
...74...
"Memang nya apa salah nya jika aku sudah bertunangan..." Sahut Agara yang sengaja ingin melihat reaksi Raehan.
Sontak perkataan Agara membuat harapan Raehan hancur seketika.
Ternyata kabar yang ia dengar memang betul ada nya.
Astaga apa yang sekarang harus ia lakukan?
Apa ini akhir dari segala nya?
Ia tahu diri jika diri nya bukan lah siapa- siapa untuk pria di depan nya.
Mereka hanya berteman dan tidak lebih dari hal itu.
Tapi bagaimana dengan perasaan nya?
Bagaimana dengan cinta nya yang langsung di babat habis sebelum bisa tumbuh?
Rasa nya ia ingin terjun ke dalam jurang, untuk membuang seluruh rasa yang begitu menyesak kan dada.
Bahkan untuk bernafas, diri nya perlu untuk menarik oksigen yang terasa berat memasuki rongga hidung nya.
"Hiks... Hiks... Hiks..." Tangis Raehan semakin kencang, kini ia menutupi wajah nya dengan ke dua tangan nya.
Menyembunyikan wajah nya di balik telapak tangan, meluap kan rasa sakit serta hancur karna sebuah kenyataan yang pahit.
Raehan menelan saliva nya paksa, mengontrol air mata luka yang terus ingin mengalir.
"Lalu bagaimana dengan ku?" Tanya Raehan dengan lirih, sementara dada nya kini sudah bergemuruh sakit.
"Dengan mu? bukan nya kita hanya berteman?..." Sahut Agara yang sudah semakin ingin tertawa.
Ia sebenar nya tidak tega, melihat Raehan menangis. Tapi kali ini ia ingin melihat reaksi gadis itu.
Dan lihat lah sekarang gadis di depan nya menangis begitu kencang dengan menutupi wajah nya.
"Tapi aku mencintai mu..." Dengan satu tarikan nafas, Raehan menyatakan perasaan nya, biar lah hari ini ia hancur sehancur hancur nya.
Mengatakan perasaan nya pada Agara tanpa malu sedikit pun. Toh pria di depan nya juga bakal menolak nya.
Mengingat kan nya kembali dengan kenyataan yang pahit. Bahwa diri nya tidak akan pernah bisa menggapai bintang seperti Agara.
Diri nya hanya setumpuk abu yang tak akan pernah bisa menggapi bintang , meski dalam mimpi sekalipun.
Sudur bibir Agara tertarik tipis ke atas, menciptakan lengkungan kecil di bibir nya.
Entah mengapa, kejujuran Raehan begitu melegakan. Namun bagaimana dengan diri nya?. Yang tak ingin membalas perasaan gadis imut di depan nya.
Sudut bibir Agara semakin tertarik saat melihat wajah sembab Raehan yang merah, di tambah lagi dengan cairan kental yang merembes dari lubang hidung Raehan yang langsung membuat tawa nya pecah.
"Ha... Ha... Ha...." Tawa Agara terbahak- bahak. Raehan langsung mengusap kasar ingus yang meleleh jatuh di hidung nya.
__ADS_1
"Aku sedang patah hati, tega sekali kak Aga menertawai ku seperti itu..." Kesal Raehan dengan wajah memberengut.
"Soal nya wajah kamu jelek banget..."
"Kak Aga tidak usah mengatakan hal itu, aku sudah tahu dan sadar diri jika aku memang jelek... Gadis jelek seperti ku tidak mungkin pantas bersanding dengan mu.. Hiks... Kamu tidak salah memilih tunangan seperti kak Lessia, dia sangat jauh berbeda dan sempurna di bandingkan aku... Hiks...
Dia seperti bulan, sedang kan aku hanya seonggok rumput di bumi yang di injak para pejalan.
Dia begitu cantik sedang kan aku tidak, bahkan seujung kuku pun tidak bisa di sanding kan dengan kesempurnaan nya.
Anggap saja seperti antara cinderella dan sang upik abu..." Balas Raehan sendu, dengan kepala menunduk dalam.
Agara langsung menghentikan tawa nya.
Astaga, apa yang sudah ia lakukan, gadis sial nya kini benar- benar sedih.?
Wajah ceria secerah pelangi kini meninggal kan wajah gadis sial nya?
Bodoh nya diri nya mengapa ia bisa mengatakan hal seperti itu.?
Gadis sial nya pasti berpikir jika ia memang jelek dengan semua kekurangan yang ia miliki?. Batin Agara menyesal.
Hati nya terenyuh mendengar ungkapan Raehan. Ia tidak bermaksud seperti itu, diri nya hanya ingin mengerjai gadis sial nya.
Tapi lihat lah sekarang apa yang terjadi. Raehan benar- benar sedih.
"Berhentilah menangis, aku hanya bercanda dengan perkataan ku tadi... Aku bukan lah tunangan Lessia. Yah meski papa ku memaksa ku untuk bertunangan dengan nya. Tapi aku menolak hal itu..." Jelas Agara dengan nada menyesal.
Raehan langsung menolehkan wajah nya, menatap wajah tampan dan teduh di samping nya.
Menatap dengan lekat bola mata merah Agara, mencari kebohongan di sana.
Agara mengangguk pelan , mengiyakan apa yang sedang di pikir kan Raehan.
Ke dua bola mata yang sejak tadi bersimbah air mata, kini berbinar lebar.
Menampak kan cahaya indah akan sebuah harapan yang melambung tinggi.
"Eeee... Hiksss... Hiks...." Lagi - lagi tangis Raehan pecah, namun kini semakin kencang.
"Astaga kenapa masih menangis? Apa kamu sedih dengan jawaban ku..?" Terka Agara yang langsung panik.
"Kak Aga jahat, kenapa mengatakan kebohongan seperti itu, aku sakit hati dengan semua perkataan kak Aga... " Sarkas Raehan kini kembali memukul dada bidang Agara karna kesal.
Diri nya sudah capek- capek menangis, tapi ternyata semua nya tidak benar.
Laki- laki di depan nya sedang mengerjai diri nya.
"Ohh..jadi kamu memang ingin aku bertunangan dengan Lessia?"
"Tidak...!!" Teriak Raehan spontan, lalu memeluk Agara cepat.
Deg..
__ADS_1
Deg..
Deg..
Agara membeku di tempat, dengan nafas tercekat.
Darah nya terasa mengalir dengan cepat, dengan detak jantung yang bertalu keras.
"Jangan kata kan hal itu, aku tidak terima jika kak Aga bertunangan dengan Lessia..." Lirih Raehan, dengan menghirup dalam aroma khas yang menguar dari tubuh Agara.
Aroma yang begitu memabuk kan, aroma yang mampu membuat hati nya menjadi tenang.
Agara tidak mengubris perkataan Raehan. Diri nya masih sibuk diam mencerna apa yang tengah terjadi sekarang.
Di sudut atap, tepat pada pintu masuk. Dion berdiri membisu, dengan tangan terkepal kuat.
Meremas boneka yang ada di tangan nya, hingga patah dan berjatuhan di lantai.
Hati nya terasa di tikam ribuan belati , melihat di depan nya kini gadis yang di sukai nya memeluk pria lain.
Hati nya sangat perih, lagi- lagi ia melihat pemandangan yang menghancur kan hati nya.
Ingin rasa nya saat ini, ia menarik tubuh Raehan dan membawa nya pergi, persis ketika membawa gadis itu pergi dari Agara saat melihat mereka di danau.
Namun niat itu terhalang, karna rasa takut diri jya yang akan melukai Raehan persis ketika ia membawa gadis itu ke dalam ruangan nya.
Gigi Dion bergemelatuk keras, dengan rahang yang mengeras sempurna, serta urat- urat yang menonjol di setiap kulit nya.
Dengan berat namun pasti, Dion melangkah meninggal kan tempat itu, sementara tanpa ia sadari buliran bening kini menetes di sudut mata indah nya. Dengan hati yang hancur.
...----------------...
...****************...
Jangan bosan terus ya dengan karya othor๐๐๐
Terus pantangin cerita nya ya...
Like
koment.
Vote
gift.
Rak favorit.
Yuk dukung terus karya ini....!!!
kalo ngak koment atau like atau kasi gift..
Kalian benar- benar kejam ama thor๐ญ๐ญ๐ญ???
__ADS_1