
...288💛...
Sinar bulan mulai beranjak naik ke atas, menyembul indah di balik awan-awan putih yang berjejer. Bintik-bintik bintang berjauhan saling berkedip juga turut menghiasi langit malam itu.
Semilir angin sejuk, terasa seperti tiupan yang memanjakan kulit. Raehan menatap dirinya dengan datar pada cermin di depannya. Tubuhnya di balut, dengan gaun dress hitam selutut dengan taburan manik-manik yang begitu indah. Hingga terlihat berkerlap-kerlip di terpa cahaya lampu.
Raehan mengelus kalung berlian yang terpasang dengan indah di lehernya. Kalung dengan mainan bunga yang di berikan oleh Nyonya Sabrina.
Malam ini, ia sangat merindukan Agara. Merindukan wajah tampan dan menenangkan pria yang masih sampai kini menetap di hatinya. Merelakan bukan perkara yang mudah, andai waktu bisa di putar kembali. Ia tidak ingin mengenal sosok Agara.
Raehan menggelengkan kepalanya cepat, ia tidak boleh lagi memikirkan Agara. Ia harus kuat, dan tidak boleh lemah seperti ini.
"Tidak, ini adalah keputusanku. Sedih bukan gayaku, happy." Raehan tersenyum lebar, bahkan gigi-giginya sampai terlihat. Mengubah mimik wajahnya menjadi mode ceria.
.
Sementara di rumah Dion, Dion sedang sibuk mencocokkan beberapa baju di tubuhnya. Sudah satu jam ia melakukan hal itu, tapi ia benar-benar merasa semua baju yang ia punya tidak ada yang pas dan membuat dirinya terlihat mempesona.
Di sofa, terlihat Niel dan Kazuya yang menatap aksi Dion dengan mata mengantuk. Pasalnya, mereka bosan terus melihat Dion berlarian kesana-kemari.
"Dion kamu belum pake baju loh, ini udah jam delapan. Kamu mau gara-gara pilih baju kamu ngak jadi makan malam dengan Raehan!" seru Kazuya yang sudah sangat jengah.
Dion menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku bingung harus pakai yang mana, aku ingin terlihat tampan dan sempurna di depan Raehan. Raehan suka melihat pria tampan, jadi aku tidak bisa asal memakai baju." Dion memasang kemeja berwarna putih, memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Detik berikutnya ia melepas kembali kemeja tersebut dan melemparnya asal.
"Ion, kamu udah tampan kok meski pake baju gembel," cicit Niel berjalan mendekat ke arah Dion, dan meraih baju kaos serta luaran berwarna hitam.
"Ck, Niel lebih baik kamu bantu aku. Dari pada ngeledikin. Sekali-kali buatlah dirimu berguna," Kesal Dion sambil melepaskan baju yang baru saja di coba.
"Ini, pakai saja yang ini. Kamu pasti terlihat mempesona." Niel menyerahkan pakaian yang ia pilihkan. Dion meraih pakaian tersebut dan mulai memakainya.
Ia memainkan tubuhnya di depan cermin, tapi menurutnya penampilannya ini kurang sempurna.
"Aku rasa, style ini kurang bagus." Dion kembali melepaskan baju yang di sarankan Niel dari tubuhnya.
Niel mencebikkan bibirnya kesal, pria yang jatuh cinta benar-benar ribet. Tinggal pakai baju apa saja, apa susahnya. Tapi Dion malah sampai mengeluarkan semua isi lemarinya, dan mencoba semua pakaiannya hanya untuk terlihat sempurna dan tampan.
Kazuya bangkit dari duduknya, lalu meraih sebuah hody tanpa lengan dan manset lengan pendek berwarna putih.
"Pakai ini saja Ion, Raehan suka melihat pria manis!" seru Kazuya menyodorkan pakaian yang ia pilihkan. Dion meraih pakaian yang di berikan Kazuya, dan segera memakainya.
__ADS_1
Dion tersenyum puas, saat melihat tampilannya yang menurutnya hampir sempurna. Ternyata pilihan Kazuya tidak buruk, pikirnya dengan mengambil jam mewah berwarna hitam.
"Waww, Kazuya kamu memecahkan masalahku," puji Dion dengan merapikan anak rambutnya.
"Bagusan juga pilihanku," seloroh Niel memutar ke dua bola matanya ke atas.
"Pilihanmu, malah membuatku semakin jelek," sarkas Dion.
"Cih, menyebalkan."
Kazuya terkekeh melihat pertengkaran kecil antara Dion dan Niel.
"Tapi menurutku, apapun yang kamu pakai cocok dengan proporsal tubuhmu Ion," sela Kazuya kembali duduk di tempat.
"Tentu saja, karna dasarnya aku memang tampan," balas Dion dengan percaya diri, yang langsung membuat Niel mual seketika. Kazuya menahan tawanya, melihat tingkah Niel.
"Ahh, meladeni kalian sama sekali tidak penting. Tolong rapikan kamarku ya, aku harus pergi sekarang." Dion langsung meraih kunci mobilnya dan segera berlari keluar meninggalkan Kazuya dan Niel dengan wajah kesal masing-masing.
Bagaimana mereka tidak kesal, Siapa yang membuat berantakan, malah siapa yang disuruh merapikan. Benar-benar biadap, pikir keduanya yang sama-sama mengumpat dalam hati.
...----------------...
Dion merasa sedikit gugup, keringat mulai keluar dari telapak tangannya. Malam ini ia akan berkencan dengan Raehan. Hal yang selalu ia impikan sejak lama.
Dion memencet bel rumah, menghembuskan nafas pelan, mengurangi kegugupan yang ia rasakan.
Dari balik pintu, Nyonya Marissa tersenyum melihat jika yang datang adalah Dion.
"Malam tante," ucap Dion yang langsung menarik tangan Nyonya Marissa dan menciumnya.
"Malam nak Dion, masuk dulu ya. Tante panggilin Raehan dulu." Nyonya Marissa membuka pintu selebar-lebarnya, dan mempersilahkan Dion untuk menunggu di dalam.
Terlihat Lion sedang duduk di sofa sambil bermain game online, ia sama sekali tidak melirik ke arah Dion yang bahkan kini duduk di sampingnya.
"Kalau pulang, bungkusin makanan ya," celetuk Lion yang membuat Dion tersenyum.
"Males," balas Dion dengan datar.
"Ya udah, jangan harap kak Rae bakal pergi malam ini---"
"Kak Dion!!" Belum sempat Lion menyelesaikan kalimat ancamannya, Raehan sudah keluar dan berdiri di hadapan mereka sambil tersenyum.
__ADS_1
Untuk sebentar, Dion terpana dengan penampilan Raehan malam ini, benar-benar sangat cantik dan manis.
Kulit putih bersih Raehan, terlihat kontras dengan warna gaun hitam yang di kenakan. Lalu polesan make-up tipis dan natural menambah kecantikan gadis yang sedang berdiri di hadapannya.
Lion yang melihat sikap Dion, mendecih sebal. Padahal menurutnya penampilan Raehan biasa-biasa saja, tapi Dion malah menatapnya dengan pandangan memuja.
"Kak Rae, malam ini katanya mau hujan. Yakin mau keluar malam-malam?" cicit Lion memulai aksinya. Ia mengancam bukan sekedar mengancam.
Raehan mengerutkan keningnya, begitu pula dengan Dion.
"Kalau mau turun hujan, rasanya lebih baik kita undur rencana makan malam. Bagaimana kak?"
Dion terbelalak bukan main, mendengar pertanyaan Raehan. Ia menatap ke arah Lion yang mengedipkan satu matanya nakal.
"Bocah ini benar-benar pengacau," umpat Dion kesal karna ulah Lion.
"Tidak kok Rae, rencana makan malam kita tidak bisa di undur, Kamu tidak bisa mengingkari janjimu." Dion meraih tangan Raehan.
"Tapi kak, kakak bisa sakit nanti jika kena gerimis," Lion mencoba menahan sang kakak.
Dion langsung melayangkan tatapan membunuh pada Lion, tapi Lion malah terkekeh mengejek.
"Lion kamu bisa pesan makanan apapun yang kamu inginkan, kirim tagihannya padaku," ujar Dion pasrah. Lion pun tersenyum penuh kemenangan.
"Pergilah kak, sepertinya artikel cuaca yang ku baca malam ini hanya hoax!" seru Lion kini menyuruh Raehan untuk pergi.
Raehan menatap bingung pada adiknya, baru tadi Lion menghalanginya untuk pergi, dan sekarang dia malah menyuruhnya untuk pergi. Aneh bukan?
Lion segera mendorong tubuh Raehan keluar dari rumah, saat melihat Raehan kebingungan.
"Ck, dasar anak itu. Aneh sekali," gumam Raehan saat kini dirinya dan Dion sudah berada di luar rumah.
"Sudahlah, ayo!" ajak Dion lalu meraih tangan Raehan dan menggengamnya dengan erat.
...----------------...
...****************...
cinta Dion mau kencan, otor ngak di ajak nih?😮💨
Oke jangan lupa like, koment, vote, anda gift
__ADS_1