
...353...
Agara memarkirkan motornya agak jauh dari rumah Raehan. Ia sengaja melakukan hal itu agar Tuan Levi dan juga Nyonya Marissa tidak melihat kehadirannya. Bukannya apa-apa, hanya saja ia merasa Tuan Levi masih marah dengan kejadian sebelumnya. Ia juga tidak mempermasalahkan hal itu karena itu adalah hal yang wajar. Di mana sang ayah akan mengkhawatirkan keselamatan sang putri.
Suara dengkuran halus dari balik punggungnya mengukir senyum indah di bibir Agara. Raehan pasti tertidur dengan sangat nyenyak di bahunya. Bahkan, saat mereka sampai Raehan tidak bergerak sedikitpun.
Kasihan sekali pacarku, dia sangat kelelahan. Batin Agara dengan mengecup singkat puncak kepala Raehan yang berada di bahunya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Rae, Honey bangun kita sudah sampai," ucap Agara membangunkan Raehan dengan suara lemah lembut. Tentu saja, hal itu tidak mempan karena biasanya Raehan selalu dibangunkan oleh suara bass melengking milik Nyonya Marissa setiap pagi hari.
Tidak mendapatkan respon atau tanda-tanda Raehan akan bangun. Agara mengguncang pelan kepala Raehan. Sebenarnya ia tidak tega membangunkan gadinya. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain.
Merasakan kepalanya digoyang-goyangkan membuat tidur nyenyak Raehan yang telah memasuki dunia mimpi terganggu. Dengan sedikit kesal, Raehan menggeliatkan tubuhnya dan berusaha membuka kedua matanya yang lengket.
"Kita sudah sampai," ucap Agara merasa lega karena akhirnya gadis imut itu bangun.
Raehan mengucek pelan kedua matanya. Lalu, turun dari motor dengan sedikit sempoyongan. Ia mengedarkan pandangannya ke arah rumahnya dengan lampu yang menyala. Seharian menjadi tutor Kazuya membuat ia cukup kelelahan dan sampai tidur di atas motor. Namun, biarpun begitu bahu Agara selalu nyaman untuk ditiduri.
"Aku masuk dulu, apa Kak Aga tidak mau masuk?" tanya Raehan basa-basi dengan mulut yang menguap. Jujur, di dalam hatinya ia berharap Agara menolak.
"Tidak usah, kamu sudah terlihat sangat ngantuk. Masuk dan tidurlah, aku akan pulang."
Syukurlah. Batin Raehan berteriak senang. Setelah masuk rumah ia akan segera menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk.
"Baiklah, kalau begitu aku masuk. Hati-hati di jalan, dah." Raehan melambaikan tangan singkat. Lalu segera melangkah masuk ke dalam gerbang. Namun, dengan sigap Agara meraih pergelangan tangan Raehan hingga membuat langkah gadis itu kembali terhenti.
Raehan memutar tubuhnya kembali menghadap Agara dengan menahan rasa kantuk. Ia menautkan kedua alisnya memberi isyarat, ada apa?
__ADS_1
"Kamu melupakan sesuatu, Sayang," ujar Agara dengan memasang wajah serius. Hal itu sontak membuat Raehan semakin bingung dengan kening yang berkerut. Ia meneliti tubunya, melihat tas serta benda-benda lain miliknya. Tidak ada yang tertinggal atau kurang sama sekali?
"Apa? Aku sudah membawa semuanya. Tidak ada yang tertinggal," timpal Raehan masih menelisik barang-barang miliknya.
Agara tersenyum lebar melihat Raehan yang kebingungan. Ia menangkup wajah bingung Raehan, memandang wajah mungil itu dengan sendu. Lalu, perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Raehan.
Cup!
Satu kecupan dalam mendarat di kening Raehan. Agara menarik wajahnya dan terkekeh melihat wajah Raehan yang lansung bersemu dengan merah. Terlihat sangat manis dan lucu. Ingin sekali rasanya ia membawa Raehan pulang ke apartemennya. Namun, tentu saja hal itu belum boleh dilakukan sekarang. Akan tetapi, ia pasti akan membawa Raehan bersama dengannya saat waktunya tiba.
Rasa kantuk yang mendera Raehan seketika menghilang, tergantikan dengan rasa tersipu malu. Di mana wajahnya memanas dan memerah. Raehan menunduk menyembunyikan semburat merona yang kini menghiasi pipi putih miliknya.
"Itu yang ketinggalan. Sekarang masuk dan tidurlah gadis manis." Agara mengacak puncak kepala Raehan dengan gemas. Di mana hatinya terasa berbunga-bunga.
Raehan yang masih merasa malu, segera berlari masuk ke dalam rumah tanpa merespon perkataan Agara barusan. Bibirnya menjadi bungkam dengan lidah yang terasa kelu. Sementara di dada, jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Seperti sedang melakukan pesta besar-besaran dengan alunan musik yang berdendang. Beginilah setiap kali Agara bersikap manis padanya. Ia akan meleleh menjadi cairan. Seperti es batu yang mencair terkena sinar matahari.
"Rae, kenapa berdiri di situ?" tanya Tuan Levi yang datang dari arah dapur dengan tangan membawa sebotol air minum. Bisa Raehan tebak jika sang ayah mengambil air minum dari dapur.
"Popsy belum mengantuk. Akhirnya kamu pulang, Rae. Rumah ini sangat sepi tanpa kamu. Sekarang ceritakan pada Popsy bagaimana acara di puncak! Pasti sangat seru bukan?" Tuan Levi duduk di sofa. Lalu, menepuk-nepuk sofa di sebelahnya agar Raehan duduk.
"Sangat seru, Pop. Di sana sangat indah. Ada kebun teh yang terhampar dengan begitu luas." Raehan menceritakan hal itu dengan wajah semringah, kemudian menjatuhkan bokongnya di samping sang ayah.
"Di sana, tidak ada yang mencoba untuk menyakitimu kan?"
Glek
Raehan menelan ludahnya dengan paksa mendengar pertanyaan Tuan Levi. Seakan-akan sang ayah tahu jika di sana ia sedikit mengalami kesulitan. Namun, ia tidak mungkin menceritakan hal itu dan membuat sang ayah cemas serta khawatir.
__ADS_1
Raehan mengontrol kegugupan dalam dirinya, menetralisir mimik wajahnya. Serta kedua tangannya agar tidak meremas satu sama lain. Jika ia melakukan hal itu, sang ayah dengan mudah akan mengetahui jika ia berbohong.
Tuan Levi mencermati Raehan, mencari dan memastikan sang putri tidak menyembunyikan apapun. Ia memperhatikan gerak-gerik Raehan dengan teliti.
"Tidak ada Pop, semuanya baik-baik saja. Hoaamm, sepertinya aku sangat lelah dengan perjalanan ini. Bolehkah aku tidur sekarang?" pinta Raehan dengan bersandiwara menguap layaknya orang mengantuk berat.
"Istirahatlah," jawab Tuan Levi, setelah yakin Raehan tidak menyembunyikan apapun darinya. Ia bisa melihat hal itu dari gerak-gerik Raehan yang tenang.
Raehan mengecup singkat pipi Tuan Levi. Lalu, segera melesat berlari menuju kamarnya. Ia menutup dan mengunci pintu dengan rapat. Rasa bersalah seketika menyeruak ke dalam hatinya karena sudah berbohong pada sang ayah. Namun, jika ia jujur semuanya akan menjadi rumit.
Raehan meletakkan ranselnya di atas kursi. Lalu, melempar tubuhnya yang mungil ke arah tempat tidur dan mendarat dengan sempurna. Rasa empuk dan juga hangat dari ranjang tidur memanjakan tubuh Raehan yang letih.
"Maaf, Popsy, Momsy. Kalian tidak perlu tahu masalah ini," gumam Raehan. Ia membalikkan tubuhnya hingga menatap ke arah langit-langit kamar. Kedua mata Raehan menerjang jauh mengingat kejadian yang menimpa dirinya kemarin. Memang sangat mengerikan tapi beruntung ia selamat.
Perlahan tapi pasti, kedua mata Raehan mulai tertutup dengan rapat. Peri mimpi mulai datang dan membawa gadis mungil itu untuk menjelajahi dunia mimpi yang indah.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
__ADS_1
vote
tips