Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Pelukan hangat


__ADS_3

...178โฃ...


"Mau apa sih berta---" Ucapan Raehan langsung terhenti dengan ke dua mata membola lebar, melihat siapa yang kini berdiri di depan pintu kontrakan nya.


Seorang pria dengan ke dua mata merah menatap nya sedih, seolah bola mata merah itu begitu tertekan dengan derita.


Dan pria yang kini berdiri di hadapan Raehan adalah Agara.


Pria yang sudah membuat nya berpikir sampai setengah mati dengan kebingungan yang tak ingin menghilang.


Tapi untuk apa Agara datang malam - malam seperti ini ke rumah nya.?


Seperti nya lagi- lagi ia berhalusinasi karna berpikir terlalu keras.


Bahkan dalam mimpi sekali pun, perasaan bingung itu masih menghantui nya.


Agara menatap gadis kecil dengan wajah melongo dengan ke dua mata melebar, hati nya berdesir hangat saat melihat wajah Raehan.


Srak...


Tanpa aba- aba. agara langsung memeluk tubuh mungil Raehan, di mana wajah nya ia tenggelam kan dalan ceruk leher Raehan.


Menghirup dalam aroma tubuh gadis mungil itu dalam.


Belum usai Raehan mencerna apa yang terjadi, tubuh nya sudah di peluk dengan sangat erat oleh Agara.


Raehan memejam kan ke dua mata nya, saat merasa kan hembusan nafas dingin Agara yang begitu menggelitik di area leher nya, yang kini membuat tubuh nya meremang.


"Kenapa kamu tidak menjawab telpon ku?" Tanya Agara dengan suara merenggek persis seperti anak kecil yang sedang merenggek meminta permen.


Agara kembali mengerat kan pelukan nya, Ia rasa nya tidak ingin melepas kan tubuh Raehan yang benar- benar mampu untuk membuat diri nya tenang.


Bahkan pikiran nya yang berkecamuk karna ulah ayah durhaka nya, mulai jernih dan rileks saat ia memeluk Raehan.


Tidak salah lagi, Raehan adalah obat penawar untuk trauma nya.


Raehan mengerjap kan mata nya beberapa kali, mencoba menyadar kan diri nya yang masih diam mengambang karna bangun dari tidur dengan terpaksa.


Mengumpul kan sisa- sisa nyawa nya yang masih melayang entah kemana.


Ternyata ini bukan mimpi, Agara benar- benar ada di hadapan nya bahkan kini memeluk nya dengan erat.


Bahkan nafas nya terasa sedikit sesak karna Agara mengerat kan pelukan nya.


Raehan mencubit paha nya sendiri, untuk membukti kan jika ini adalah nyata.


"Aauuuu ternyata beneran sakit..." Ringgis Raehan membatin, menggigit bibir bawah nya menahan rasa sakit karna cubitan tangan nya sendiri.


Tapi ia sungguh tidak mengerti kenapa sang pujaan hati datang ke kontrakan kecil nya malam- malam begini.


Tapi bisa Raehan rasa kan jika kini, Agara tidak baik- baik saja.


"Kak ---"


"Kata kan kenapa tidak menjawab telpon ku?" Sosor Agara cepat, memotong ucapan Raehan. Ia tidak ingin mendengar apa pun selain penjelasan dari gadis nya.

__ADS_1


Gadis nya?


Iya Raehan adalah gadis milik nya, dan tidak boleh ada yang mengambil nya. Batin Agara yang mulai egois dengan Raehan.


Raehan mengerjit, mendengar pertanyaan Agara.


Ternyata Agara kemari karna ia tidak mengangkat telpon pria ini.


Tapi panggilan telpon Agara tidak sampai di ponsel nya.


Astaga ini pasti karna diri nya sedang melakukan panggilan telpon dengan ibu nya.


Yang kemungkinan Agara menelpon di saat yang bermasaan nya.


"Hmmm maaf tapi kak Aga seperti nya menelpon di waktu yang sama dengan Momsy..." Jawab Raehan berharap apa yang di kata kan nya bisa menang kan Agara.


Karna sekarang jantung nya benar- benar tidak sehat jika terlalu lama dalam pelukan Agara.


Ia sangat bingung kenapa jantung sialan ini tidak bisa bekerja sama dan berdetak seperti biasa, saat di dekat Agara jantung nya terus melompat tanpa henti, mungkin karna saking bahagia atau gugup.


Ia pun tak tahu.


"Momsy?" Cicit Agara yang masih ingin berlama- lama untuk memeluk Raehan.


"Iya... Momsy selalu menelpon ku setiap malam..."


"Hmmmm..." Dehem Agara sebagai jawaban mengerti, namun ia tidak kunjung melepas kan pelukan nya.


Buliran bening, sudah menetes dan meluncur bebas di pipi Raehan.


Ia tidak bisa dalam posisi seperti ini terus, ia dan Agara sudah cukup lama berpelukan di depan pintu. Entah apa yang akan di kata kan orang jika orang lain melihat nya.


"Kak Aga...!" Panggil Raehan dengan mengusap punggung Agara lembut.


"Hmmmm" Dehem Agara yang terkesan terdengar tidak ingin di ganggu.


"Boleh kah kak Aga melepas pelukan nya.. Aku kesulitan bernafas..." Ringgis Raehan dengan menggigit bibir bawah nya.


"Tidak mau..." Tolak Agara dengan suara manja.


Raehan memejam kan mata nya erat, seperti nya Agara dalam mode manja seperti anak kecil sekarang.


Raehan dapat mengerti itu, karna selama ini Agara tidak pernah merasa kan di manja oleh siapa pun termasuk ke dua orang tua nya yang tega meninggal kan Agara di saat usia yang begitu kecil, dan sangat membutuh kan kasih sayang.


"Tapi tidak enak jika di lihat sama orang.. Ini kita di pintu loh..." Bujuk Raehan agar Agara melepas pelukan nya.


Bukan melepas kan Agara makin memperdalam pelukan nya.


"Aku mohon sebentar saja... Aku benar- benar tenang saat memeluk mu... " Tolak Agara lagi, dengan mendorong tubuh Raehan masuk ke dalam dan menutup pintu pintu dengan kaki panjang nya.


Seolah Agara mengerti dan menemukan jalan keluar dari perkataan Raehan.


Tapi sungguh ia membutuh kan sebuah pelukan sekarang.


Raehan menghela nafas nya pasrah, saat Agara mendorong tubuh nya masuk ke dalam kontrakan dan menutup pintu dengan mudah mengguna kan kaki nya.

__ADS_1


"Kau tahu pria durhaka itu menelpon ku lagi..." Agara membuka suara nya, seperti nya akan lebih baik jika ia berbagi cerita dengan Raehan.


Entah, tapi rasa nya ia harus terbuka dengan gadis yang sudah terpaku dengan kuat di hati nya.


"Pria durhaka?" Lirih Raehan tidak mengerti.


"Papa ku..." Agara menghela nafas nya berat, menghirup kembali aroma tubuh Raehan yang benar- benar candu bagi nya. Seolah menjadi asupan kekuatan tersendiri untuk nya.


"Dia menjual ku... Dia menjual ku demi harta.. Dia sama sekali tidak pernah menganggap ku sebagai putra nya.. Dia hanya haus dengan harta, dan sekarang dia ingin menukar ku dengan uang..." Ucap Agara benci, saat kepala nya mengingat sang ayah durhaka yang sekali lagi ingin menghancur kan hidup nya.


"Aku tidak mengerti kak Aga.. Tapi kak Aga tenang dulu... Cerita kan semua nya pada ku.. Meski pun aku belum tentu bisa membantu mu tapi aku janji aku akan berusaha dan akan menjadi pendengar yang baik untuk masalah mu..."


Agara akhir nya mengurai pelukan nya, menatap wajah imut yang selalu membuat diri nya terpesona. Meski tidak terlalu cantik namun ada ketenangan dalan wajah mungil itu.


Kata- kata menenang kan Raehan membuat diri nya benar- benar merasa bersyukur atas kehadiran Raehan.


Tapi dalam waktu yang bersamaan, rasa bersalah juga menyeruak ke dalam hati nya, karna dulu ia sudah memperlakukan gadis sebaik Raehan dengan kasar.


Andai ia tidak sebodoh itu, dengan menyangkal perasaan nya. Mungkin semua nya akan berbeda.


"Kata kan?" Raehan menyakin kan Agara.


"Papa memaksa ku untuk bertunangan dengan Lessia. Dan akan di laksana kan dua hari lagi."


Blar....


Duar...


Jleb...


...----------------...


...****************...


Pengen di peluk juga ama babang Agara๐Ÿ˜


Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Terus pantangin cerita nya ya...


Like


koment.


Vote


gift.


Rak favorit.


Yuk dukung terus karya ini....!!!


kalo ngak koment atau like atau kasi gift..


Kalian benar- benar kejam ama thor๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ???

__ADS_1


__ADS_2