Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Aku tidak sanggup jauh dari mu.


__ADS_3

...306...


Raehan mengeluarkan selimut serta bantal dari dalam lemari, lalu melemparkannya pada Agara yang masih santai telentang di atas kasur kesayangan miliknya.


Ia tidak pernah membayangkan jika ia akan sekamar dengan Agara. Bahkan dalam mimpi sekalipun ia tidak pernah menduga jika malam ini Agara memaksa untuk menginap di kamarnya.


Mengusir Agara sama saja dengan mengusir bongkahan batu yang sangat berat, tidak akan bisa. Apalagi malam sudah semakin larut. Semua orang rumah pasti sudah tertidur, jika ia membuat kegaduhan pasti yang lain akan bangun dan ke dua orang tuanya akan tahu ada pria di dalam kamarnya. Entah, mungkin jika sampai ke dua orang tuanya tahu, mungkin ia sekarang sudah tergantung di pohon cabe dengan kaki di atas.


"Turun dari kasurku, aku ingin tidur!" sentak Raehan dengan nada sinis.


"Apa?" Ulang Agara yang tidak yakin dengan perintah Raehan.


"Turun dari kasurku. Apa sekarang kamu menjadi tuli?" Raehan memutar ke dua bola matanya malas.


Agara bangkit dan duduk, sambil memeluk selimut dan juga bantal yang tadi di lempar oleh Raehan.


"Aku tidak mau, aku mau tidur di kasur ini," timpal Agara dengan smirk liciknya.


Raehan mengepalkan tangannya. Agara benar-benar sangat menyebalkan. Untung saja wajah pria itu tampan. Jika tidak sudah ia dorong keluar pria itu dari jendela kamarnya.


"Terus aku tidur dimana?" sungut Raehan dengan tatapan kesal.


Agara menatap intens Raehan. Wajah gadis yang kini berdiri di hadapannya sangat lucu dan imut. Sungguh sangat menggemaskan.


"Ya sudah tidur saja di ranjang bersamaku," ucap Agara tanpa sensor, yang langsung membuat otak kecil Raehan mulai traveling melewati batas kewajaran.


Oh tidak, apa yang aku pikirkan. Bagaimana bisa aku memikirkan hal itu. Batin Raehan dengan menggelengkan kepalanya cepat, menepis bisikan dan godaan setan yang terkutuk.


Sementara Agara terkekeh lucu, melihat wajah Raehan yang langsung bersemu merah. Layaknya buah strawberry yang matang.


"Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" goda Agara dengan menaik-turunkan alisnya. Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Raehan.


"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak suka. Baiklah kau yang akan tidur di ranjang, dan aku akan tidur di lantai. Sekarang kamu puas!" bentak Raehan dengan menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai. Ia langsung merebut bantal dan selimut yang tadi ia lemparkan pada Agara.


Sungguh miris nasibnya malam ini. ia yang memiliki kamar ini, tapi malah dirinya yang harus tidur di lantai. Sungguh sangat menyebalkan. Jika saja ia tahu Agara senekat ini, ia pasti akan mengangkat telpon pria pemaksa itu. Akan tetapi, waktu tidak bisa diputar.

__ADS_1


Raehan meletakkan bantal di atas karpet bulu yang ada di kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga ke dada.


Agara yang berada di atas ranjang menatap semua pergerakan Raehan tanpa berkedip. Ia takut jika ia berkedip maka ia akan melewatkan sesuatu.


Raehan yang merasa terus di perhatikan, membalikkan tubuhnya menghadap ke samping. Sehingga ia membelakangi Agara.


Agara hanya bisa tersenyum melihat tingkah marah Raehan yang sangat menggemaskan baginya.


"Seharusnya saat ini kamu bersyukur Rae, aku ada di sini, di kamarmu. Apa sebelum tidur kamu tidak ingin memandangi wajahku yang tampan ini?" cicit Agara dengan suara setengah berbisik.


Raehan membuka kelopak matanya seketika, lalu mendengus dengan kesal. Ia segera membalikkan tubuhnya menghadap pada Agara yang malah sialnya, tengah tersenyum ke arahnya.


Oh tuhan, senyumnya menggetarkan jiwaku. Batin Raehan yang tidak pernah bisa melawan pesona seorang Agara. Namun tidak, ia tidak boleh seperti ini.


"Kau jangan terlalu percaya diri, aku masih punya stok foto pria tampan di kamarku," timpal Raehan sinis, dengan melirik ke arah tembok di samping lemarinya.


Agara mengikuti arah ekor mata Raehan. Seketika bibirnya terbuka melihat deretan foto pria berwajah tampan yang di tempel di dinding. Agara bisa menebak jika foto-foto itu banyaknya sekitar seratus foto.


Glek!


Raehan tersenyum puas melihat wajah melongo Agara karna kaget.


"Jadi, turunkan sedikit kepercayaan dirimu yang tidak berguna itu," imbuh Raehan lalu berbalik memunggungi Agara.


.


Malam semakin larut. Gelap semakin pekat. Keheningan dan kesunyian menghiasi malam dingin tanpa cahaya.


Dengkuran halus terdengar beraturan, berpacu saling berlomba dengan suara detikan jam dinding. Agara membuka kelopak matanya dengan perlahan. Lalu berbalik menyamping ke arah Raehan yang terlihat sudah tidur dengan nyenyak.


Perlahan Agara bangkit dari baringannya, lalu berjalan perlahan mendekati Raehan. Agara menatap dalam wajah mungil Raehan yang terlelap. Terlihat begitu sangat damai. Tanganya terulur mengusap rambut Raehan yang lembut bak sutra. Lalu turun ke bawah pipi Raehan yang menyembul seperti kue mocchy.


"Cantik," lirih Agara dalam sunyinya malam.


Ke dua mata Agara terasa memanas, dan terlihat berair. Ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat, menahan rasa perih dalam dadanya.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu terus menjauhiku Rae? Aku tidak sanggup berada jauh darimu. Melihatmu memegang tangan pria lain, rasanya sangat menyakitkan. Aku ingin dirimu kembali padaku," gumam Agara dengan setetes buliran bening berhasil lolos jatuh di pipinya.


Perlahan tapi pasti, Agara mendekatkan wajahnya pada Raehan. Mengikis jarak antara dirinya yang begitu terasa jauh. Agara mendaratkan satu kecupan di kening Raehan.


"Aku janji, aku akan memperbaiki semuanya." Agara menyibak selimut yang di kenakan Raehan. Lalu membaringkan tubuhnya di samping gadis itu dan menarik selimut yang sama menutupi tubuhnya dan Raehan.


...----------------...


Pagi menjelang di iringi dengan sinar matahari yang menyilaukan mata. Raehan menggeliat dengan bibir menguap. Ia merentangkan tangannya ke atas, merilekskan otot-otot tubuhnya yang sudah kembali segar.


Raehan bangun dengan cepat, saat ia mengingat jika Agara semalam tidur di kamarnya. Ia segera menoleh ke arah ranjang. Namun, keningnya berkerut heran saat tidak menemukan pria tampan itu.


Raehan mengedarkan pandanganya ke seluruh sudut kamarnya. Menelisik dengan teliti keberadaan Agara. Namun, sepertinya hanya ia sendiri yang ada di kamar.


"Kemana Kak Aga? Apa dia sudah pergi? Tapi kapan?" gumam Raehan bermonolog dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya.


Raehan bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Apa Agara ada di dalam kamar mandi? pikir Raehan dengan menempelkan telinganya di daun pintu. Akan tetapi, tidak ada suara tanda-tanda jika ada orang di dalam.


Raehan memijat pangkal hidungnya. Kenapa ia memikirkan Agara di pagi buta seperti ini. Seharusnya ia senang pria itu sudah pergi dari kamarnya.


"Huhhhh, jangan pedulikan Kak Aga. Lebih baik aku segera bersiap berangkat sekolah," lirih Raehan mensugesti pikirannya untuk berhenti memikirkan Agara.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


Like


koment


gift


vote.

__ADS_1


__ADS_2