
...166โฃ...
Agara menghela nafas nya dalam, lalu menghembus kan nya dengan perlahan.
Rasa gugup mulai menyerang nya kembali, saat ia kini telah berdiri di depan pintu ruang privat milik nya.
Jantung nya rasa nya di pompa dengan begitu cepat, dengan paru- paru yang semakin terasa sesak.
Oksigen di sekitar nya terasa menghilang entah kemana, bahkan tangan nya kini terasa dingin dan gemetar.
Ia berharap dengan makanan yang ia bawa, Raehan bisa kembali seperti awal, ceria dan cerewet.
Namun ia tidak bisa membayang kan bagaimana reaksi gadis mungil itu nanti.
Karna setelah ia mengatakan semua nya tadi, Raehan malah diam membatu seperti patung.
Agara memejam kan ke dua mata indah berwarna merah darah itu, mata yang selalu berhasil mencuri hati gadis dan terjebak di dalam pesona nya.
Dengan perlahan Agara membuka kelopak mata nya, mensugesti diri nya jika apa pun yang terjadi adalah yang baik.
Bukan kah selama ini Raehan selalu mengejar nya, dan kali ini gadis itu mendapat kan nya.
Lalu apa yang membuat nya khawatir?.
Agara mengumpul kan kekuatan nya, menyatu kan tekad dan keberanian untuk membuka pintu di hadapan nya. Dan kembali bertatap wajah dengan Raehan.
Sungguh rasa nya saat ini ia lebih memilih untuk menyampai kan pidato sambutan di seluruh hadapan warga kota Milver , dari pada harus berhadapan dengan Raehan, gadis yang sudah berhasil memporak- porandakan hati dan pikiran nya.
Tangan Agara terulur menyentuh knok pintu, lalu memutar nya dengan perlahan.
Sementara di dalam ruangan privat tersebut, Raehan malah menggigiti kuku- kuku jari nya, dengan buliran keringat dingin yang sudah merembes di pelipis nya.
Demi apa pun, ia tidak pernah sama sekali segugup ini dalam hidup nya. Meski ia berhadapan dengan orang berpengaruh di kota ini, rasa gugup nya tak sebanding dengan rasa gugup bertemu Agara.
Rasa nya saat ini ia ingin menenggelam kan wajah nya ke dalam palung laut terdalam.
Menyembunyi kan wajah nya yang memerah karna malu, yang bahkan tak sanggup untuk bertatapan dengan wajah sempurna Agara.
Bahkan kini, hati nya rasa nya ingin meledak. Di mana rasa senang yang membuncah bersamaan dengan keberanian nya yang menciut seperti kerupuk sapi.
Ceklek....
Glek....
Cetter....
Raehan menelan bulat- bulat saliva nya paksa, di mana kerongkongan nya berasa tersumpal oleh cairan lengket itu.
Rasa nya sebuat petir dengan kekuatan jutaan volt, saat ini menyambar tubuh ringkih nya.
Lagi- lagi tubuh Raehan membatu di tempat dengan pandangan lurus pada pintu yang mulai bergerak dengan perlahan.
__ADS_1
"Ayo lah... Dasar tubuh kaku, jangan lagi... Jangan membuat ku malu lagi... Bekerja sama lah...!!!" Ringgis Raehan dalam hati yang sangat kesal dengan respon tubuh nya yang benar- benar berlebihan.
Agara lagi- lagi menghembus kan nafas nya. ia benar- benar sangat gugup saat ini. Bahkan wajah nya mulai memucat.
Namun ia tidak mungkin mundur dan berlari pergi, jika sampai ia melakukan tindakan pengecut itu, entah apa yang akan di pikir kan Raehan.
Ayo lah, ia tidak ingin malu dalam kesan pertama nya. Batin Agara berusaha mengontrol perasan nya yang meletup- letup tak karuan.
Agara mendorong pintu dengan perlahan, hingga menampil kan seorang gadis yang tengah duduk tersenyum ke arah nya.
Rasa gugup dan kalut Agara, langsung runtuh begitu saja, saat melihat senyum yang begitu manis yang terbentuk di bibir pich Raehan.
Rasa nya kebahagian nya bertambah dua kali lipat saat melihat senyum di bibir Raehan, dari senyum- senyum manis yang biasa gadis itu tunjukan.
Kepala Agara terasa kosong, dan berubah menjadi bodoh, tubuh nya terasa meleleh menjadi air saat ini.
Bahkan bibir nya tidak mampu untuk mengata kan apa pun.
Kata- kata yang sudah ia siap kan sejak tadi, hilang begitu saja terbawa angin. Yang tertinggal adalah tatapan sendu penuh cinta.
Bahkan tubuh Agara mematung di tempat dengan netra menatap lurus pada Raehan.
Raehan meremas tangan nya satu sama lain nya. Berusaha untuk menetralisir rasa gugup yang sudah terasa mencapai puncak.
Apa lagi kini, Agara sudah berdiri di tak jauh di hadapan nya. Dengan beberapa kantong di tangan nya.
Yang langsung bisa Raehan tebak jika itu adalah bakso meledak.
Insident yang membuat tekad nya semakin bulat untuk mengejar Agara hingga titik darah penghabisan nya.
Bahkan kini ia masih tak percaya , jika perjuangan nya berhasil. Dan Agara sanggup untuk menjadi kan diri nya tempat untuk segala nya.
Meski irama jantung nya masih berdetak dengan cepat, Raehan memaksa kan tubuh nya untuk bangkit dan mendekat ke arah Agara yang masih mematung di tempat.
Suasana canggung yang mencekik ini harus segera ia cair kan, sebelum membuat dada nya sesak dan hidung nya mimisan.
Dan hal itu akan terjadi jika ia bisa menetralisir rasa di dalam dada nya.
"Kak Aga...!!" Panggil Raehan dengan sedikit canggung.
Namun tidak ada respon dari Agara yang masih setia mematung, dengan pikiran yang entah sudah berada di mana.
"Kak Aga...!!" Panggil Raehan dengan nada suara yang lebih tinggi, namun lagi- lagi tidak mampu membuat pikiran Agara buyar.
"Kak Aga...!!!" Teriak Raehan kini dengan tangan menggoyang kan bahu Agara dengan cukup keras.
"Hah.?" Agara terhenyak saat merasakan tubuh nya bergoyang.
"Maaf, aku hanya gugup..." Cicit Agara jujur, yang membuat nya menggigit bibir bawah nya, lalu berjalan melewati Raehan menuju meja kaca yang tak jauh dari mereka.
Meletak kan makanan yang di beli nya, dan menata nya di atas meja.
__ADS_1
Wangi aroma bakso meledak, langsung menguar menggelitik manja indra penciuman Raehan.
Kryuuuuukkkk...
Agara menoleh cepat ke belakang, saat menyadari suara aneh yang berasal dari perut Raehan.
Wajah Raehan langsung memerah sempurna, bak kepiting rebus yang di rebus puluhan tahun.
Perut nya benar- benar tidak tahu malu.
Di saat kondisi dengan suasana canggung, cacing- cacing laknat dalam perut nya masih bisa meraung kelaparan.
Sangat memalu kan, pekik Raehan yang langsung melebar kan bibir nya hingga menampil kan cengiran kuda.
"Hehe... Aku sangat lapar. Bau bakso meledak yang kak Aga bawa benar- benar menggangu perut ku..." Seru Raehan memecah kan suasana canggung yang benar- benar mampu untuk membunuh nya.
Dengan sikap kekanak- kanakan Raehan langsung duduk di sofa dan menarik satu mangkok bakso di hadapan nya.
Hanya ini yang bisa ia lakukan, sebelum wajah nya benar- benar terbakar karna malu.
...----------------...
...****************...
Holla...
Gaes author benar- benar butuh suport sistem dari kalian...
Ayo donk dukung othor dengan kasi vote or gift dan juga like serta koment...
Tega kah kalian pada author yang imut ini๐๐ญ
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???
__ADS_1