
...329...
Raehan mengambil air dengan kedua tangannya. Lalu, meminum air tersebut yang langsung membasahi kerongkongannya. Begitu pula dengan Agara yang melakukan hal yang sama.
Agara merobek ujung baju yang ia kenakan, kemudian membasahi sobekan bajunya. Lalu mengarahkannya pada luka di pipi chuby Raehan.
"Kemarilah, biar kubantu membersihkan lukamu," ujar Agara dengan menarik dagu Raehan.
"Tahan sedikit, ini pasti akan perih." Agara mengusap dengan sangat pelan luka gores yang ada di pipi Raehan dengan sobekan basah tersebut. Agara menggigit bibir bawahnya, seolah-olah menahan rasa sakit. Akan tetapi Raehan yang sedang diusap lukanya hanya fokus memandangi wajah tampan Agara.
"Kamu tidak mengerang?" tanya Agara merasa aneh. Raehan yang terluka saja tidak merasa sakit saat ia membersihkan luka gadis itu. Malah ia yang merasa kesakitan, seolah-olah ia bisa merasakan luka Raehan.
"Untuk apa aku mengerang? Ini tidak sakit," jawab Raehan dengan jujur. Yah, lukanya tidak terlalu perih karena itu hanya luka gores.
"Benarkah? Tapi ini berdarah."
"Lukanya tidak dalam, jadi tidak terlalu sakit."
"Selain imut kau juga kuat ternyata," goda Agara yang langsung membuat Raehan tersipu malu.
"Tentu saja aku tidak boleh lemah. Kata Popsy aku punya banyak musuh."
"Musuh?"
"Entahlah aku tidak tahu makna dari kata-kata Popsy." Raehan mengendikkan bahunya.
"Sudahlah, aku janji mulai saat ini aku akan menjadi tameng terdepan untuk melindungimu, Rae." Wajah Agara berubah menjadi serius. Terlihat dari ekspresi Agara jika dia tidak main-main dengan perkataannya barusan.
"Jangan memberi janji jika kamu tidak bisa menepati," sindir Raehan sambil memainkan air sungai.
"Aku serius."
Raehan menatap lekat kedua bola mata merah milik Agara, mencari sebuah dusta atau kebohongan dalam manik merah memikat itu. Namun, ia tidak menemukan apapun selain tekad yang kuat serta kejujuran.
__ADS_1
"Apa aku bisa memegang janjimu? Bagaimana jika suatu hari nanti, ada kondisi di saat kamu harus memilih antara hal yang sangat penting bagimu dengan diriku?"
"Maka aku akan memilihmu?"
"Mengorbankan hal lain yang lebih penting dari diriku?" tanya Raehan memastikan. Ia ingin tahu sampai batas mana kemampuan Agara bisa berjanji pada dirinya.
Agara meraih kedua tangan Raehan dan menggengam tangan mungil itu dengan erat. Lalu, mengecup dalam punggung tangan Raehan dengan penuh cinta dan kelembutan.
"Dalam hidup, aku tidak pernah memiliki sesuatu yang berharga. Namun, kini aku memiliki tujuan yang sangat jelas, yaitu kamu Rae. Aku bisa mengorbankan apapun demi dirimu karena kamu adalah hal yang sangat penting dalam hidupku. Manusia tidak akan hidup tanpa detak jantung, dan kamu adalah detakan jantung yang membuat aku hidup. Kamu bisa memegang perkataanku. Aku berjanji akan menjadi lebih kuat dan akan melindungi dirimu," ujar Agara mengutarakan semua rasa yang ada dalam perasaanya. Suasana hening dengan gemericik air sungai membuat moment tersebut menyentuh haru hati Raehan.
Ternyata sebesar itu perasaan Agara pada dirinya. Tidak ada lagi alasan untuk dia tidak menerima perasaan Agara yang begitu tulus dan besar. Bahkan, ia merasa cinta Agara jauh lebih besar dari perasaanya pada pria itu.
Sudut bibir Raehan terangkat dan melengkung ke atas. menciptakan senyum indah yang begitu menawan. Raehan menarik tangannya dari genggaman Agara. Lalu, mengusap lembut rahang tegas Agara.
"Bagaimana bisa kamu mencintaiku sebesar ini?" tanya Raehan dengan nada bicara yang begitu lembut.
"Seharusnya aku yang bertanya, bagaimana bisa ada gadis yang begitu langka sepertimu, Rae? Kamu berhasil membuatku hidup dalam lingkaran yang kamu ciptakan. Rasanya, aku tidak ingin keluar dari zona lingkaran itu."
Raehan lansung memeluk Agara dengan erat. Rasa marah dan benci dalam dirinya kini menghilang dan menguap begitu saja. Benteng yang ia bangun dengan sangat kokoh untuk hatinya, berhasil dihancurkan oleh Agara.
"Ha ... Ha ..., kamu sangat percaya diri." Agara mengurai pelukannya dan menatap wajah Raehan yang terlihat sangat cantik di matanya.
"Katakan, apa sekarang kamu sudah memaafkanku dan hubungan kita kembali seperti dulu lagi?" tanya Agara dengan tatapan berharap.
"Yah, aku tidak memiliki alasan untuk terus marah padamu. Kamu tahu, aku sangat tersiksa dengan semua ini," curhat Raehan dengan wajah muram.
"Jika kamu tersiksa, kenapa kamu sangat keras kepala tidak mau memaafkanku. Kau tahu, kamu sangat jahat."
"Jika aku memaafkanmu semudah itu, itu berarti itu bukan diriku."
Agara kembali tertawa mendengar jawaban Raehan yang sangat absurd dan tidak masuk akal. Akan tetapi ia bersyukur akhirnya Raehan mau memaafkan dirinya. Rasanya, ia kembali mendapatkan dunianya. Agara mengacak puncak kepala Raehan dengan gemas.
"Ayo, kita harus segera kembali ke Camp. Matahari sudah mulai tenggelam!" seru Agara bangkit dan hendak menggendong Raehan. Namun, gadis itu segera menghalangi tangan Agara.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Agara dengan kening berkerut.
"Aku punya kaki, aku akan jalan sendiri. Kak Aga tidak perlu menggendongku, aku tidak mau Kak Aga sampai kecapean karena sepertinya perjalanan masih jauh." Raehan meraih tangan Agara untuk menarik tubuhnya agar berdiri.
"Baiklah, sesuai permintaanmu, sayang." Agara meraih tangan Raehan, menggenggamnya dengan erat takut jika Raehan agar pergi lagi darinya. Sampai kapanpun, ia tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama lagi. Cukup sekali ia kehilangan Raehan, tidak untuk yang kedua kalinya.
Keduanya berjalan dengan perlahan sembari tangan mereka bertaut erat. Amarah dan ego yang tinggi yang sempat menghalangi hubungan keduanya kini sirna dan lenyap. Pohon cinta kembali tumbuh dengan subur di hati mereka. Bahkan, kini semakin besar dan tidak ingin saling melepaskan, mengklaim jika dia adalah milik satu sama lainnya.
...----------------...
Di sisi lain, Dion terlihat berjalan dengan cepat mencari Raehan. Akhirnya setelah selesai dengan tugasnya, ia bisa beristirahat dan menikmati pemandangan puncak. Namun, gadis yang ingin ia ajak untuk menghabiskan moment indah ini malah tidak tampak batang hidungnya.
Matahari bahkan sudah mulai tenggelam, tetapi Raehan tidak kunjung terlihat di area Camp. Rasa khawatir dan tidak terima membuncah di dada Dion, saat ia menyadari jika Agara juga tidak ada.
Sepertinya ia kembali kecolongan oleh pria itu. Ia yakin jika Raehan pasti bersama dengan Agara saat ini. Rasa cemburu yang begitu menyakitkan menghantam Dion. Realita sungguh sangat menyakitkan.
Dion memilih untuk duduk di atas akar pohon besar, sembari menatap pemandangan matahari tenggelam. Sinar kemilau matahari itu sungguh terlihat sangat indah dan menawan walaupun tidak bisa menjadi pelipur sakit di hatinya.
"Mencintai dia yang tidak bisa kuraih, rasanya sangat menyakitkan," gumam Dion bermonolog pada dirinya sendiri.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
__ADS_1
tips