
...338...
Wajah Raehan terlihat sayu dan lemas. Ia menatap kosong dan datar ke arah depan. Sementara di kedua bahunya sudah menempel kepala Dion dan Agara yang sudah terlelap sejak dua jam yang lalu.
Kedua pria yang mengapit dirinya benar-benar sangat merepotkan. Tidak ada waktu untuk tidak bertengkar dan melayangkan perdebatan serta saling menatap dengan penuh kebencian. Raehan yang seharusnya mereka urus dan manjakan, malah menjadi wasit untuk melerai keduanya bertengkar. Malah, yang lebih parahnya, di sini Raehan yang mengurus dua pria remaja ini yang selalu saja meminta dirinya ini dan itu.
Niat hati ingin menikmati dilayani oleh dua pria tampan dan menyegarkan mata, malah situasi dan kondisi berbalik arah kepadanya. Raehan menoleh ke arah Agara, terlihat wajah pria tampan kekasihnya itu tidur dengan sangat pulas. Bahkan, saat Bis mengalami oleng karena menginjak batu, Agara tidak bangun ataupun terusik. Raehan menoleh ke sisi yang lain, di mana Dion tidur dengan dengkuran yang terdengar teratur. Dion juga sama nyenyaknya dengan Agara.
Raehan menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Kedua bahunya terasa berat karena menjadi bantal dua kepala pria. Namun, ia juga tidak enak hati untuk menyingkirkan kepala Dion maupun Agara.
"Untung kalian tampan ya, jadi aku ikhlas minjemin bahuku buat jadi bantal. Cobak aja kalian burik, maaf aku ngak tahu mau ngapain. Niatnya mau jadi permaisuri dengan dua orang pangeran tampan, eh malah cosplay jadi baby sister dua bayi gede," gumam Raehan mengomel sendiri.
Dari arah depan terlihat Anet berjalan mendekat ke arahnya. Sejak tadi ia melihat Anet yang terus menengok ke belakang tapi tidak berani untuk mendekat. Entah, apa alasan kakak tingkatnya itu, ia sama sekali tidak tahu.
"Rae!" panggil Anet dengan suara sepelan mungkin agar tidak membangunkan Agara dan Dion yang tidur. Ia menatap ke arah Dion dengan tidak suka, tetapi ia sembunyikan dengan mengulum senyum manis pada Raehan.
"Iya, kenapa Kak?" tanya Raehan dengan suara yang pelan juga. Ia tidak mau dua bayi besar yang sedang tidur ini malah bangun dan kembali bertengkar.
"Bahu kamu pasti pegal kan karena nopang dua kepala sekaligus," ujar Anet, seolah merasakan derita Raehan.
"Iya, Kak. Kepala mereka berat, bahuku jadi sakit tapi kalau mereka bangun kepalaku yang pusing. Mereka bertengkar terus," keluh Raehan dengan wajah tertekuk.
"Ya udah, biar aku aja yang duduk di sebelah Dion biar dia tidur di bahuku." Anet sudah sangat tidak tahan dengan rasa cemburu yang ia miliki untuk Raehan dan Dion. Sejak berangkat sampai pulang, Dion terus saja menempel pada Raehan dan tidak pernah sekalipun menatap dirinya. Ia memang lelah dengan rasa ini, tetapi hatinya juga tidak tahan akan api cemburu.
__ADS_1
Raehan menimbang perkataan Anet yang menawarkan bantuan. Ia menoleh ke arah Dion yang masih lelap dengan tidurnya. Wajah Dion terlihat sangat damai tanpa beban. Jika ia menerima tawaran Anet, pasti Dion akan bangun saat Anet memindahkan kepalanya. Tangan Dion tiba-tiba menautkan tangannya dengan tangan Raehan. Anet yang melihat hal itu meremas jahitan roknya.
Dalam tidur sekalipun, sepertinya Dion masih memikirkan Raehan. Hatinya terasa dipukul dengan sangat keras hingga hancur menjadi berkeping-keping. Raehan mendongak ke arah Anet dengan wajah tidak enak.
"Kak Anet, terimakasih tawarannya tapi sepertinya aku tidak papa jika harus menopang dua kepala sekaligus," tolak Raehan dengan halus di iringi dengan senyum manis.
Anet menarik nafas dalam dengan kekecewaan karena Raehan yang menolak tawarannya. Ia merasa Raehan sangat serakah. Gadis itu memiliki Agara tetapi dia juga tidak mau melepaskan Dion. Raehan bisa meminjamkan bahunya pada Agara kekasihnya tapi dia juga tidak membiarkan ia meminjamkan bahunya pada Dion.
Dengan amarah dan rasa cemburu yang terus menumpuk semakin besar. Anet berbalik begitu saja dan kembali ke kursinya.
Seharusnya kamu membiarkan Dion tidur di bahuku Rae. Aku tidak pernah melihat gadis yang begitu serakah sepertimu. Kamu tidak lebih dari gadis murahan yang selalu menebar pesona di setiap laki-laki. Batin Anet dengan rasa tidak suka yang muncul di hatinya.
"Mau minum? Biar hati kamu adem," tawar Niel dengan menyodorkan segelas air mineral pada Anet yang terlihat marah. Kebetulan ia duduk di barisan kursi yang sama.
"Ngak, aku ngak haus," jawab Anet dengan datar.
Anet menatap tidak suka pada Niel. Lihat, bahkan sekarang pun Niel malah membela Raehan. Tidak ada yang mengerti akan perasaanya. Semuanya hanya membela Raehan dan selalu saja Raehan. Apapun yang dilakukan gadis itu selalu benar. Gadis yang selalu menyita perhatian semua orang dan menghipnotis semua orang agar bersimpati kepadanya. Rasa tidak suka Anet terhadap Raehan semakin membesar, menciptakan benih-benih kebencian yang mulai tumbuh.
"Aku cuma nawarin dia bantuan aja tapi dia kayaknya serakah banget. Bahunya udah pegal tapi tetep aja mau menopang dua kepala sekaligus," cibir Anet dengan satu alis terangkat.
Niel mengerutkan kedua alisnya. Ia tidak salah dengarkan dengan apa yang dikatakan oleh Anet?
"Serakah? Maksud kamu apa?" cecar Niel kini dengan mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Anet.
__ADS_1
"Raehan kan udah punya Agara tapi dia juga mau sama Dion. Seharusnya dia itu berhenti deket-deket sama Dion, bukan terus nempelin Dion terus. Udah kayak kupu-kupu malam aja yang nempel sana nempel sini."
Niel terbelalak mendengar ucapan Anet. Ia tidak menyangka Anet akan berpikiran sekotor itu tentang Raehan. Di sini Raehan tidak salah, Dion yang selalu mengejar Raehan dan menempel terus pada gadis itu, dan Anet tahu semua itu. Akan tetapi, tanpa dosa Anet menyebut Raehan kupu-kupu malam.
"Net, kamu kesambet apaan sih? kamu kok ngomongnya jadi ngelantur," ucap Niel dengan tatapan tidak percaya.
"Ngelantur gimana sih, Niel. Kamu aja yang belum nyadar. Oh ya, aku lupa kamu juga kena hipnotis Raehan."
"Hipnotis Raehan apaan cobak. Orang aku sadar dan waras. Aku ngak ngerti aja kok kamu ngejelekin Raehan gitu banget. Kita kan udah tahu faktanya, jika di sini Dion yang ngejar-ngejar Raehan bukan sebaliknya."
"Bela terus aja Raehan, dia kan emang selalu benar. Seharusnya dia itu ngak selamat dari jurang, coba aja dia itu jatuh dan mati."
"Net, tutup mulutmu. Makin lama kamu makin ngak waras tahu ngak. Sekali lagi kamu doain Raehan macem-macem pertemanan kita putus. Aku ngak mau punya temen ngak ada hati kayak kamu. Seharusnya yang nyadar di sini itu kamu, bukan Raehan." Niel membuang muka keluar jendela. Hatinya panas mendengar perkataan Anet tentang Raehan. Ia dan Raehan memang tidak terlalu dekat tapi ia tahu Raehan bukan gadis yang pantas di cela. Raehan gadis yang sangat manis dan lucu, dan ia sudah menganggap gadis mungil itu sebagai adiknya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
vote
__ADS_1
koment
tips