Cinta Si Gadis Pendek

Cinta Si Gadis Pendek
Jangan di paksa


__ADS_3

...343...


Suara ayam jantan berkokok menandakan pagi telah menjelang. Suara cicitan burung yang saling bersahutan menambah keramaian pagi hari yang sejuk dan dingin. Sinar mentari mulai muncul di ufuk Timur dengan awan yang sedikit menutupi sinarnya.


Terlihat di dapur kontrakan, Raehan sedang bergulat dengan wajan di atas kompor dengan spatula di tangannya. Rambut pendek sebahunya, ia ikat ke atas sehingga menunjukkan leher putih gadis itu. Tatapan mata coklatnya tetap berfokus pada wajan yang ada di depannya. Pagi ini, ia membuat omlet untuk sarapan karena memang hanya bahan-bahan makanan itu yang tersedia di lemari es. Sepertinya, Fir sangat mengirit makanan.


Aroma omlet yang baru matang menggelitik indra penciuman Fir dan Miya yang masih asik bergelung di bawah selimut. Fir yang tidur di teras, perlahan membuka kelopak matanya yang masih terasa berat. Namun, cacing-cacing di perutnya sudah berteriak minta makan. Begitupula dengan Miya yang lansung bangun dan berlari keluar dari kamar.


"Wooaahh, harum banget!" pekik Miya dengan girang yang lansung duduk di meja makan, tanpa mencuci muka sebelumnya. Raehan tersenyum ringan mendengar pekikan senang Miya, yang terdengar seperti pekikan Lion.


Huhh, mengingat Lion membuat ia merindukan anak nakal itu. Raehan berjalan mendekat dengan tiga piring omlet di tangannya. Lalu, meletakkan ketiga piring tersebut di atas meja.


"Omlet, sarapan pagi!" seru Fir tak kalah girang.


"Ini pasti enak karena kan yang buat Raehan," puji Miya dengan mata berbinar dan air liur yang siap tumpah dari sudut bibirnya.


"Ahh, kalian kayak ngak pernah makan omlet aja. Ini omlet buatan rumah. Aku harap kalian suka," balas Raehan dengan merendah. Lalu, menarik kursi dan duduk.


"Jelaslah, kami bakal suka karena ini dibuat dengan penuh kasih sayang." Fir mulai menyendokkan omlet tersebut ke dalam mulutnya. Sementara Miya dan Raehan terkekeh lucu dengan ucapan Fir.


...----------------...


Di belahan bumi lainnya, tepat di kediaman Dion. Pria dengan wajah datar dan dingin tersebut tengah berolahraga. Sementara di set kitchen terlihat Kazuya sedang bermain dengan peralatan dapur.


Kaca penghalang dapur yang begitu bening, membuat Kazuya bisa melihat Dion yang tengah berolahraga di depannya. Sejak pulang dari semalam, Dion hanya diam dengan memasang wajah kesal. Niat hati ingin menanyakan apa yang terjadi, ia mengurungkan niatnya takut jika Dion marah dan semakin kesal.


"Ion, sarapan dulu!" seru Kazuya dengan setengah berteriak, membuat pria yang sedang mengenakan kaos oblong tersebut menghentikan kegiatannya da berjalan masuk ke dalam dapur.


Dion menarik kursi dan duduk tanpa ada suara. Hatinya saat ini sedang kesal dengan kejadian kemarin. Belum lagi, tentang Raehan yang hampir mati karena didorong masuk jurang. Ia merasa menjadi pengecut karena tidak bisa melindungi gadis mungil itu. Belum lagi dengan kehadiran Agara yang ada di sekitar Raehan membuat dirinya merasa tersingkirkan.

__ADS_1


Kazuya menghidangkan sepiring nasi putih dan juga tumis serta stik daging. Lalu, ia duduk tepat di depan Dion.


"Kamu ada masalah?" tanya Kazuya memecahkan keheningan. Dion menatap sekilas pada Kazuya, kemudian mengambil tumis serta stik.


"Aku merasa tidak berguna," jawab Dion datar. Lalu, menyuapkan makanan masuk ke dalam mulutnya.


"Kenapa?"


"Kemarin Raehan hampir mati."


"Hah?" Mulut Kazuya lansung membulat dengan kedua mata yang melebar dengan sempurna. Ia tidak salah dengar bukan? Tapi bagaimana bisa?


"Bagaimana mungkin?" sosor Kazuya dengan melempar pertanyaan lagi.


"Kiara yang melakukannya. Andai aku ada di sana, aku tidak akan membiarkan Raehan dalam bahaya. Rasanya, aku ingin sekali melenyapkan Kiara karena sudah berani melukai Raehan," umpat Dion dengan rahang yang mengetat.


"Dia selamat tapi ada banyak luka gores ditubunya. Akan tetapi, yang membuat aku kesal adalah Agara."


"Agara?"


"Yah, dia terus menempel pada Raehan, dan Raehan sepertinya sudah melupakan kemarahannya pada Agara. Aku merasa aku tidak punya tempat di hati Raehan. Sebenarnya, apa yang tidak aku lakukan untuk Raehan? Aku bahkan siap mengorbankan diriku untuk dia. Namun, kenapa Raehan tidak bisa menyerahkan hatinya padaku?" Suara Dion terdengar lirih syarat dengan duka dan rasa sakit. Terdengar sangat mengiris hati bagi Kazuya yang ikut merasa iba.


"Jika begitu, serahkan saja hatimu pada Anet."


Kedua mata Dion langsung melotot pada Kazuya. Ia tidak suka dengan perkataan Kazuya yang malah menyuruh ia menyerahkan hatinya pada Anet. Ia sedang sakit hati dan kesal tapi Kazuya bisa-bisanya berkata seperti itu.


"Apa yang kamu katakan?" bentak Dion dengan meletakkan sendok dengan kasar hingga berdentang.


Prang!

__ADS_1


"Aku tidak akan bisa melakukan hal itu karena aku tidak punya perasaan pada Anet. Aku tidak bisa memaksa hatiku untuk mencintai Anet karena di hatiku hanya ada Raehan," sarkas Dion dengan wajah semakin memerah karena kesal.


"Nah, itu yang aku maksud, Ion. Raehan juga tidak bisa memaksa hatinya untuk mencintai dirimu. Di hatinya hanya ada Agara karena dia mencintai Agara. Bukankah posisimu sama dengan Raehan. Lalu, mengapa kamu melempar kesalahan itu pada Raehan?"


Bibir Dion seketika bungkam. Lidahnya terasa kelu untuk membalas perkataan Kazuya yang terasa menghantam dan menghancurkan hatinya. Namun, apa yang dikatakan oleh Kazuya memang benar. Hati tidak bisa dipaksa kemana dia akan memilih dan berlabuh. Kenyataan itu terlalu sakit untuk ia cerna. Akan tetapi, perkataan Kazuya benar-benar mematahkan semangat dalam dirinya untuk membuat Raehan jatuh hati padanya.


"Apa maksudmu aku harus menyerah?" ucap Dion dengan kedua mata yang sudah memanas. Akan tetapi, ia menahan buliran bening yang hendak jatuh.


"Kamu sudah berjuang dengan sangat baik, Ion. Kamu selalu ada untuk Raehan, menjadi pelindung gadis itu. Kamu tidak perlu takut untuk menyerah karena hal itu adalah kebahagian untuk Raehan. Kamu tidak perlu menyiksa dirimu dengan rasa ingin menang karena hal itu bukanlah hal yang baik. Kamu hanya perlu membiasakan diri dan menekan perasaanmu pada Raehan. Biarkan Raehan memilih pria yang dia inginkan. Kamu bisa menjadi teman bagi Raehan, kan? Tapi jangan halangi perasaan Raehan." Dion menuntaskan perkataannya. Berharap jika apa yang baru ia katakan bisa membuat Dion bisa mengambil keputusan yang tepat.


Ia hanya tidak ingin Dion ataupun Raehan terluka. Mereka orang-orang yang sangat baik. Dion beranjak dari duduknya dan memilih untuk pergi meninggalkan Kazuya yang masih menatap dirinya dengan sendu.


Ada rasa sesak yang tengah meremas dada Dion dengan sangat kencang. Bahkan, ia tidak bisa bernafas dengan lancar. Dion memilih menenangkan diri di balkon, menghirup udara sejuk untuk menghilangkan rasa sesak yang mungkin tidak akan bisa hilang.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2