini tuhan mengirim kan jawaban lewat mimpi.


Raehan memasuk kan buku tulis nya ke dalam tas, lalu segera beranjak dan melempar kan tubuh nya ke atas kasur mini kesayangan.


Tubuh nya langsung di sapa oleh empuk nya kasur tidur, yang terasa bisa merilekskan pikiran Raehan meski hanya sedikit.


Tapi ia yakin , diri nya pasti bisa menyingkir kan dan melupakan kata- kata Felix.


Ia tidak selemah itu untuk terus memikir kan kata- kata Felix, yah meski kata- kata pria menyebal kan itu ada benar nya juga.


Belum lagi di tambah kata- kata dari sang Momsy yang menambah kekuatan argument Felix.


Tapi ia tidak boleh berlarut memikir kan nya, ia tidak mau rambut nya rontok , dan wajah nya menjadi keriput karna keras nya ia berpikir.


Raehan memejam kan mata nya, berharap peri mimpi segera menyapa nya , dan membawa nya terbang ke dunia mimpi. Di mana dunia itu diri nya bisa menjadi apa pun yang diri nya kehendaki.


Dan benar saja, seperti nya keinginan Raehan menjadi kenyataan.


Hanya beberapa detik, nafas nya terdengar beraturan yang menjadi pertanda jika gadis mungil itu kini telah memasuki dimensi lain.


Agara memberhenti kan mobil nya di depan sebuah kontrakan mini, di mana satu lampu bersinar cukup terang di area teras.


Dengan berlari, Agara menuju kontrakan tersebut.


Memandangi pemandangan yang tak berubah sama sekali, dari terakhir kali ia mengunjungi tempat ini.

__ADS_1


Entah sejak kapan Raehan gadis mungil itu menjadi candu bagi nya.


Seperti Raehan adalah obat penenang paling mujarab yang bisa mengatasi rasa takut, kalut, gelisah, dan marah dalam diri Agara yang kini berkumpul menjadi satu, dan menciptakan sensasi aneh dalam diri nya.


Tokk..


Tok...


Tok...


Agara mengetuk pintu dengan cukup keras, berharap pintu tersebut segera terbuka, karna ia sudah sangat ingin bertemu dengan Raehan.


Raehan menggeliat kecil, saat mendengar suara ketukan dari pintu kontrakan nya.


"Hoammm siapa sih yang bertamu malam- malam gini.. Ngak tahu apa yah orang udah tidur..." Kesal Raehan, yang malah semakin menelusup kan kepala nya di bawah bantal.


Demi apa pun saat ini ia sangat malas untuk bangun.


Mungin saja ia salah dengar, karna diri nya tidak sama sekali mengundang siapa pun.


Tidak mungkin dua sahabat abnormal nya itu yang datang malam- malam seperti ini.


Bahkan Raehan yakin ke dua nya sudah asyik membuat sungai Nil yang panjang di atas bantal masing- masing.


Tokk


Tok...


Dor...


Dorrrr...


Raehan mendudukkan diri nya saat suara gedoran pintu semakin keras.


"Siapa sih...?" Dumel Raehan mengucek mata nya, lalu melangkah keluar dari kamar untuk melihat siapa yang berani menggedor pintu kontarakan nya.


"Awas aja kalau setan.. Aku kutuk kamu jadi iblis.." Gumam Raehan membuka kunci lalu memutar knok pintu dengan cepat.


"Mau apa sih berta---" Ucapan Raehan langsung terhenti dengan ke dua mata membola lebar, melihat siapa yang kini berdiri di depan pintu kontrakan nya.


...----------------...


...****************...


Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Terus pantangin cerita nya ya...


Like


koment.


Vote


gift.


Rak favorit.


Yuk dukung terus karya ini....!!!

__ADS_1


kalo ngak koment atau like atau kasi gift..


Kalian benar- benar kejam ama thor๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ???


__ADS_2