Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Berdebat


__ADS_3

...41...


Pintu terbuka dengan perlahan, degupan jantung Raehan semakin mendayu keras.


Ia sangat gugup, dengan tubuh gemetaran mengeluarkan keringat dingin.


Tampak di balik pintu, terlihat Dion, Niel dan juga pria dengan garis wajah yang tegas. Tengah menatap Raehan tajam.


Anet mengandeng tangan mungil Raehan , menuntun gadis tersebut yang menunduk kan wajah nya dalam.


Dapat Anet rasakan, jika tangan Raehan begitu dingin dan berkeringat.


"Duduk..." Ujar Pak Tora yang langsung membuat Raehan tersentak , hingga mengangkat wajah nya.


Ke dua mata berkaca- kaca Raehan, langsung menumbruk tatapan pak Tora, yang seakan siap mencincang tubuh kecil nya.


Raehan mengepal kan tangan nya kuat, hingga buku- buku tangan nya memutih sempurna.


Ini bukan saat nya terlihat takut, tapi ini saat nya menyampai kan kebenaran. Agar semua orang tidak penasaran di balik insident Mika.


Melihat kegugupan Raehan, Dion menghela nafas nya ringan.


Ia merasakan akan kegugupan gadis kecil ini, hingga ia berinisiatif untuk bicara.


"Kemari lah.. Duduk lah di samping ku..." Sela Dion menepuk sofa di samping nya, yang langsung membuat Anet mengerucut kan bibir nya ke depan.


Dengan perlahan, Raehan melangkah mendekat ke arah Dion, lalu duduk di samping nya.


Dion meraih tangan kecil Raehan, menggenggam nya dengan erat, seolah memberikan kekuatan untuk mengurangi rasa gugup Raehan.


Raehan menatap sekilas ke arah Dion, pandangan nya langsung di sapu dengan sebuah senyuman, yang langsung membuat kegugupan nya hilang.


Senyum yang begitu tulus dari pria yang sangat menyebalkan.


Namun, setidak nya senyum itu bisa mengurangi rasa gugup nya.


"Ceritakan semua apa yang terjadi saat insident itu..?" Ujar Pak Tora tanpa berbasa- basi.


Glek...


Raehan menelan saliva nya paksa. Kilasan- kilasan kejadian yang menimpa Mika bergulir dengan cepat di kepala nya.


"Cerita kan semua nya... Dan semua nya akan berakhir..." Batin Raehan menguat kan diri nya.


"Mika melenyap kan diri nya karna patah hati..." Raehan diam sejenak, menghirup oksigen untuk tersalur ke dalam paru- paru nya sebelum bibir nya kembali berbicara.

__ADS_1


Sementara Pak Tora, menunjukkan ekspresi semakin penasaran akan cerita gadis ini.


"Sebelum kejadian itu, saya bertemu dengan kak Dion untuk membicarakan masalah rapat Osis... Bapak bisa memastikan kebenaran nya dengan Kak Dion...:


Pak Tora melirik sekilas ke arah Dion, yang lngsung mengangguk kan kepala nya. Menunjuk kam jika apa yang di katakan Raehan memang benar.


"Saat saya ingin kembali ke kelas... Tiba- tiba saja Miya teman sekelas saya, menarik tubuh saya masuk ke dalam Toilet...


Sebelum nya saya berpikir Miya melakukan itu, karna mengira suara tangis Mika adalah suara hantu.


Tapi semua nya tidak seperti dugaan saya. Setelah mendengar tangisan Mika serta pembicaraan nya. Saya mendengar jika ia ingin mengakhiri hidup nya karna cinta nya yang tidak terbalas.


Saat itu tidak terpikir kan oleh saya, untuk memanggil petugas atau pun pihak dewan guru, karna semua nya begitu cepat terjadi..


Dengan inisiatif saya sendiri, saya terpaksa membuka pintu dengan paksa, untuk menghentikan Mika.


Tapi seperti nya salah kalah cepat, saat pintu terbuka Mika langsung menyayat pergelangan tangan nya dan jatuh tepat di depan saya...


Setelah itu saya langsung membawa Mika keluar dari toilet untuk segera di tangani..."


Jelas Raehan menutup cerita nya, di iringi dengan helaan nafas lega.


Dada nya terasa plong saat menceritakan semua nya. Dada nya tidak lagi merasakan beban berat akan kejadian itu.


Tanpa di sangka, Pak Tora langsung menggebrak meja dengan keras.


Membuat seluruh orang di dalam ruangan itu terlonjak kaget akan respon pak Tora.


"Siapa yang memberi mu inisiatif untuk melakukan hal itu.. Seharus nya jika ada masalah seperti itu, kau langsung melapor kan nya pada dewan Guru... Dengan inisiatif mu itu bisa saja, seorang siswi meregang nyawa.!!!" Bentak pak Tora dengan marah, setelah mendengar cerita dari Raehan.


Gemuruh emosi dan rasa tidak terima berkumpul menjadi satu dalam diri Raehan.


Apa ini yang ia dapat setelah menceritakan semua nya?


Apa salah nya di sini?


Apa salah ia membantu seorang gadis yang akan kehilangan nyawa nya?


Lalu kenapa ia yang di salah kan atas semua ini?


Jerit nya dalam hati, dengan pertanyaan - pertanyaan yang terngiang- ngiang di otak nya.


"Pak aku sangat menghormati mu... Aku tidak menyangka kau akan memberikan respon seperti ini..." Cecar Raehan dengan nafas memburu.


"Respon apa yang akan di berikan seorang Guru, jika menyangkut nyawa anak didik nya..."

__ADS_1


"Bapak saat itu tidak berada di posisi ku... Bapak saat itu tidak merasa kebingungan akan hal apa yang akan bapak lakukan... Tapi dengan mudah nya bapak menyalah kan diri ku karna tidak melapor ke dewan guru?


Mungkin jika bapak berada di posisi ku itu, bapak akan segera melapor kan kejadian itu pada pihak dewan guru.. Tapi akibat nya siswi tersebut akan kehilangan nyawa nya, karna terlambat mendapat kan pertolongan.


Coba bapak pikir kan, jika terlambat sedikit saja, maka Mika sudah menjadi jenazah...


Saya hanya mengikuti inisiatif saya yang saya anggap benar... Tapi yang seharus nya bapak koreksi di sini adalah sistem keamanan sekolah ini.


Bapak seharus nya memikir kan bagaiamana cara untuk mengantisipasi masalah seperti ini, bukan malah menyalah kan anak didik yang lain. Yang hanya berniat menolong orang lain."


Pak Tora langsung bungkam, seolah setiap perkataan Raehan menyobek harga diri nya.


Apa yang bisa ia katakan, setelah gadis kecil di depan nya. Merentetkan semua kelalaian nya.


Dion tersenyum tipis, rubah betina nya bukan lah gadis yang mudah di tindas. Ia menjelaskan semua nya dengan begitu apik. Tanpa memperlihat kan kekesalan nya.


Sementara Niel membuka mulut nya membentuk huruf O. Ia sangat kagum dengan cara Raehan membungkam pak Tora.


"Bawa dia keluar... Dia akan menerima Skors selama tiga hari ke depan. Sampai masalah Mika selesai..." Pangkas Pak Tora mengalihkan pandangan nya dari Raehan, yang menatap nya pias.


"Skors... Aku di Skors.. " Batin Raehan tidak menyangka untuk pertama kali nya di Skors oleh sekolah.


Dion langsung mendorong tubuh Raehan untuk keluar dari ruangan pak Tora.


Sebelum gadis pendek ini membantah perintah pak Tora, yang akan membuat perdebatan semakin panjang.


"Tidak apa- apa ini memang prosedur sekolah... Anggap saja kau mendapat jackpot liburan..." Hibur Dion menampak kan deretan gigi nya.


Sedih, kecewa dan terkejut , menjadi satu, bersarang di dalam dada Raehan.


Lagi- lagi ia sudah menciptakan masalah di sekolah baru nya.


Kesalahan lama yang tidak seharus nya ia hadapi di sekolah ini.


Prosedur macam apa ini, yang menskors anak didik nya yang tidak bersalah. Rutuk Raehan kecewa dalam hati.


...----------------...


...****************...


Sorry lagi buntu😓


tapi moga di maklumi sama kalian..


Jangan lupa like vote koment nya bia otak othor makin encer buat bikin kisah si Raehan... oke..

__ADS_1


__ADS_2